detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 20 Oktober 2017, 14:50 WIB

Kolom

Belajar, Bekerja, dan Mencari Kebahagiaan Otentik

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Belajar, Bekerja, dan Mencari Kebahagiaan Otentik Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Semasa masih duduk di bangku sekolah dasar, setiap malam ibu saya selalu berujar, "Belajarlah yang rajin di sekolah, Nak agar nanti mendapatkan pekerjaan enak. Dan kamu akan bahagia." Nasihat itu semata-mata merupakan bentuk kasih sayangnya agar saya selalu semangat ketika belajar, dan kelak mendapatkan pekerjaan yang enak.

Namun, bertahun-tahun kemudian ketika saya memasuki usia dewasa, premis dari nasihat ibu saya nyatanya bukan sebuah kebenaran yang utuh. "Jika sudah belajar rajin dan mendapatkan pekerjaan enak, niscaya akan bahagia" bukan rumusan mutlak dalam kehidupan nyata. Kebahagiaan ternyata tidak dengan serta merta diciptakan dari dua faktor belajar dan bekerja. Tidak ada faktor determinan. Toh, masih banyak faktor lain yang menentukan bagaimana kebahagiaan tercipta.

Bahkan belajar, pada satu titik ekstrem justru membuat orang jadi depresi. Sebuah hasil riset yang dilakukan oleh University of Rochester Medical Center merekomendasikan bahwa jam belajar harus diatur secara ideal bagi anak. Waktu belajar di sekolah yang dimulai lebih awal sebelum pukul 08.30 bisa meningkatkan potensi depresi pada anak. Seorang anak akan terganggu proses tidurnya ketika malam hari karena dihantui oleh kewajiban jam belajar yang terlalu pagi.

Namun beruntunglah saya, karena jadwal masuk sekolah saya kala itu adalah pada pukul 06.30 dan saya selamat dari ancaman depresi. Meskipun jujur saja bahwa temuan riset tersebut ada benarnya, karena kegelisahan akan esok hari juga menggelantung dalam benak saya kala itu. Sampai-sampai saya sering bermimpi sedang mengerjakan ulangan matematika.

Hal yang sama juga berlaku pada pekerjaan yang terlalu ekstrem. Di Jepang, ada istilah karoshi, yaitu kematian karena kelelahan bekerja. Angka bunuh diri yang tinggi di Jepang sebagian besar disumbang oleh orang-orang yang sudah kepalang sumpek dengan pekerjaan. Maka dari itu sekarang di Jepang kampanye hidup bahagia dilakukan dengan cukup gencar.

Lagi pula, pekerjaan yang enak sebetulnya memang tidak ada. Jika pekerjaan berdasarkan passion yang sering disebut enak, maka tetap saja mengandung resiko. Semua pekerjaan tidak ada yang enak. Meskipun itu adalah hobi kita sendiri yang kita cintai.

Setiap pekerjaan terikat dalam seperangkat aturan yang memaksa. Karena pekerjaan mewajibkan setiap orang untuk mampu menghasilkan sesuatu yang mengandung nilai guna. Jadi, pekerjaan pada beberapa batas tertentu memang bisa enak, namun di waktu lain bisa menjadi penjara.

Siklus hidup dalam penjara pekerjaan sempat diceritakan dengan muram oleh Franz Kafka dalam novelanya yang paling terkenal berjudul Metamorfosis. Di dalam cerita itu, kita akan bertemu dengan Gregor Samsa yang bekerja sebagai seorang sales. Setiap hari Gregor harus bangun pagi untuk memenuhi jadwal kereta yang ketat.

Gregor harus rela terjebak dalam target kerja dan rutinitas pekerjaan guna memenuhi kebutuhan keluarganya —bahkan sang ayah punya banyak utang yang harus dilunasi. Sampai tiba pada waktunya, Gregor Samsa terbangun dalam keadaan terkejut karena ia telah bermetamorfosis menjadi kutu raksasa. Peristiwa ini barangkali merupakan renungan Kafka —jika tak boleh disebut olok-olok— tentang betapa lintang pukang manusia modern mengejar hidupnya.

Kebahagiaan Ontentik dan Kebahagiaan Sintetis

Namun, kita tahu bahwa sejatinya belajar dan bekerja adalah bagian dari proses untuk mencapai tujuan hidup. Ketika tujuan hidup dicanangkan, di sanalah kita merumuskan kebahagiaan. Semua kebahagiaan bakal tersaji setelah semua manusia melewati proses belajar rajin dan bekerja keras. Tetapi sialnya, lagi-lagi setiap orang dibenturkan dengan kenyataan getir. Yuval Noah Hariri, seorang sejarahwan hits masa kini, dengan sinis menggambarkan telaahnya atas kenyataan dalam buku best seller, Sapiens:

"Berapa banyak pemuda lulusan perguruan tinggi mengambil pekerjaan berat di perusahaan-perusahaan padat karya, dengan berjanji bahwa mereka akan bekerja keras untuk mendapatkan uang yang memungkinkan mereka pensiun dan mengejar kesenangan pada usia 35 tahun? Namun, ketika usia itu tercapai, mereka punya beban besar, anak-anak ke sekolah, rumah di pinggiran yang membutuhkan sedikitnya dua mobil per keluarga dan hidup tak terasa nikmatnya tanpa anggur dan liburan ke luar negeri. Apa yang harus mereka lakukan, kembali ke akar? Tidak, mereka melipatgandakan upayanya dan tetap diperbudak."

Pernyataan Yuval itu tentu saja tak perlu dengan mantap kita amini. Kita boleh saja dengan gampang mengabaikannya. Walaupun hal itu memang benar-benar terjadi pada sebagian orang.

Pepatah Inggris berbunyi bahwa hidup dimulai ketika orang memasuki usia 40 tahun. Tapi pada orang-orang yang dimaksud Yuval, hidup justru berhenti ketika baru menginjak usia 35 tahun. Kebanyakan orang pada usia itu sudah mulai mengabaikan semuanya. Mimpi-mimpi besar dan pilihan hidupnya. Catatan pengingat yang terus menggantung didahinya bukan tentang cita-citanya. Tapi, melulu soal cicilan rumah, tagihan listrik bulanan, sampai biaya pendidikan anaknya kelak.

Beban ini semakin berat ketika hidup mesti diukur dengan katalog yang berisi daftar barang mewah yang harus mereka miliki. Kemewahan yang sebenarnya bukan apa yang dibutuhkan, harus didistorsi menjadi kebutuhan pokok. Manusia akhirnya tak hanya diperbudak oleh pekerjaan, tapi juga oleh kemewahan. Dalam titik gawat, orang bisa bertindak menyimpang untuk memenuhinya —dengan korupsi, misalnya.

Ketika omelan atasan di kantor masih terngiang di telinga, di rumah istri Anda sudah menyodorkan brosur cicilan mobil merek terbaru sembari berujar, "Pa, kemarin tetangga sebelah baru beli mobil baru ini lho, Pa." Alhasil, rasa nyeri dadakan lebih sering menggasak tengkuk. Hidup disibukkan dengan pergumulan rasa getir dengan pikiran sendiri. Sedangkan bahagia kian menjauh seperti kereta yang meninggalkan stasiun.

Tujuan hidup pada akhirnya hanya jadi kertas lusuh yang tersimpan rapi dalam laci untuk sekian lama hingga penuh debu. Lantas, bagaimana caranya agar terlepas dari kungkungan siklus hidup semurung itu? Hanya ada satu cara: memilih apa yang Anda percayai!

Tapi, tunggu dulu. Apa yang saya maksud bukan yang disebut secara gegabah oleh para motivator sebagai 'keluar dari zona nyaman'. Yang saya maksud lebih dari itu. Yaitu, tentang bagaimana menemukan kebahagiaan otentik yang secara jujur kita pilih sendiri. Bukan dari tujuan hidup yang terbentuk dari konstruksi sosial masyarakat, atau ukuran kebahagiaan yang dibentuk oleh tayangan televisi.

Karena, selama ini sebetulnya tujuan hidup yang kita miliki sering tercemari oleh tujuan-tujuan hidup milik orang lain. Sadar atau pun tidak, hal itu memang benar adanya.

Pilihan hidup yang saya maksud ialah pilihan yang membuat Anda merasakan nuansa hidup sebagai manusia seutuhnya. Hidup sebagai manusia, bukan seperti baut mesin bubut atau alat presensi. Buanglah cetak biru yang Anda fotokopi dari hidup orang lain.

Kita semua tentu tak mau menikmati kebahagiaan yang dipaksakan. Misalnya, seperti yang diimajinasikan Aldous Huxley dalam novel distopian masyhur Brave New World. Diceritakan bahwa di masa depan kelak ada manusia-manusia tabung yang sengaja diciptakan untuk mengisi sebuah dunia yang sempurna. Mereka secara rutin mengonsumsi obat-obat yang membuat mereka bahagia. Dunia ideal yang damai sentosa makmur sejahtera telah tercipta. Tapi, sayangnya semua palsu belaka. Mereka memang bahagia, namun mereka tak bebas. Mereka dipasung oleh kebahagiaan sintetis yang diciptakan oleh proses kimiawi obat. Tentu saja kita tak ingin menjadi seperti manusia tabung itu bukan?

Maka berbahagialah orang-orang yang hidup dengan jalannya masing-masing. Tanpa rasa iri pada hidup orang lain. Tanpa nafsu jahat untuk menggarong hidup orang lain. Merekalah yang menikmati tur kebahagiaannya sembari menikmati bunga-bunga indah yang tumbuh subur karena rasa syukur.

Rakhmad Hidayatulloh Permana tinggal di Subang. Kegiatan sehari-harinya bermain dengan ikan-ikan air tawar


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed