Kolom

Mencari Rumah Baru bagi Badak Jawa

Azhar - detikNews
Rabu, 01 Nov 2017 14:16 WIB
Foto: Dok. Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Jakarta - Inisiatif habitat kedua atau second habitat bagi badak jawa (Rhinocerus sondaicus) telah sekian lama didengungkan. Namun, hingga saat ini gagasan tersebut belum berhasil diimplementasikan. Aspek ekstra kehati-hatian para pihak yang terkait menghantui rencana untuk menciptakan habitat kedua bagi badak jawa; sepertinya banyak pihak yang masih ragu-ragu.

Padahal inisiasi tersebut sudah tertera dalam kebijakan resmi negara, tertuang dalam dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak di Indonesia Tahun 2007 untuk mengembangkan habitat atau populasi kedua selain di Taman Nasional Ujung Kulon. Tujuannya untuk menghindari keberadaan populasi di satu habitat, dan untuk menyediakan habitat yang lebih luas bagi badak jawa.

Hal itu juga tertuang dalam Permenhut No. 43 Tahun 2007 yang berisi tiga rencana jangka pendek yang perlu dilakukan oleh para pihak bagi usaha konservasi badak Jawa. Pertama, upaya untuk meningkatkan populasi badak jawa sebesar 20 persen; kedua, membangun populasi kedua badak jawa; ketiga, membangun suaka badak jawa.

Kondisi saat ini, badak jawa hanya berada di Pulau Jawa. Sementara, di Vietnam sudah dinyatakan punah sejak Oktober 2011 (IRF, 2011; WWF, 2012), yakni sejak IUCN menyatakan bahwa badak jawa yang terdapat di Taman Nasional Cat Tien Vietnam punah pada akhir 2011.

Pada masa lalu badak jawa tersebar di beberapa tempat di Pulau Jawa hingga Sumatera. Kini, badak jawa hanya bertahan hidup di Taman Nasional Ujung Kulon dengan populasi yang menurun --pada 1962 tinggal 25 invividu. Karena pengelolaan yang baik dan intensif, populasi badak jawa telah meningkat signifikan, bertambah dua kali lipat hingga berjumlah sekitar 67 individu (BTNUK, 2016).

Beberapa faktor seperti bencana alam, wabah penyakit, perburuan, perambahan, dan persaingan merupakan ancaman bagi kelestarian badak jawa. Sehingga, perlu disiapkan kantong-kantong habitat di luar Taman Nasional Ujung Kulon yang didasarkan atas kajian ilmiah, kebijakan, kelembagaan, sosial, dan teknis.

Translokasi Badak Jawa

Dahulu badak jawa tersebar merata di Pulau Jawa terutama di bagian Tengah dan Barat (Talbot, 1960). Yakni di Wonosobo (1833), Nusakambangan (1834), Telaga Warna (1866), Gunung Slamet (1867), Gunung Tangkuban Perahu (1870), Gunung Gede dan Pangrango (1880), Gunung Papandayan (1881), Gunung Ceremai (1897), sekitar daerah Karawang (1912), dan Tasikmalaya (1934) (Hoogerwerf,1970).

Dikarenakan badak jawa pernah berhabitat di belahan lain Pulau Jawa, maka untuk menyelamatkan yang terkonsetrasi di Taman Nasional Ujung Kulon diperlukan translokasi (pemindahan) atau pelepasan satwa dari suatu lokasi ke lokasi lain di Pulau Jawa —begitu idealnya.

Beberapa karakteristik spesies yang rentan kepunahan seperti badak jawa yaitu populasi sedikit, ukuran populasi kecil, dan hanya terdapat di satu areal dengan daerah sebaran yang terbatas. Oleh karena itu, upaya untuk menjamin kelestarian populasi badak jawa perlu dilakukan dalam jangka panjang. Berdasarkan hal tersebut maka tindakan translokasi perlu dilakukan terhadap badak jawa dengan tujuan untuk membangun populasi baru yang sesuai, dan menghindarkannya dari ancaman kepunahan.

Beberapa pertimbangan yang dapat digunakan dalam melakukan kegiatan translokasi adalah habitat yang sesuai dengan Taman Nasional Ujung Kulon, status kawasannya merupakan hutan negara, terutama merupakan kawasan konservasi. Translokasi harus mendapat dukungan semua pihak secara penuh, baik dari pemerintah pusat dan eaerah, masyarakat sekitar, dan LSM (lokal dan internasional). Sebelum dilakukan kegiatan translokasi, harus didahului dengan sosialisasi kepada pemerintah eaerah, LSM, dan masyarakat sekitar yang menjadi tujuan translokasi.

Lokasi Alternatif

Beberapa penelitian telah dilakukan oleh pemerintah dan mitranya untuk mencari lokasi habitat kedua bagi badak jawa di Pulau Jawa, seperti di Taman Nasional Gunung Halimun, Cagar Alam Leuweung Sancang, Garut hingga Suaka Margasatwa Cikepuh, Sukabumi. Dari hasil penelitian tersebut, yang dinilai paling sesuai adalah Suaka Margasatwa Cikepuh dengan luas mencapai 8.127 hektar, keadaan topografi sebagian besar berbukit-bukit, ketinggian berkisar antara 0-250 meter di atas permukaan laut.

Lokasi Suaka Margasatwa Cikepuh sesuai dengan karaktersistik habitat badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Maka, saatnya menjatuhkan dan memutuskan pilihan ke Suaka Margasatwa Cikepuh sebagai habitat kedua badak Jawa, berdasar contoh langkah aplikatif dan progresif sebelumnya. Pemerintah dan mitra sebelum ini telah berhasil membuat beberapa suaka bagi satwa liar —bisa disebut habitat kedua— dengan melakukan translokasi dan re-introduksi badak sumatera dengan nama Suaka Rhino Sumatera di Pusat Pengembangbiakan Badak Sumatera di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Lampung pada 1996.

Contoh keberhasilan lainnya adalah re-introduksi orangutan sumatera di Cagar Alam Jantho, Aceh Besar yang dikelola BKSDA Aceh pada 2009. Sedangkan contoh terdekat lainnya di Pulau Jawa sendiri adalah pelepasliaran owa jawa (Hylobates moloch) di kawasan Hutan Lindung Gunung Malabar, Jawa Barat yang dikelola Perum Perhutani pada 2012. Menjadi pertanyaan, kenapa begitu sulit bagi badak jawa untuk dilakukan translokasi ke habitat kedua? Atau, pemerintah dan mitra masih trauma dengan punahnya harimau jawa?

Sudah saatnya dan selayaknya habitat kedua badak jawa dicoba dan diuji di Suaka Margasatwa Cikepuh setelah lebih dari 10 tahun inisiasi ini jalan di tempat. Pemerintah harus mengambil langkah tegas dan inovatif untuk pembaharuan habitat badak jawa, sebab telah ada puluhan analisis ilmiah dan beragam rencana sosialisasi serta anggaran untuk keputusan tersebut. Aspek ekstra hati-hati dan keraguan harus dihilangkan; pemerintah, mitra, dan semua pihak terkait bersatu untuk menyelamatkan badak jawa dari kepunahan. Badak jawa butuh rumah baru. Cikepuh rumah baru badak jawa.

Azhar pengamat satwa liar Indonesia, aktivis lingkungan
(mmu/mmu)