DetikNews
Kamis 19 Oktober 2017, 11:16 WIB

Kolom

Santri: Lagu dan Puisi

Bandung Mawardi - detikNews
Santri: Lagu dan Puisi Foto: M Rofiq
Jakarta - Penggubah lagu berjudul Kota Santri mungkin tak pernah memimpikan bahwa di Indonesia bakal ada peringatan Hari Santri Nasional, 22 Oktober. Lagu gubahan Suhaemi itu telah disenandungkan sejak puluhan tahun silam, menebar cerita dan imajinasi tentang santri. Seniman kelahiran Kendal (Jawa Tengah) itu meninggal pada 2012. Barangkali publik tak terlalu mengetahui pelbagai informasi dan biografi Suhaemi. Kita cuma terbiasa mendengarkan lagu Kota Santri. Di panggung lagu pop, Kota Santri pernah disenandungkan ulang oleh Anang Hermansyah-Syahrini. Anang sengaja melantunkan berdalih memiliki biografi sebagai santri. Lagu itu semakin moncer meski tak lekas mengikutkan penghormatan pada si penggubah lagu.

Lirik lagu gampang teringat: Suasana di kota santri/ asyik senangkan hati/ Suasana di kota santri/ asyik senangkan hati// Tiap pagi dan sore hari/ muda-mudi berbusana rapi/ menyandang kitab suci/ Hilir mudik silih berganti/ pulang pergi mengaji… Santri belajar mengaji demi dunia dan akhirat. Keputusan ke pesantren atas restu orangtua. Di pesantren, santri belajar pada ulama-kiai. Belajar jadi identitas santri saat menginsafi keimanan dan memenuhi kehendak mengetahui makna hidup. Lirik itu sejenak mengingatkan pada kita ke Nawawi Al Bantani saat mulai melakukan pembelajaran ke pesantren. Sang ibu memberi restu dan berdoa agar Nawawi Al Bantani mengaji serius. Tanda restu dan penantian kepulangan si santri adalah pohon kelapa berbuah. Nawawi Al Bantani berangkat ke pesantren, sang ibu menanam pohon kelapa. Metafora itu kesungguhan mengaji dan keinginan jadi insan beriman-bertakwa agar berguna bagi bangsa.

Di Indonesia, santri adalah julukan bagi pembelajar berdasarkan pemenuhan iman dan amalan ajaran agama. Mereka belajar tak berputus asa. Etos kesantrian diejawantahkan dalam pelbagai kebajikan dan pengabdian dakwah, pendidikan, sosial, pertanian, politik, dan seni-kultural. Pada akhir abad XIX, santri-santri mulai menguatkan ide nasionalisme, berikhtiar memperjuangkan bangsa dari kolonialisme. Di pesantren-pesantren, para santri mengimajinasikan Indonesia. Mereka bergerak dengan bimbingan para kiai. Santri tak melulu bersarung dan membaca kitab-kitab. Realitas negeri terjajah membuat mereka sadar harus merampungi kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Di pesantren, santri adalah pembelajar untuk bergerak ke pelbagai ruang agar amalan-amalan agama dan kebangsaan berlangsung harmonis.

Kita mengenali tokoh-tokoh kharismatik berlatar santri mulai membentuk agenda perlawanan melalui Sarekat Islam, Muhammadiyah, Jong Islamieten Bond, dan NU. Mereka mengartikan Indonesia berbarengan kemajuan pendidikan dan arus pergerakan politik kebangsaan. Para ulama dan santri terus mengumandangkan Indonesia. Sarung pun berkibar sebagai metafora identitas dan perjuangan demi Tanah Air. Santri-santri berdoa dan bergerak, menunaikan tugas suci melawan kolonialisme-imperialisme. Mereka pun berdakwah untuk mengabarkan Islam dalam harmoni kebhinekaan di Indonesia. Santri mulai mendefinisikan diri sebagai pejuang dan pemberi arti demi Indonesia merdeka.

Pada 22 Oktober 1945, tekad dan perbuatan ditujukan untuk mempertahankan Kemerdekaan. Doa terus dipanjatkan, seruan perjuangan terus menggema, panji-panji kebangsaan berkibar dengan keberanian. Keringat pun menderas, darah boleh mengucur, air mata mungkin berjatuhan. Para santri tak takut mati. Episode itu dijadikan titik sejarah penentuan Hari Santri Nasional. Pemerintah telah setuju dan menginginkan santri tak selesai mengartikan Indonesia melalui pelbagai ide dan amalan. Titik sejarah itu bersambung ke peristiwa heroik di Surabaya, 10 November 1945. Kita mengenang dengan peringatan Hari Pahlawan.

Gus Mus menghadirkan puisi berjudul Surabaya, memuat cerita perlawanan santri bersama para pejuang melawan pasukan Sekutu: Dengarlah pekik mereka/ Allahu Akbar!/ Gaungnya menggelegar/ mengoyak langit/ Surabaya yang murka/ Allahu Akbar!/ menggetarkan setiap yang mendengar/ Semua pun jadi kecil/ Semua pun tinggal seupil/ Semua menggigil. Puisi berjudul Dua Surat Surabaya bercerita kedatangan bala tentara Sekutu untuk menghancurkan kemerdekaan Indonesia. Mereka angkuh, bermaksud menginjak kedaulatan dan harga diri Indonesia. Senjata mereka modern dan lengkap. Para pejuang dan santri tak gentar. Gus Mus menulis: …maka dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab/ kami sambut mereka dengan takbir dan pekik merdeka/ Kami lawan mereka mati-matian. Para santri cuma memiliki pilihan: Hidup terhormat atau syahid di hadapan Tuhan/ Sia-siakah kematian kami?

Sejarah telah berlangsung. Para santri telah berjuang meski mereka tak mendapat sebutan pahlawan dalam lembaran resmi negara atau dikuburkan di taman makam pahlawan. Sejarah itu mulai diperingati meski tak harus berlebihan. Pada 22 Oktober 2017, kita bersama mengartikan santri dan Indonesia sambil menikmati senandung lagu Kota Santri dan membaca puisi-puisi gubahan Gus Mus. Begitu.

Bandung Mawardi kuncen Bilik Literasi Solo


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed