detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 29 Oktober 2017, 10:06 WIB

Kolom

Menyegarkan Kembali Nilai-nilai Kejuangan Pemuda

Ridwan Kamil - detikNews
Menyegarkan Kembali Nilai-nilai Kejuangan Pemuda Foto: Tri Ispranoto
Jakarta - Ketika para pemuda dari berbagai suku berkumpul pada 28 Oktober 1928 di Jakarta, kehadiran mereka didasari sikap keprihatinan dan munculnya sikap kritis terhadap kondisi bangsa yang terjajah.

Para pemuda saat itu sadar bahwa persoalan kebangsaan tidak dapat diatasi hanya oleh segelintir individu atau kelompok, tetapi harus dilakukan dengan dasar kesatuan dan persatuan yang diwujudkan dalam pekik ikrar yang kemudian menjadi sejarah: Kami Pemuda Indonesia, bersumpah; bertanah air satu: Tanah Air Indonesia; berbangsa satu: Bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan: Bahasa Indonesia.

Waktu pun terus berjalan 89 tahun lamanya, sejak sumpah pemuda dibacakan. Zaman pun telah berubah. Namun persoalan yang dihadapi oleh kita sebagai bangsa tetap sama. Kita memang telah merdeka, namun masih belum mampu menihilkan ketimpangan sosial dan ekonomi serta rapuhnya kemandirian bangsa, yang apabila tidak disikapi secara cerdas dipastikan akan membuat negara ini terjebak pada kondisi keterjajahan dalam bentuk yang lain.

Kita tidak dapat memungkiri kenyataan, karena masih adanya kesenjangan ini, selain bertentangan dengan cita-cita NKRI serta mengingkari amanat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, kita juga mewarisi budaya dan semangat juang para pemuda yang sejatinya menjadi modal untuk terus bergerak, bekerja bersama memperbaiki kualitas hidup dan kehidupan demi tegaknya martabat bangsa dan negara.

Oleh karena itu, peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017 ini harus selalu dimaknai sebagai penyegaran kembali pemahaman atas nilai-nilai kejuangan pemuda, dengan memadukan segenap potensi tanpa memandang asal-usul suku, agama, ras, dan antar-golongan.

Terlebih, kebangkitan suatu bangsa tidak hanya dinilai dari menguatnya semangat perubahan. Namun juga terkait kemampuan mengolah dan menyelaraskan berbagai potensi demi kepentingan yang lebih luas. Ini penting agar bangsa ini mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari munculnya bonus demografi di tahun 2020 yang akan didominasi oleh para pemuda.

Kota Bandung, tentu sangat optimistis menghadapi bonus demografi tersebut, karena 60% dari total 2,4 juta jiwa penduduknya adalah pemuda berusia di bawah 40 tahun, yang jumlahnya akan meningkat menjadi 70% pada 2020. Potensi bonus demografi yang dimiliki Kota Bandung ini akan berkontribusi positif terhadap beragam pembangunan di Kota Bandung.

Sikap optimis tersebut tentu dilatari pula oleh adanya regulasi berupa Peraturan Daerah Kota Bandung nomor 01 tahun 2016 tentang kepemudaan. Juga oleh adanya beragam fasilitas dan infrastruktur tempat para pemuda berekspresi dan berkreasi, kelembagaan organisasi-organisasi kepemudaan, dan komunitas-komunitas pemuda, serta kemandirian pemuda, dan pemuda pelopor dalam bidang UMKM. Semua itu kemudian dijadikan indikator oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI untuk menjadikan Kota Bandung sebagai kota Layak Pemuda tahun 2017.

Begitu juga dengan Program Inovasi Pembangunan dan Pemberdayaan Kewilayahan (PIPPK) yang sejak diluncurkan pada 2015 telah memasukkan Karang Taruna sebagai sasaran program bersama PKK dan LPM di 151 kelurahan, dan 1.581 RW di seluruh Kota Bandung.

PIPPK bukanlah program politik. Terlebih jika dikaitkan dengan pelaksanaan pilkada serentak 2018. PIPPK juga bukan sekedar kebijakan pengucuran anggaran, melainkan implementasi dari konsep desentralisasi pembangunan di era otonomi daerah. Inilah cara pemerintah Kota Bandung memberikan kedaulatan kepada warga kota, sekaligus membangun partisipasi aktif warga kota dalam setiap aspek pembangunan di Kota Bandung.

Oleh karena itu, peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 tahun 2017 ini harus menjadi momentum untuk pemuda baik yang tergabung dalam organisasi kepemudaan, komunitas kreatif maupun individu, agar terus mengembangkan kemampuan diri, serta meningkatkan peran sebagai agen pembangunan dan pelopor perubahan, demi mewujudkan kehidupan masyarakat yang maju, makmur, dan berkeadilan.

Kalimat filsuf romawi Marcus Tullius Cicero yang dikutip Presiden Amerika Serikat ke-39 John F. Kennedy, "Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negara," sepertinya masih relevan bagi para pemuda Indonesia yang sedang berjuang mensejahterakan bangsa, antara lain melalui pembangunan merata di seluruh pelosok negeri.

Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini mudah-mudahan juga dapat lebih memacu semangat para pemuda dalam perspektif kekinian, yakni kemampuan untuk aktif membantu pemerintah menuntaskan beragam persoalan sosial, yang ada di masyarakat, dengan kotribusi para pemuda di berbagai sektor pembangunan.

Peringatan Sumpah Pemuda diharapkan dapat menguatkan keberanian para pemuda, khususnya di Kota Bandung dalam melawan segala bentuk aksi dan provokasi yang memecah-belah bangsa sesuai tagline peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2017 yaitu "Berani Bersatu". Sekaligus, momentum penguatan karakter generasi milenial yang cerdas, santun dan toleran, dengan senantiasa menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Ridwan Kamil Wali Kota Bandung


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed