Syafii, Amien, dan Muhammadiyah
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
- - Syafii Maarif dan Amien Rais, dua nama yang tidak bisa dipisahkan dalam pergumulan Muhammadiyah dalam sepuluh tahun terakhir. Kedua tokoh itu dipastikan tidak akan menjadi tampuk pimpinan PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah lima tahun ke depan. Syafii sudah mengaku lelah. Usianya sudah 70 tahun. Syafii mengibaratkan usianya itu sudah menjelang magrib. Tokoh dari Sumatera Barat yang bergelar profesor doktor ini lebih memilih akan menulis buku di usia senjanya. Amien Rais juga sudah memastikan tidak akan mengikuti pemilihan ketua umum PP Muhammadiyah 2005-2010 dalam muktamar Muhammadiyah ke-45 Juli 2005 di Malang. Bedanya, Amien masih sempat 'kepincut'. Bahasa Amien, dia ingin menuntaskan pengabdian Muhammadiyah yang sempat tertunda. Maksudnya, tentu saat memimpin PP Muhammadiyah 1995-2000, Amien belum memimpin sampai tuntas. Sesuai amanat Muktamar Muhammadiyah ke-43 di Banda Aceh, Amien harus memimpin Muhammadiyah sampai tahun 2000. Tapi, Amien harus mundur dari ketua PP Muhammadiyah pada 1998, karena dia didaulat menjadi ketua umum DPP PAN (Partai Amanat Nasional). Etika di Muhammadiyah, Amien harus mundur dari PP Muhammadiyah bila menjadi ketua umum partai politik. Sepeninggal Amien, Muhammadiyah dipimpin Syafii Maarif sebagai pelaksana tugas sampai tahun 2000. Dalam muktamar Muhammadiyah ke-44, Syafii terpilih menjadi ketua PP Muhammadiyah 2000-2005. Peran Amien dan Syafii memang tidak bisa dihilangkan dari eksistensi Muhammadiyah 10 tahun terakhir. Aktivitas Muhammadiyah menjelang dan pasca reformasi lebih banyak ditentukan dua tokoh ini. Keduanya juga teman dekat sejak mereka di Yogya. Amien dosen di UGM, Syafii dosen di IKIP Yogya. Keduanya juga sama-sama menuntut ilmu di negeri Paman Sam. Sekembalinya dari AS, Amien dan Syafii tetap berkhidmat di Muhammadiyah. Amien dikenal dengan tutur katanya yang tanpa tedeng aling-aling dan agak keras. Terkadang juga menggunakan sentilan-sentilan humoris. Sementara Syafii dikenal dengan tutur kata dengan pilihan bahasa yang dalam, cenderung nyastra, lebih lembut. Khas orang Minang! Tahun 2005 ini, kedua tokoh ini sama-sama tidak akan berada di atas panggung persyarikatan Muhammadiyah. Amien juga sudah lengser dari posisi ketua umum PAN pada April 2005 lalu. Di masa-masa terakhir keduanya di atas panggung, keduanya mendapat kesan yang berbeda di internal Muhammadiyah, organisasi massa yang membesarkan keduanya. Bila Syafii didorong-dorong untuk tetap maju sebagai ketua PP Muhammadiyah 2005-2010, tidak begitu Amien. Padahal, isu yang berkembang adalah 'pembeliaan' Muhammadiyah. Mengapa Syafii yang lebih sepuh didorong-dorong, sementara Amien yang lebih muda tidak didorong? Banyak alasan yang berkembang. Salah satunya, agar Muhammadiyah tidak dipolitisasi. Amien selama ini lebih dikenal sebagai politisi, meski ke-Muhammadiyahan-nya tidak diragukan lagi. Sejumlah perdebatan di media sempat muncul terkait keinginan Amien maju lagi menjadi ketua PP Muhammadiyah, meski gayanya tidak seperti cara politisi. Perdebatan hanya menggunakan bahasa-bahasan sindiran yang tidak langsung menohok. Kalimat 'Jangan sampai ada monopoli amal saleh' sempat didengungkan sebagai pesan bahwa perlu ada kaderisasi di tubuh Muhammadiyah. Setelah ada pertentangan dari dalam, Amien pun kemudian memastikan tidak akan ikut pemilihan ketua PP Muhammadiyah. Syafii juga tampaknya tidak kemaruk dengan kekuasaan. Dia tahu diri. Meski didorong-dorong, Syafii tetap tidak mau. Dia ingin lengser. Sikap Syafii ini membuat para tamu undangan dalam acara 'Refleksi 70 Tahun Syafii Maarif, Cermin untuk Semua' di Hotel Aryaduta, Jakarta pada Selasa (31/5/2005) malam bertepuk tangan. Setelah berpidato, Syafii disambut lagi dengan standing ovation. Ketokohan Syafii tampak tidak kalah dengan Amien. Dalam acara memperingati 70 tahun Syafii itu, tokoh-tokoh dari lintas profesi, agama, dan generasi menghadirinya. Sayang, Amien Rais tidak hadir ke acara itu. Padahal, Amien sudah diskenariokan untuk memberikan sambutan pertama sebagai penghormatan. Secara mendadak, stafnya memberitahukan bahwa Amien Rais sakit. Tentu, bila Amien datang, acara 'melepas' Syafii itu akan lebih menarik dan meriah. Sejumlah tokoh memberikan testimoni untuk Syafii. Antara lain, pengusaha Sudhamek, Pendeta Andreas Y Wangoe, Kardinal Wiraatmaja, KH Hasyim Muzadi, dan Din Syamsuddin. Selamat 'turun panggung' untuk Buya Syafii dan Pak Amien Rais! Sikap keduanya akan membuat Muktamar Muhammadiyah ke-45 bulan Juli 2005 di Malang semakin memantapkan agenda 'pembeliaan' pimpinan. Sudah saatnya, Muhammadiyah mengikuti jejak KH Mas Mansyur yang memimpin Muhammadiyah di usia 40-an tahun.
(Arifin Asydhad/)











































