DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 08 November 2017, 13:54 WIB

Kolom

Mengapa Kita Harus Berterima Kasih pada Hanung Bramantyo?

Dyah Paramita Saraswati - detikNews
Mengapa Kita Harus Berterima Kasih pada Hanung Bramantyo? Foto: Hanung Bramantyo dan Reza Rahadian (Febri/detikHOT)
Jakarta - "Sayang ya, cantik tapi bodoh," atau "Untung cantik, kalau nggak cantik, udah deh!" Kedua kalimat bernada miring tersebut seringkali terdengar ketika seorang perempuan yang dinilai memiliki kelebihan dari segi fisik melakukan suatu kesalahan. Perempuan kerap menjadi korban dari anggapan miring semacam itu.

Objektifikasi perempuan seringkali menuntut kaum perempuan untuk tampil cantik secara fisik. Perempuan juga dikenakan tuntutan untuk menjadi 'pajangan' yang bisa dikagumi secara fisik namun pasif. Perempuan seakan sesuatu yang harus 'ditatap' tanpa memiliki hak untuk 'menatap'.

Tentunya anggapan tersebut bukanlah hal yang benar, dan seharusnya masuk kotak. Pandangan seperti itu sudah usang dan digugurkan oleh banyak perempuan berprestasi dalam berbagai bidang.

Sayangnya, baru-baru ini komentar bernada objektifikasi perempuan justru keluar dari mulut seorang sutradara kenamaan yang pernah menggarap film biopik mengenai Kartini, Hanung Bramantyo. Tentunya tidak perlu dipertanyakan lagi siapa Kartini yang dimaksud; ia adalah pahlawan perempuan yang melawan ketimpangan gender dan memperjuangkan agar perempuan mendapat hak yang sama dengan laki-laki.

Hal ini bermula ketika sebuah media arus utama mengutip kalimat yang dilontarkan Hanung Bramantyo dalam sebuah wawancara mengenai film terbarunya, Benyamin Biang Kerok. Saat itu ia ditanyai, mengapa kembali memilih Reza Rahadian sebagai aktor di filmnya.

Hanung menjawab, "Susah menjadi aktor itu. Apalagi aktor pria ya. Kalau perempuan ya sudahlah, ibarat asal lo cantik, udahlah itu menjadi syarat." Setidaknya itu yang dikutip oleh penulis artikel tersebut.

Segera yang bersangkutan membuat konfirmasi dengan mengatakan bahwa si penulis menghilangkan konteks dari kutipan ucapannya. Hanung pun menuliskan bahwa ia hanya bercanda dan tidak bermaksud untuk merendahkan pekerjaan aktris perempuan.

"Kalimat saya: 'asal cantik doang' jg sy sampaikan tidak dalam konteks yg serius spt yg dikutipkan," tulisnya di akun Twitter dan Instagram miliknya. Sayangnya, Hanung tetap tidak menyadari bahwa ada sejumlah hal yang harus digarisbawahi dalam ucapan maupun klarifikasinya.

Yang pertama, pernyataannya baru saja memberlakukan standar ganda sekaligus menjadikan perempuan sebagai gender kedua di dalam dunia perfilman. Dengan mengatakan susah mencari aktor, dan mencari aktris lebih mudah, sadar ataupun tidak, Hanung menganggap tugas aktris lebih mudah ketimbang aktor. Padahal keduanya sama-sama harus mendalami peran dan dituntut memiliki kemampuan akting yang mumpuni untuk dapat membintangi sebuah film.

Kedua, Hanung telah melakukan objektifikasi terhadap perempuan. Secara tidak langsung, Hanung mengatakan perempuan 'hanya menjadi pajangan' karena kelebihan fisik yang dimilikinya.

Sedangkan dengan mengatakan "asal cantik", Hanung seakan melanggengkan anggapan usang "cantik tapi bodoh" seperti yang disebutkan di atas. Seakan-akan aktris hanya perlu modal cantik untuk menjadi popular, namun tidak bisa memiliki kemampuan berakting yang lebih unggul dibandingkan dengan aktor. Fatalnya, ia mengatakan hal tersebut dalam sesi wawancara, dan Hanung seakan tidak sadar mengenai posisi dirinya sebagai sutradara film box office.

Katakanlah, Hanung Bramantyo memang "hanya" keceplosan saat mengatakan demikian. Namun, pernyataan Hanung lagi-lagi memberi gambaran bahwa hingga kini, ketika sejumlah perempuan telah berhasil merebut perannya dalam sejumlah hal --baik di ranah publik maupun domestik-- ketimpangan akan pandangan gender masih saja hidup di kepala sejumlah orang.

Apa yang dikatakan Hanung menjadi penanda bahwa perempuan masih kerap menjadi objek, bahkan gender kedua yang terpinggirkan. Apa yang dikatakan Hanung barangkali membuktikan bahwa kemampuan perempuan masih saja kerap diragukan bisa sama hebatnya dengan laki-laki.

Barangkali kita harus berterima kasih kepada Hanung Bramantyo, karena ia telah "keceplosan" dan menyadarkan kita bahwa bias dan ketimpangan gender masih menjadi pekerjaan rumah kita semua.

Dyah Paramita Saraswati wartawan detikHOT. Tulisan ini pendapat pribadi


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed