DetikNews
Jumat 03 November 2017, 13:16 WIB

Kolom

Stereotip, Kuping Panci, dan Bara dalam Sekam Kebhinekaan

Arie Saptaji - detikNews
Stereotip, Kuping Panci, dan Bara dalam Sekam Kebhinekaan Arie Saptaji (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Seorang pria bersurban dan brewokan tengah menikmati makanan di piring kecil. Seorang pria bule mengamatinya.

"Are muslims allowed to eat that?" tanya si bule.

"Sir, I'm Sikh."

"O shit man, get well soon."

Humor di atas menggunakan permainan kata. Sikh terdengar mirip sick (sakit), dan si bule salah dengar sehingga responsnya melenceng.

Di tataran lain, humor itu mewakili stereotip. Tampaknya si bule beranggapan bahwa orang yang bersurban dan brewokan itu pasti muslim. Ketika pria Sikh itu berusaha mengoreksinya, alih-alih memastikan pendengarannya beres, si bule bersikukuh pada prasangka subjektifnya sehingga responsnya pun meleset. Mana tahu ia bila orang Sikh justru dilarang menyantap daging halal? Bisa jadi ia pun tidak tahu kalau orang Sikh itu ada.

Stereotip memang susah ditepiskan. Hijab nyaris diidentikkan dengan busana perempuan muslim, padahal perempuan dari berbagai tradisi iman juga terbiasa mengenakan busana tertutup serupa. Ketika melihat pria muda bercelana cingkrang, orang bisa jadi segera mengira ia orang muslim fanatik, tetapi siapa tahu ia fans garis keras Michael Jakson?

Jika pelaku penembakan orang kulit hitam atau muslim, media menyebutnya teroris; bila pelakunya orang kulit putih, media menyebutnya penderita gangguan mental. Ketika ada orang atau partai mendukung politisi idola kita, tak ayal kita membaptisnya sebagai orang dan partai yang baik. Dan seterusnya. Dan sebagainya.

Ada stereotip yang nisbi tidak berbahaya, malah bisa bermanfaat. Stereotip tertentu mungkin ada benarnya, tetapi lebih besar kemungkinan kelirunya, dan kemudian kekeliruan ini berkembang jadi perspektif yang picik dan tidak adil.

Saya mengamati warung makan yang pelanggannya banyak orang Cina menunya pasti enak, dan tebakan saya 93% benar adanya. Lain soalnya kalau kita menyebut orang Cina itu kikir. Tidak sedikit orang Jawa yang kikir minta ampun, bahkan terhadap saudaranya sendiri. Sebaliknya, banyak sahabat Cina saya yang amat murah hati, bahkan ada yang ikhlas memberikan beasiswa pada anak orang Jawa yang baru dikenalnya. Lalu, kenapa stereotip kikir tidak dilekatkan pada orang Jawa?

Stereotip adalah sebentuk kemalasan. Kemalasan berpikir. Enggan mencari informasi lebih jauh. Tergesa mengambil kesimpulan secara gampangan. Berangkat dari prasangka subjektif yang cenderung keliru, kita menganggap pandangan tertentu sudah final. Tak perlu didiskusikan lagi. Tabu meragukan dan mempertanyakannya.

Stereotip lebih suka menegakkan tembok daripada membentangkan jembatan. Stereotip membekukan sesuatu, seseorang, atau suatu golongan dalam label yang seakan tak terbantahkan. Stereotip, dengan demikian, berkawan erat dengan kepicikan. Dengan pola pikir biner yang kolot.

Menurut Richard Rohr, pikiran yang dualistis membaca dunia dalam oposisi biner yang menyederhanakan persoalan —baik dan buruk, benar dan salah, kawan dan lawan, pribumi dan asing— dan merasa bangga dan bijak dikarenakan berdiri teguh di salah satu pihak. Jika terus seperti ini, kita tak bakal beranjak ke mana-mana. Ini seperti memelihara bara dalam sekam. Seperti menimbun bom waktu.

Dalam era digital, dengan maraknya interaksi melalui media sosial, dampak stereotip dan pola pikir biner ini kian pelik. Salah satunya adalah merebaknya "budaya komentar", salah satu persoalan utama bangsa ini yang disoroti Karlina Supelli dalam Pidato Kebudayaan pada 2013 yang bertajuk Kebudayaan dan Kegagapan Kita. Menurut Karlina, sebagian anggota masyarakat sudah merasa hebat dengan berkomentar pendek melalui media sosial.

"Ada problem yang sangat serius, tapi ditanggapi dengan cara yang sekadar komentar-komentar pendek, tidak ada kedalaman," katanya. Mudah diduga, stereotip dan pola pikir biner banyak mencuat dalam komentar-komentar pendek tersebut.

Mau tak mau, jika merindukan kehidupan bersama yang harmonis, kita perlu mengatasi dan mengeliminasi stereotip. Suatu langkah awal yang dapat diambil adalah mengembangkan kebiasaan untuk mendengarkan dan berempati. Tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Bersedia mempertimbangkan pandangan yang berbeda, bahkan yang berlawanan dengan pandangan pribadi kita. Dan, mengikuti siasat kebudayaan yang ditawarkan Karlina Supelli, membangkitkan kembali kebiasaan berpikir serius, bukan sekadar melempar komentar.

Soal mendengar ini, Y.B Mangunwijaya dalam Ragawidya mencatat ungkapan Belanda yang bisa memerahkan telinga, yaitu oost-indisch doof alias "tuli gaya Hindia-Timur." Istilah ini mengacu pada "seseorang (biasanya pelayan/jongos) yang sungguh-sungguh sadar bahwa ia dipanggil, tetapi karena segan dan tak senang ditambahi pekerjaan atau soal, pura-pura tidak mendengar."

Ungkapan tersebut bisa jadi stereotip, bisa pula dianggap kritik yang memang pedas, tetapi jenaka dan ada benarnya. Karena itu, dapat disikapi sebagai ajakan untuk berinstrospeksi dan memperbaiki diri.

Waktu kecil, salah satu nasihat yang kerap disampaikan orangtua, "Kalau punya kuping itu mbok dipakai untuk mendengarkan. Jangan jadi kuping panci!" Anda tentu sudah menduga maksudnya: kuping yang menempel di kepala, tapi tak berfungsi. Apa yang masuk lewat lubang telinga kiri, dengan leluasa lolos begitu saja dari lubang telinga kanan. Tanpa mampir ke otak, apalagi ke dalam hati! Begitulah sikap kita sering ketika orang lain tengah berbicara.

Tak jarang pula kita mendengar dengan sikap memasang kuda-kuda. Alih-alih berusaha memahami maksud si lawan bicara, pikiran kita justru disibukkan oleh apa yang akan kita lontarkan setelah orang itu selesai berbicara. Kita cenderung defensif, berusaha membela dan membenarkan apa yang kita rasakan atau apa yang kita pikirkan. Kita juga tidak ingin terlihat buruk di hadapan orang lain. Atau, kita menyiapkan serangan balik dengan menyalahkan pihak lain. Tak heran kalau jalur komunikasi serba tumpat-padat, dan pertikaian gampang meledak.

Perlu kerendahan hati untuk belajar mendengarkan secara sungguh-sungguh, dan menanggalkan kecenderungan membela diri ini. Tanpa kesediaan itu, jembatan komunikasi kita jelaslah goyah.

Sebuah kecakapan mendasar yang mesti dikembangkan untuk dapat berkomunikasi dengan baik tidak lain adalah empati. Kecakapan berempati adalah kemampuan untuk memahami atau paling tidak membayangkan apa yang dikomunikasikan oleh orang lain. Acap kita terlena oleh perasaan dan kebutuhan kita sendiri sehingga abai terhadap kebutuhan orang lain. Untuk itu, kita perlu belajar mendengarkan orang lain, bukan secara sambil lalu, melainkan secara sungguh-sungguh, menempatkan diri dalam posisi lawan bicara, dan kemudian menanggapi dengan semestinya.

Dalam The Tale of Desperaux, Kate DiCamillo menguraikan arti empati secara menarik. Empati, menurutnya, berarti "ketika kau dibawa dengan paksa ke ruang tahanan bawah tanah, ketika punggungmu ditodong dengan pisau besar, ketika kau berusaha bersikap berani, kau masih mampu memikirkan sejenak orang yang memegang pisau itu." Saat ditimpa tekanan berat, bahkan saat diserang lawan, empati tetap perlu diberi ruang.

Jika kita sungguh-sungguh berupaya menembus sekat-sekat stereotip dan mengembangkan empati terhadap liyan, belajar saling menyimak dan mendengarkan, kita bisa bersama-sama merayakan dan mendayagunakan kebhinnekaan.

Terbebas dari stereotip, kita bakal mendapati banyak kejutan. Orang yang sekujur tubuhnya penuh dengan tato ternyata begitu baik dan berbudi. Sebaliknya, orang yang saban Minggu rajin beribadah di gereja, siapa menduga begitu culas dan licik?

Namun, kalau kita bersikeras mempertahankan stereotip dan sikap kuping panci, sok tahu, lekas berkomentar, malas bertanya, enggan berpikir kritis, kita akan terbelenggu kepicikan, hidup dalam ketegangan dan kecurigaan satu sama lain. Ini bara dalam sekam itu, bom waktu yang mencemaskan bagi kehidupan kita berbangsa.

Paling tidak kita akan terjebak dalam lingkaran setan miskomunikasi konyol seperti yang dialami orang Batak dan orang Jawa berikut ini. Siang-siang seorang mahasiswa baru melintasi kawasan Pengok, Yogyakarta. Di kiri jalan berderet bakul "Es Dawet Ayu Banjarnegara". Ia mampir ke salah satu bakul. Bapak yang berjualan sedang sibuk mencuci dan membereskan gelas-gelasnya.

"Beli dawetnya, Pak," pesannya. Caranya mengucapkan "dawet" segera menunjukkan asal-usulnya.

"Wah, sampun telas, Nak," jawab bapak itu dalam bahasa Jawa halus, yang artinya sudah habis.

"Ya, Pak, pakai gelas. Aku minum di sini saja."

"Sampun boten wonten," penjual itu menegaskan. Maksudnya, sudah tidak ada.

"Ya, Pak, santannya yang banyak!"

"Welah, rada edan cah iki!" gerutu si penjual, mengira pemuda itu agak kurang waras.

"Hah, tahu pula Bapak ini kalau aku dari Medan?!"

Arie Saptaji penulis, penerjemah, editor, dan penggemar dawet ayu minum di tempat


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed