DetikNews
Jumat 17 November 2017, 14:56 WIB

Kolom

Dangdut, Mahasiswa, dan Perlawanan

Mutimmatun Nadhifah - detikNews
Dangdut, Mahasiswa, dan Perlawanan Orkes Melayu Pancaran Sinar Petromak (Foto: istimewa)
Jakarta - Pemerintah Orde Lama pernah mengeluarkan larangan masuknya musik Barat ke Indonesia. Pada masa itu, publik hanya mengenal alunan musik-musik melodius dari lagu-lagu nasionalistik. Sekarang, kita banyak mendengar alunan musik itu dalam acara-acara formal baik di sekolah, kampus dan lembaga-lembaga pemerintah tentu dengan busana yang rapi dan posisi tubuh yang tegak lurus. Maka, bagi pecinta musik, peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru menjadi ruang baru kecerdasan dan gairah musik di Indonesia. Kemerdekaan musik seperti mendapat ruang semestinya.

Kita bisa merasakan musik dari Barat menjadi musik yang paling diminati di kalangan mahasiswa dari dulu hingga sekarang. Dengan musik Barat, mahasiswa bisa mendefinisikan musik tak hanya sekedar hiburan tapi juga kemampuan berbahasa internasional, identitas intelektual, juga gaya hidup. Dari pengakuan teman yang ikut kursus Bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare-Kediri, musik Barat akan lebih meraung dari kamar-kamar kos anggota kursus, selain untuk menunjang kafasihan pronunciation, tentu sebagai gaya hidup kaum urban.

Dalam buku Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main (2016) yang dieditori Rudy Badil dan Indro 'Warkop', kita menemukan narasi Warkop (Warung Kopi) yang digawangi Dono, Kasino, Indro menjadi kelompok pertama yang mempopulerkan dangdut di kalangan mahasiswa lewat Radio Prambors, selain musik Barat. Tiga mahasiswa di masa peralihan politik Orde Lama ke Orde Baru ini memberi sumbangan besar tak hanya dalam dunia lawakan tapi juga intelektualitas di kampus dan Indonesia.

Pada 1979 dalam Koran Panduan Pagelaran Karya Cipta Guruh Sukarno Putra menyebut kelompok Warkop sebagai "tokoh pembangunan musik dangdut" di Indonesia. Tidak hanya musik dangdut, musik Barat juga menjadi sasaran Warkop untuk didangdutkan dan menjadi musik dengan lagu lawakan intelek ala mahasiswa. Lalu, muncullah istilah "Bardut" (Barat dangdut).

Ketegangan politik pada masa Orde Baru menjadikan Warkop sebagai hiburan yang dirindukan. Keahlian pemain-pemain Warkop dalam musik menjadikan kesempurnaan musik sebagai medium wajib lawakan. Dangdut yang semula dipahami sebagai musik "kampungan" beralih menjadi musik anak kota metropolitan. Dari sini, kita mengenal musik dangdut dalam kehidupan mahasiswa.

Kita bisa mengatakan bahwa musik dangdut bukan hanya sebagai narasi asmara picisan anak muda Jakarta. Lebih dari itu, musik dangdut bagi Warkop memberi nuansa perlawanan samar terhadap keresahan politik, ekonomi, dan kebebasan yang dikekang oleh rezim Orde Baru pada saat itu.

Dalam majalah Monitor Radio dan Televisi edisi 17 April 1980, kita bisa menjumpai lirik lagu dari Orkes Moral (OM) Pancaran Sinar Petromak (PSP) berjudul Gaya Mahasiswa. OM PSP adalah kelompok lawakan yang meniru model Warkop; berasal dari kampus yang sama, Universitas Indonesia. Kita bisa membaca liriknya: dateng ke kampus bawe buku tebel-tebel/ dandanan nyentrik bergaye model profesor/ ngaku di rumeh berangkat pergi kulieh/ sampai di kampus nyasarne ke kantin juge/ cari temen ngobrol sambil ngopi die paling doyan/ nyetanin temen ngajakin mbolos kulieh/ kelar kulieh die juge ikut pulang berlaga pilon kopinye lupa dibayar.

Sasaran kritik tidak hanya untuk kalangan pejabat politik tapi juga untuk kalangan mahasiswa sendiri. Sebagai sesama mahasiswa, mereka menyadari kehidupan mahasiswa semakin ruwet dan mahal. Buku bukan sebagai napas dan kitab suci yang wajib dibaca setiap detik sebagai pedoman dan kewarasan hidup. Buku dicukupkan hadir dalam beberapa hitungan mata kuliah. Jika jumlah mata kuliah di kampus dalam waktu delapan semester kurang lebih 60, kita bisa memastikan mahasiswa hanya memiliki buku sejumlah mata kuliah yang mereka pelajari, atau bahkan lebih sedikit dari itu, atau bahkan tidak sama sekali! Kalaupun bawa buku-buku tebel, buku itu bukan milik mereka tapi milik perpustakaan kampus --perpustakaan kampus yang sangat sulit, dan selalu terlambat menambah koleksi buku-buku terbaru maupun lawas!

Kita boleh percaya, buku-buku tebel lebih banyak hadir saat pemotretan mahasiswa-mahasiswi terpilih sebagai model kalender atau model plakat kampus. Buku tebel tidak lagi bertaut dengan penulis, penelitian, biografi keilmuan tokoh, juga penghormatan pembaca terhadap kerja penulis. Buku tebel dibawa hanya sebagai petunjuk posisi mereka di kampus. Kampus yang biasa merujuk pada ruang kota meneguhkan tanda dan posisi keberhasilan di masa depan. Posisi yang berbeda dengan ruang yang mereka tinggalkan, ruang kelahiran: desa asal mahasiswa.

Lirik selanjutnya bisa kita simak: deket ujian die sibuk foto-copy/ cari catetan colek sana colek sini/ waktu ujian hodingnye kayaknya ngerti/ udeh dua jam kertasnye belon diisi/ giliran pengumuman ujian keluar/ angkek-angkenye merah nggak satu birunye/ kalau ditanye knape ancur ujian lu/ jawabnye santai dosennye pede sentimen ame gue/ itulah die kisah seorang mahasiswe/ jangan dicontoh segala kelakuannye/ kalau pada mau tahu oh pade mau kenal/ nggak jauh-jauh nih die aye-lah orangnye.

Kita semakin mengerti, menggandakan materi dari dosen menjelang ujian adalah narasi mahasiswa di masa silam berlanjut hingga sekarang. Foto-copy menjelang ujian di zaman telepon pintar tentu tidak akan berlaku lagi. Mahasiswa akan lebih cerdik untuk menyimpan rangkuman materi selama perkuliah dalam bentuk soft file yang bisa mereka buka dari layar telepon mereka sebagai bahan contekan. Tentu aneh saat kita menyaksikan larangan-larangan menyontek masih menjadi peraturan di tingkat perguruan tinggi. Larangan itu menandakan model pembelajaran yang masih bertahan di wilayah 'menghafal', bukan mempertanyakan atau memperdebatkan pemikiran. Belajar menjadi aktivitas dengan durasi pendek demi angka-angka sempurna, dan masa depan kerja nyata. Akhirnya, kampus berakhir tanpa irama musik dangdut dan pemikiran yang menghebohkan.

Kita mengerti, musik dangdut sulit mengalami perkembangan karena tidak ada pemain dari kalangan anak muda. Sejak awal anak muda hanya sanggup mempopulerkan, bukan menjadi pemeran utama seperti yang terjadi pada Warkop. Sekarang, kita dipertemukan dengan kelompok musik dangdut terbaru, Libertaria dari Yogyakarta. Dengan paduan musik dangdut dan hip hop, lirik lagu tidak lagi seperti lirik lagu dangdut kebanyakan ala orang desa. Ada kombinasi musik modern dan lirik protes yang sengaja dimasukkan untuk merespons persoalan kekinian seperti kasus "papa minta saham", suburnya fesyen, hingga taksi berbasis aplikasi online.

D.N.A adalah salah satu judul lagu dari kelompok Libertaria dari album Kewer-Kewer, liriknya bisa kita nikmati: dulu minyak tanah/ sekarang elpiji/ naik ojek taksi pakai aplikasi/ perubahan jaman tak bisa dihindari/ tapi musik dangdut tak kan pernah terganti/ D.N.A!/ Dangdut neng njero ati/D.N.A!/ ayo goyang dadi siji/ D.N.A!/ aku ojo digocei/ D.N.A!/ Dangdut adalah solusi/ Lirik lagu di dalam dangdut telah mengalami perubahan dari dakwah, asmara picisan dua manusia ke kritik-sekuler.

Harian Kompas (Sabtu, 14 Oktober 2017) meliris berita bertajuk Dendang Milenial Dangdut Indonesia. Sebagaimana tertulis di berita, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) merasa memiliki tanggung jawab untuk mempopulerkan dangdut di kalangan generasi milenial dengan pengemasan musik, lirik, busana, dekorasi tempat, dan bahkan film sebagai sarana penyebaran musik dangdut di Indonesia. Bahkan ada usaha untuk memasukkan lirik bahasa Inggris ke musik dangdut demi pencapaian prestasi internasional.

Kita boleh mesem dengan berita ini. Rencana Bekraf pantas kita sambut dengan sinis. Selain keterlambatannya, pengajuan untuk memasukkan bahasa Inggris sebagai lirik dangdut tentu menjadi wagu kalau ingat dulu Warkop mendangdutkan musik Barat. Kerja Warkop tentu upaya 'penerjemahan' sekaligus cara Warkop memperkenalkan modernitas dengan gaya dangdut (tradisional). Saat dangdut dikehendaki 'menginternasional' dengan memasukkan lirik bahasa Inggris, dangdut akan semakin jauh dari Indonesia, bumi yang selama ini menjadi rumahnya.

Barangkali Bekraf juga lupa dangdut telah disebarkan lewat film-film Indonesia. Kita bisa dengan mudah menyebut film Mendadak Dangdut yang diperankan Titi Kamal sebagai film dari era baru yang memperkenalkan dangdut ke anak muda. Selain Mendadak Dangdut, film Laskar Pelangi yang diadaptasi dari novel Andrea Hirata menceritakan Mahar anak Sekolah Dasar Muhammadiyah Gantong yang sering berkalung radio itu memperkenalkan ragam musik di Bangka Belitung, termasuk musik dangdut dari lagu-lagu Rhoma Irama --bahkan foto Rhoma dipajang di tembok ruang kelas. Hal yang tak biasa di beberapa ruang kelas di Indonesia. Film-film ini telah mengusahakan pengenalan dangdut bagi kaum muda Indonesia, meski terus bisa kita ragukan pengaruhnya.

Kehadiran paduan musik dangdut dan hip dop mengingatkan kita saat lagu dangdut diputar di rumah-rumah orang desa. Mereka akan menggunakan sound dengan volume yang sangat keras. Dangdut bagi orang desa adalah kebersamaan, maka musik itu harus sampai di luar rumah, bisa didengarkan tetangga yang sedang menggendong anak atau yang hendak ke sawah. Tapi, lagu dangdut yang dinyanyikan Libertaria adalah lagu-lagu khas mahasiswa yang pantas dinikmati sendiri dengan headset atau beralih ruang ke bar.

Begitu juga dengan lirik-liriknya yang sangat memungkinkan untuk dikutip dalam spanduk-spanduk demonstrasi mahasiswa karena sasaran tema yang hampir sama, seperti korupsi dan fasilitas publik yang serba aplikasi. Tapi, cukuplah mahasiswa mengutip kata-kata hanya untuk kepentingan kuliah yang kerap dimanipulasi, dan demonstrasi urakan. Bertaubatlah untuk tidak selalu menuntut, mengumpat, dan menyesaki jalan. Berdangdutlah meski Raja Dangdut kita telah masuk ke dunia politik. Dangdut neng jero ati, ayo goyang dadi siji....

Mutimmatun Nadhifah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed