DetikNews
Jumat 17 November 2017, 14:08 WIB

Kolom

Pendidikan "Jaran Goyang"

Didik W. Kurniawan - detikNews
Pendidikan Jaran Goyang Foto: Screenshot YouTube PSM Universitas Jember
Jakarta - Aksi paduan suara mahasiswa Universitas Jember yang membawakan lagu Jaran Goyang dalam acara wisuda periode III tahun akademik 2017/2018 pada 4 November lalu menjadi viral. Lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi dangdut Nella Kharisma dan Via Vallen itu diaransemen ulang oleh kelompok T-Phata. Kemudian silang pendapat berdatangan. Muncul pertanyaan demi pertanyaan. Ada yang mempertanyakan, apakah seperti ini wajah dunia akademis kita saat ini. Namun, ada juga yang menganggap bahwa aksi tersebut bagian dari kreativitas pemuda-pemudi Indonesia.

Menjadi aneh dan membuat orang bertanya-tanya, apa tidak ada lagu lain yang bisa dibawakan? Karena mungkin lirik yang ada di dalam lagu Jaran Goyang tersebut secara lugas mengajak orang untuk memasuki dunia spiritualisme klenik. Diwakili setidaknya dengan tiga istilah: jaran goyang, semar mesem, dan tentu saja dukun. Tidak saya jabarkan dengan detail bagaimana lirik lagu tersebut, karena saya takut dituding sebagai agen yang ikut menyebarkan dan membuat lagu Jaran Goyang semakin dikenal.

Bagian awal lagu tersebut menceritakan permasalahan yang sedang dihadapi oleh orang yang ditolak cintanya. Ada dua jenis penyelesaian yang ditawarkan dalam lagu tersebut. Pertama, menggunakan apa yang disebut "jaran goyang", dan yang kedua dengan menggunakan "semar mesem". Mungkin sejenis ajian untuk menarik lawan jenis dengan cara yang tak kasat mata. Dalam lagu secara spesifik tidak disebut dengan 'ajian', melainkan 'jurus'. Bahwa era milenial sekarang ini, dunia klenik tetap dan masih menjadi bagian dari kehidupan kita.

Kenapa paduan suara yang dihuni oleh kalangan mahasiswa ini dengan sangat yakin dan percaya diri membawakan lagu yang memiliki lirik yang bertentangan dengan dunia akademis modern yang selalu berkutat dengan pembuktian secara ilmiah? Atau, lagu dangdut memang hanya dipahami dengan metode separatis dan parsial? Yaitu, menikmati ketukan ritmis ketipungnya, alunan melodi lagunya, namun mengabaikan liriknya? Tidak terlalu dipedulikan lagi pesan yang terkandung dalam lirik lagu tersebut? Yang penting mampu membuat senang pendengarnya, syukur bisa dengan leluasa dan tanpa malu-malu untuk berjoget? Lirik dalam lagu sudah tidak memerlukan penghayatan dari penikmatnya? Apakah seperti itu yang sedang melanda musik dangdut sekarang?

Dangdut sendiri memiliki sejarah yang cukup panjang. Kelahiran dangdut di bumi Nusantara ini bisa jadi membawa khazanah kebudayaan tersendiri jika kita cukup sabar menelusuri bagaimana dangdut bisa sampai bertahan sejauh ini. Bahkan sudah ada semacam klaim bahwa dangdut merupakan salah satu produk kebudayaan yang patut dibanggakan, karena dangdut hanya ada di Indonesia.

Menurut beberapa sumber, dangdut berakar dari musik Melayu yang ada di dalam pertunjukan teater Operan Bangsawan, serta dari kelompok-kelompok Orkes Melayu itu sendiri. Maka jika kita lihat pemberian nama kelompok musik dangdut, selalu menyematkan 'OM' di depannya. Yaitu singkatan dari 'Orkes Melayu'. Kemudian era 1950-an seiring merebaknya film-film Hindustan ke Indonesia, membawa pengaruh yang cukup signifikan dalam permainan musik Orkes Melayu. Awalnya orkes-orkes itu membawakan atau meng-cover lagu-lagu yang ada di film-film India dalam pertunjukannya. Namun, dampak dari meng-cover lagu-lagu tersebut adalah kelompok Orkes Melayu tersebut mendapatkan cibiran sebagai Orkes Melayu bergaya Hindustan karena dianggapkan kampungan.

Menurut Pono Banoe dalam buku Kamus Musik, 'dang-dut' adalah bentuk kata ejekan karena menirukan pola pukulan tabla dari India. Sejak saat itu kemungkinan istilah dangdut mulai merebak. Nama-nama penyanyi seperti Ellya Khadam dan A. Raffiq mulai dikenal. Ellya Khadam bahkan selalu bergaya India dalam setiap penampilannya. Salah satu lagunya yang terkenal sampai sekarang Boneka Cantik dari India.

Hingga di awal pemerintahan Orde Baru sekitar tahun 1970 yang membuka pintu sangat lebar bagi investor asing, turut andil dalam perubahan dinamika musik dangdut. Banyak musik-musik yang sedang populer di negara Barat --Amerika-Eropa-- masuk ke Indonesia. Sebelumnya musik-musik sejenis rock n roll sangat dilarang oleh pemerintahan Orde Lama. Musik rock itulah yang kemudian diadopsi oleh yang sekarang kita kenal sebagai Raja Dangdut, Rhoma Irama.

Rhoma Irama mulai mengemas dangdut dengan balutan melodi lagu rock dan sentuhan brass section. Tapi yang menjadi ciri paling menonjol dari Rhoma dan OM Soneta-nya adalah lirik yang ada di beberapa lagunya. Mereka tidak hanya berbicara soal tema cinta-cintaan, namun juga pesan-pesan yang dinilai lebih bermoral. Konten agama yang menyeru pada kebaikan dan semangat cinta Tanah Air ada di sana.

Musik dangdut mulai naik kelasnya. Musik dangdut tidak bisa dianggap sesuatu yang remeh meski awalnya hanya sebagai bahan olok-olokan. Tak hanya itu, musik dangdut seperti memiliki daya untuk beradaptasi dengan musik-musik yang sedang populer. Mansyur S dan Hamdan ATT menyanyikan lagu dangdut dalam balutan beat musik pop tahun 90-an. Dangdut bisa dipadukan dengan musik disko atau house music. Dangdut juga bisa dibawakan dengan nuansa humor. Sebut saja kelompok OM Pancaran Sinar Petromak (PSP) dari kalangan mahasiswa UI, dan OM Pengantar Minum Racun (PMR) yang pernah menjadi grup pengiring pelawak Kasino.

Eksistensi dangdut humor masih ada sampai sekarang di beberapa wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Salah satunya grup orkes Pemuda Harapan Bangsa (PHB). Jadi bukan baru-baru ini musik dangdut masuk ke kalangan kampus. Tak hanya itu, musik dangdut juga bisa dengan mudah menjalin hubungan dengan musik-musik etnik. Salah satu contoh yaitu kemunculan dangdut jaipong di Jawa Barat. Karena musik dangdut yang adaptif inilah kemudian kita mengenal istilah dangdut koplo, berasal dari Jawa Timur hingga kemudian pengaruhnya sampai di wilayah sepanjang Jalur Pantura.

Dari sana kita mulai mendengar nama Nella Kharisma dan Via Vallen, serta beberapa nama artis dangdut dengan jam terbang pentas yang menasional. Musik dangdut koplo yang marak sekarang ini dipengaruhi oleh pola permainan musik kendhang kempul dari daerah Banyuwangi. Sentuhan ritmis musik dangdut tidak hanya dihasilkan dari ketipung saja, melainkan dari bunyi-bunyi yang berasal dari kendhang gaya Banyuwangi. Tentu saja menghasilkan suara yang lebih beragam dan pola pukulan yang lebih beragam pula. Eksplorasi musikal dangdut terus dilakukan. Kalau ingin tahu, sila berselancar ke dunia maya dan ketik di mesin pencarian "Cak Mat New Pallapa". Kita akan tahu betapa beragamnya set ketipung dalam musik dangdut.

Sepertinya menikmati musik pada umumnya, khususnya dangdut bisa dilakukan secara parsial, kalau memang dianggap kurang cocok untuk disajikan secara umum. Apalagi untuk dunia pendidikan, karena mungkin, satu, liriknya yang terkesan "tidak senonoh" dan "vulgar", dan kedua selalu memberikan stimulan kepada tubuh untuk melakukan respons dalam bentuk joget. Kalau memang seperti itu, coba cermati dangdut dari rasa musikalnya. Meskipun menurut Andrew N. Weintraub, seorang etnomusikolog Amerika yang meneliti perkembangan musik dangdut di Indonesia, dangdut dan joget atau goyang tidak dapat dipisahkan.

Dalam amatan Andrew, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi ciri musik dangdut. Pertama, secara organologi, tentu saja keberadaan alat musik kendhang atau ketipung. Lalu, ada aktivitas berjoget antara penyaji di panggung dan tentu saja berinteraksi dengan audiens. Selanjutnya, masih menurut dia, penyanyi dangdut lebih dikenal daripada pemain musiknya. Misalnya, kita paham dan kenal siapa Rhoma Irama, tapi belum tentu tahu siapa nama pemain ketipungnya.

Memang ada hitam putihnya. Seperti yang diceritakan oleh Kedung Darma Romansa dalam novelnya yang berjudul Kelir Slindet (2014). Bahwa ada keterhubungan dangdut dan moralitas masyarakat. Lekat juga hubungannya dengan fenomenologi dunia klenik "jaran goyang". Sekali lagi, tinggal kita memilih melihat sisi yang mana. Karena bisa jadi lirik lagu Jaran Goyang hanya bersifat 'guyonan' semata dari seseorang yang ditolak cintanya.

Dan, perlu diingat bahwa PSM Universitas Jember tidak hanya sekali ini membawakan lagu dangdut dalam acara wisuda. Bisa dicek di kanal Youtube resmi mereka. Beberapa lagu populer sering dibawakan. Tentu saja dengan riang gembira. Perkara isi dan kedalaman lirik dalam lagu tersebut seperti apa, itu bukan masalah yang utama. Yang penting para hadirin terhibur, syukur Pak Rektor juga ikut bergoyang. Karena jelas lagunya berjudul Jaran Goyang, bukan Jaran Diam.

Didik W. Kurniawan alumnus Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta, sehari-hari bekerja di sekolah swasta di Solo


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed