DetikNews
Rabu 01 November 2017, 12:20 WIB

Kolom

Harmonisasi dalam Wisata Pecinan

Shela Kusumaningtyas - detikNews
Harmonisasi dalam Wisata Pecinan Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Wujud toleransi dan harmonisasi di Indonesia telah ditunjukkan lewat berbagai hal. Misalnya, pengoptimalan kawasan pecinan di beberapa kota di Indonesia yang disulap menjadi kawasan wisata. Sebut saja di Kota Semarang, Solo, dan Bandung. Kawasan ini memberi contoh kepada masyarakat bagaimana perbedaan tidak menjadi penghalang untuk saling menghargai dan menghormati. Semuanya melebur dalam perpaduan apik karena satu rasa kebanggaan yakni kami Indonesia.

Kawasan Pecinan di Kota Semarang misalnya, terbilang berhasil menampilkan contoh sinergitas. Keberadaan kawasan ini bersisihan dengan Kampung Arab, Kampung India, dan Kampung Jawa. Masing-masing kampung tetap menyuguhkan budaya mereka lewat tradisi, bentuk-bentuk bangunan, serta komoditas yang diperdagangkan.

Pecinan di Semarang berkembang sebagai salah satu wisata yang diperhitungkan di kota yang terkenal dengan ikon Lawang Sewu tersebut. Setiap malam pada akhir pekan, di Pecinan Semarang rutin terselenggara perhelatan Semawis. Konsep yang diusung berupa gerai-gerai yang menjajakan aneka kuliner di sepanjang jalan di Gang Warung.

Pengunjung bebas mampir dan menjajal aneka makanan yang ingin dibeli. Makanan yang dijual tidak terbatas khas pecinan, namun bisa juga dijumpai makanan kekinian dan kudapan legendaris khas Semarang seperti jamu jun, es hawa, es durian, dan pisang planet. Di sana, lumrah ditemui warga beraneka etnis hiruk pikuk memilih santapan yang diinginkan tanpa mempermasalahkan perbedaan yang ada.

Pada siang hari, kelenteng-kelenteng di pecinan juga kerap menjadi jujukan para wisatawan. Pengelola tempat ibadah tersebut tidak keberatan selama pengunjung tidak merusak dan mengganggu aktivitas ibadah yang tengah dijalankan. Pengelola pun berbaik hati menerangkan kepada pengunjung yang membutuhkan informasi soal kelenteng tersebut. Betapa kemajemukan turut bahu-membahu menyebarkan suka cita kerukunan.

Di kompleks Pasar Gedhe Solo juga tersuguh bagaimana etnis Tionghoa dan etnis Jawa berasimilasi lewat proses pernikahan, perdagangan, dan berbagai bentuk kerja sama. Sehingga terjadi pencampuran yang dinamis dan menghasilkan kekayaan budaya. Di kawasan tersebut biasa diadakan rangkaian acara menyambut Imlek berupa Gerebeg Sudhiro. Kegiatan tersebut kental dengan persilangan budaya antara Tionghoa dan Jawa. Ini menjadi agenda wisata yang mampu mengundang banyak massa. Lagi-lagi, kerukunan dalam perbedaan memberi keuntungan bagi pendapatan daerah.

Menepis Etnosentrisme

Wisata Pecinan mengajarkan masyarakat bagaimana menepis sikap etnosentrisme. Berasal dari kata dalam bahasa Yunani "ethos" (orang atau bangsa) dan "ketron" (pusat: terpusat pada satu kelompok budaya), etnosentrisme didefinisikan sebagai sikap terlalu membanggakan kebudayaan yang dibawa, dan merendahkan kebudayaan lain di luar yang dianut individu tersebut.

Etnosentrisme meyakini bahwa in group-nya berkedudukan lebih tinggi atau superior daripada out group-nya. Ini merujuk pada sikap yang tidak ingin mengakui adanya kebudayaan lain yang lebih baik; kebudayaan lain dipercaya lebih buruk. (Taylor, Peplau, dan Sears, 2000). Pandangan dan cara hidup individu diterapkan sebagai standar untuk menilai kelompok lain.

Tidak seorang pun lahir dengan perilaku etnosentrik. Ia dipelajari, paling tidak untuk tingkatan tertentu. Persoalan muncul bukan dari perasaan bangga terhadap budayanya, tetapi "kesimpulan yang tidak perlu" bahwa budaya lain adalah inferior. Simbol etnisitas, agama, atau kebangsaan in-group menjadi objek kebanggaan dan kehormatan, sebaliknya simbol-simbol dari out-group menjadi objek penghinaan dan kebencian.

Jika etnosentrisme dibiarkan berkembang tentu membahayakan. Bisa-bisa individu tersebut tidak lepas dari konstruksi buruk yang telanjur ia bangun soal kebudayaan lain. Dengan demikian, evaluasi yang dihasilkan ikut terpengaruh. Sikap yang tidak beralasan terhadap out-group yang didasarkan pada komparasi dengan in-group. Prasangka berisi hal-hal yang tidak rasional, atau kebencian terhadap sebuah kelompok budaya/agama. Prasangka merupakan wujud dari kebutaan budaya (cultural blindness), karena menghalangi individu untuk melihat realitas secara akurat.

Etnosentrisme muncul karena tiap-tiap budaya berfokus pada masing-masing tanpa mau bersinggungan dengan budaya lain. Lantas, timbul semacam rasa khawatir identitas budayanya lenyap lantaran adanya superioritas dan inferioritas. Beruntungnya, wisata Pecinan di beberapa kota telah menghapuskan dinding superioritas dan inferioritas. Interaksi dan komunikasi antarbudaya berlangsung harmonis. Tidak ada eksklusivitas yang tampak. Tidak ada penggilasan budaya satu sama lain.

Menurut Hogg (2003), kebudayaan lahir dan lestari lewat interaksi manusia. Kontak antarmanusia mengakibatkan budaya terbebas dari jerat isolasi. Relasi masing-masing budaya memberikan pengajaran ke setiap budaya yang terlibat. Proses inilah yang disebut akulturasi.

Sebagai antisipasi timbulnya kecemasan, depresi, dan psikopatologi dampak dari akulturasi dibutuhkan kemampuan beradaptasi secara sosiokultural dan psikologis. Komunikasi merupakan sarana yang menjadikan individu sadar, dan menyesuaikan diri dengan sub-budaya dan kebudayaan asing yang dihadapinya.

Kebudayaan dirumuskan, dibentuk, ditransmisikan, dan dipelajari melalui komunikasi. Kebudayaan menyebabkan orang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan alam serta lingkungan sosialnya. Lantas tercetuslah komunikasi antarbudaya.

Komunikasi antarbudaya dipahami sebagai proses transaksional, proses simbolik yang melibatkan atribusi makna antara individu-individu dari kultur yang berbeda (Gudykunst dan Young Yun Kim, 1997). Semakin tinggi mobilitas fisik orang-orang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan bertemu dengan manusia yang berlatar belakang budaya yang berbeda, kesadaran pribadi akan pentingnya komunikasi antarbudaya kian terasa.

Shela Kusumaningtyas alumnus Ilmu Komunikasi Undip


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed