DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 23 Oktober 2017, 16:25 WIB

Kolom

Memaknai Konteks Sejarah pada Tiga Pameran Besar di Jepang

Dewi Ria Utari - detikNews
Memaknai Konteks Sejarah pada Tiga Pameran Besar di Jepang Karya kelompok seniman Jakarta Wasted Artists di pameran Sunshower di National Art Center Tokyo (Foto: Dewi Ria Utari)
Jakarta - Definisi kontemporer menjadi sesuatu yang asyik untuk dimainkan ketika mengambil konteks sejarah. Inilah yang terlihat dalam tiga pameran besar yang diselenggarakan Jepang dalam waktu yang hampir berdekatan dan di tiga kota. Yaitu Asia Corridor Contemporary Art Exhibition di Kyoto, Sunshower: Contemporary Art from Southeast Asia 1980s to Now di Tokyo, dan Yokohama Triennale di Yokohama. Ketiga pameran ini menyajikan pula ambisi Jepang untuk menjadi art hub di kawasan Asia baik bagi sesama negara di Asia maupun di mata internasional.

Pendekatan sejarah di pameran Asia Corridor diperlihatkan dari pilihan lokasi. Pameran yang berlangsung pada 19 Agustus-15 Oktober 2017 ini mengambil tempat di Nijo Castle yang merupakan tempat bersejarah diproklamasikannya Taisei Hokan, yaitu dimulainya kekuasaan kekaisaran Jepang setelah sebelumnya dikuasai oleh Shogun (periode Edo). Istana ini telah disahkan Unesco sebagai situs bersejarah dunia. Selain di Nijo Castle, pameran ini juga bertempat di Kyoto Art Center yang merupakan bekas gedung sekolah dasar yang telah direformasi dan didaftarkan sebagai Tangible Cultural Property oleh pemerintah Jepang.

Pameran yang menampilkan 25 seniman dari Jepang, China, dan Korea Selatan ini memiliki sisi menarik dari segi pemajangan karya, terutama yang bertempat di Nijo Castle. Sejumlah seniman secara khusus memilih lokasi untuk karya mereka sekaligus menciptakan karya yang sesuai dengan konteks ruang dan waktu. Misalnya, Mishima Ritsue. Seniman perempuan kelahiran 1962 yang bekerja ulang-alik antara Kyoto dan Venesia ini secara sengaja memilih lokasi parit istana untuk mengapungkan 600 bola-bola kaca yang ia ciptakan bersama para pekerja kaca di Venesia.

Kemudian, seniman Korea Choi Jeonghwa, latar belakangnya sebagai desainer interior ikut memberi warna penciptaan patung berbentuk lobak besar yang ia tempatkan di ruangan yang dulunya menjadi dapur istana. Karya itu terinspirasi oleh gambar lobak dan sayur-sayuran yang menggambarkan surga, di sebuah lukisan gulung karya Ito Jakuchu (1716-1800), seniman Jepang yang sangat dikagumi Jeonghwa.

Sementara seniman ternama asal China Cai Guo-Qiang menciptakan karya Bonshai Ship yang berupa kapal kayu tradisional sepanjang 14 meter yang tampak "mengangkut" lima pohon pinus. Karya ini menjadi sangat surealis ketika diletakkan di taman istana. Perahu ini seolah melayang karena dipasang di atas sejumlah batu-batu tak beraturan sebagai pedestal.

Lewat karya itu, Guo-Qiang yang sekarang memilih tinggal di New York tersebut mengajukan pertanyaan: bisakah kita berlayar di kapal ini bersama? Pertanyaan ini diajukan sebagai perenungan bagi pengunjung tentang warisan dan pengaruh mutual di antara para masyarakat Asia yang telah dimiliki bertahun-tahun. Selain itu, menikmati karya ini di ketenangan taman istana, secara otomasi mengantarkan pengunjung untuk mengajukan kontemplasi atas batasan ruang, interpretasi sejarah, dan pemikiran tentang waktu di mana kita saat ini hidup.

Tak hanya mempertimbangkan faktor ruang, sejumlah seniman juga secara berani mengajukan konsep yang memiliki risiko menjadikan karya mereka tidak secara terhormat. Tantangan ini berhasil diperlihatkan He Xiangyu, seniman dari China. Ia membuat sejumlah patung perunggu berbentuk seperti gelondongan tanah atau bahkan kotoran yang sebagian tampak penyok terkena injakan.

Konsep karya yang diajukannya itu mengambil pandangan Formless (L'Informe) dari George Batailles di mana Xiangyu melawan pandangan bahwa seni adalah segala sesuatu tentang bentuk, di mana kontur visual adalah metafor bagi bentuk konseptual. Namun, perkembangan abad ke-20 menantang seniman untuk menemukan bentuk dari yang tak berbentuk, untuk memperlihatkan bentuk dari yang tak berbentuk.

Pertimbangan sejarah juga menjadi fondasi dari penyelenggaraan pameran Sunshower yang mengambil judul Contemporary Art from Southeast Asia 1980s to Now. Judul ini secara gamblang memberi kerangka sejarah atas perjalanan seni rupa di 10 anggota ASEAN dari tahun 1980-an hingga sekarang.

Digagas oleh The Japan Foundation Asia Center, pameran yang berlangsung dari 5 Juli-23 Oktober ini memakan waktu persiapan riset 2,5 tahun yang dilakukan tim kurator yang berjumlah 14 orang. Dari Indonesia diwakili oleh Grace Samboh. Kurasi tim menghasilkan 190 karya seni dari 86 seniman/grup. Adapun seniman dari Indonesia yang terlibat di pameran ini sebanyak 16 orang/lembaga di antaranya Melati Suryodarmo, Heri Dono, Agus Suwage, FX Harsono, Mella Jaarsma, Ruangrupa, Anggun Priambodo, hingga Jompet Kuswidananto.

Selayaknya sebuah pembacaan sejarah, tim kurator membagi pameran ini dalam sembilan segmen: Fluid World, Passion and Revolution, Archiving, Diverse Identities, Day by Day, Growth and Loss, What is Art? Why Do It?, Medium as Meditation, dan Dialogue with History yang ditampilkan di dua tempat penyelenggaraan: National Art Center Tokyo (NACT) dan Mori Art Museum (MAM). Narasi sejarah yang memperlihatkan wilayah Asia Tenggara yang mengalami peristiwa-peristiwa opresi, penjajahan kolonial dan domestik lebih banyak diperlihatkan di NACT ketimbang MAM yang cenderung lebih kitsch.

Sejarah tentang sebuah kota yang menjadi bagian dari terbukanya sebuah negara dari "isolasi" merupakan retrospeksi yang dirayakan di Yokohama Triennale yang bertempat di Yokohama Museum of Art, Yokohama Red Brick Warehouse No. 1 dan Yokohama Port Opening Memorial Hall. Sebagai kota pelabuhan, Yokohama menjadi salah satu pelabuhan yang dibuka untuk perdagangan internasional pada 1859. Dan, sejarah inilah yang dihubungkan dengan tema triennale tahun ini, yaitu Islands, Constellations & Galapagos. Bahwa sejak dibukanya pelabuhan tersebut, kota itu menjadi salah satu pintu dibukanya isolasi; konsep isolasi sendiri termetaforakan oleh Galapagos.

Tema ini dipilih karena dinilai mewujudkan situasi paradoksal masa kini ketika teknologi memungkinkan manusia terhubung secara global, justru terjadi "island universe" di mana muncul kelompok-kelompok sosial yang membentuk konstelasi. Metafora Galapagos sendiri dilihat sesuai untuk memperlihatkan kondisi konstelasi ini di mana mulai terjadi isolasi yang dilakukan secara sengaja oleh kelompok-kelompok yang terbentuk itu.

Konsep ini secara kuat bisa ditampilkan instalasi karya Ai Wei Wei di fasad depan Yokohama museum yang merangkai 300 jaket keselamatan dan sekoci sebagai simbol nasib para pengungsi di Eropa. Sementara di dalam museum, terpilih karya seniman Indonesia, Joko Avianto yang membuat patung besar dari bahan bambu.

Terinspirasi teknik kepang tradisional Jepang, shimenawa, seniman asal Bandung itu menjalin 2000 batang bambu. Karya yang menyampaikan tema tentang hilangnya budaya tradisi dan simbiosis antara manusia dan alam ini di satu sisi berhasil menjadi focal point dan subjek fotografi yang visualitatif, namun agak sedikit jauh terhubung dengan judul triennale.

Karya Joko Avianto di Yokohama Triennale (Foto: Dewi Ria Utari)Karya Joko Avianto di Yokohama Triennale (Foto: Dewi Ria Utari)
Kecenderungan untuk mengumpulkan karya-karya seniman papan atas yang sudah menjadi langganan di acara-acara biennale dan triennale tak bisa dihindarkan oleh Yokohama Triennale. Di antaranya, Ai Wei Wei, Olafur Eliasson, Alex Hartley, Christian Jankowski, dan Mark Justiniani. Namun di antara nama-nama besar tersebut, karya Yukinori Yanagi, bertajuk Project Godzilla yang tampil satu-satunya di Yokohama Port Opening Memorial Hall, paling mencuri perhatian. Kehancuran, kebengisan, dan drama yang tercipta di karya yang ditempatkan di ruang bawah tanah ini berhasil tampil mencekam.

Masing-masing dari tiga pameran tersebut memiliki peran tersendiri. Kita bisa melihat bahwa pada Sunshower, Jepang memperlihatkan keinginannya untuk relasi budaya yang kuat dengan kawasan Asia Tenggara. Terutama bagaimana pameran ini merayakan 50 tahun ASEAN. Sementara Asia Corridor merupakan diplomasi budaya di kawasan Asia Timur dan tetangga terdekat Jepang, yaitu Korea Selatan dan China. Sedangkan Yokohama Triennale berperan untuk lebih berbicara di ranah internasional.

Dewi Ria Utari penulis seni, budaya, dan sastra. Telah meluncurkan empat buku fiksi dan buku kelimanya akan terbit pada Desember tahun ini. Perjalanannya di sejumlah peristiwa seni baik di dalam dan luar negeri bisa disimak di Instagram @dewiriautari, Twitter @writingria, Facebook @dewiriautari dan blog pribadinya http://dewiriautari.id


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed