DetikNews
Selasa 17 Oktober 2017, 15:20 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Kami Sudah Lelah Berkelahi

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Kami Sudah Lelah Berkelahi Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Malam itu dia datang untuk membetulkan truk milik seorang kawan. Saat tangan saya menyorotkan lampu senter biar dia lebih gampang merogoh-rogoh bagian bawah mesin, lelaki muda itu bertanya, "Are you Indonesian too? Muslim too?" Aksennya beda. Maka saya pun kepingin tahu dia dari mana.

"I'm from Bosnia. Do you know Bosnia?"

Tentu saya tahu di mana Bosnia. Dulu mungkin memang jarang orang mendengar nama negeri itu. Namun kemudian Bosnia jadi terkenal. Sayangnya bukan terkenal karena menang Piala Dunia atau apa. Melainkan karena tragedi kemanusiaan yang menewaskan tak kurang dari 100.000 orang pada 1992-1995.

"Masa itu peluru berdesingan setiap hari di samping kepala kami. Sanak familiku banyak yang tewas dibunuh." Pemuda mekanik truk di hadapan saya mengenang. Wajahnya membeku sesaat, menyimpan sebentar senyum yang sedari tadi ia sunggingkan.

"Lalu di umur sembilan tahun aku dibawa mengungsi oleh orangtuaku. Dan sekarang aku di sini. Dua puluh lima tahun sudah."

Namanya Zenad. Wajahnya bule. Rambutnya coklat, jenggotnya agak tebal, badannya tinggi dan tegap. Sebenarnya saya "berharap" akan muncul suasana dramatis dari cerita-ceritanya kemudian. Meski waktu meninggalkan Bosnia dia masih sembilan tahun, semestinya kisah mengerikan mayat-mayat yang terkapar akan membekas begitu lama.

Namun ternyata tidak. Ekspresi gembira justru saya tangkap di wajahnya saat saya bertanya kondisi Bosnia saat ini. "Aku ingin sekali ke sana, Zenad. Sudah aman? Masih ada orang berbunuhan? Masih ada orang Serbia menyerang?"

"Oh, tidaaak. Sekarang aman. Just go there and have a look!"

Sayang, perbincangan kami terputus. Pekerjaannya sudah selesai, dan dia harus pulang. Padahal saya ingin tahu lebih banyak tentang situasi riil di sana. Bukan sekadar situasi lahiriah, namun juga batiniah.

Hingga kemudian hari lain tiba. Sopir yang tempat parkirnya di gudang persis di sebelah saya, diberhentikan. Penggantinya seorang lelaki berumur menjelang 50-an. Rambutnya pirang, banyak omong tapi lumayan menyenangkan, dan lagi-lagi aksennya jelas bukan Australia.

"Aku datang dari Bosnia," jawabnya. Wah, Bosnia lagi, batin saya. Segera jiwa corsa saya muncul, dan mulailah saya mengarahkan obrolan sebagai sesama muslim. Perasaan seiman akan lebih gampang membuat kami dekat, bukan?

Malangnya, saya salah duga.

"Oh, bukan, bukan. Aku memang datang dari Bosnia, rumahku dulu di sana. Tapi etnisku Serbia. Agamaku Kristen Ortodoks. Nah, ini yang orang luar seringkali tidak paham. Kalian pasti mengira masalahnya simpel. Padahal yang terjadi tidak sesederhana yang digambarkan media."

Voyo, sopir baru itu, lalu bercerita panjang lebar. Daerah yang bernama Bosnia juga ditinggali orang-orang beretnis Serbia, katanya. Sebaliknya, wilayah administratif pecahan Yugoslavia yang bernama negara Serbia, pun sebagian populasinya adalah orang-orang etnis Bosnia.

"Selama ini kalian pasti mengira orang Bosnia tinggal di negara Bosnia, dan orang Serbia tinggal di Serbia. Lalu yang satu membunuhi yang lain. Iya, kan?"

Saya tersenyum sambil pasang tampang bloon, biar Voyo tahu kalau saya mengakui kebodohan saya. Soal pemahaman simplistis atas Bosnia vs Serbia itu pandangan awam yang lazim, bukan? Kurang lebih sebagaimana keterbatasan orang saat memahami konflik Israel-Palestina, atau pemerintah Myanmar vs muslim Rohingya. Coba, berapa orang yang kaget saat tahu bahwa masjid di Yangoon, ibukota Myanmar, aman-aman saja dan semua muslim di situ bisa bersembahyang dengan bahagia?

"Secara etnis kami campur aduk. Ibarat orang India di Australia sini. Coba kamu ke daerah selatan. Di sana mayoritas penduduk justru orang India. Bukan orang kulit putih Australia, bukan pula orang Aborigin. Nah, kira-kira dalam kondisi begitulah konflik terjadi di negeri kami."

Tentu saya langsung memosisikan diri sebagai pendengar yang baik. Segala cerita dari Voyo saya simak saja, sambil berharap di lain waktu saya ketemu orang Bosnia beneran dan mendapatkan kesaksian versi seberangnya.

"Intinya, semua pihak punya kesalahan masing-masing. Itu sebenarnya yang ingin kukatakan," Voyo memungkasi dengan sebuah closing statement.

Saya mengangguk-angguk, sambil teringat beberapa benturan keras yang pernah terjadi di Indonesia. Di Indonesia, konflik lima puluh tahun silam masih terus ditiup-tiupkan sebagai dagangan politik, sehingga selalu awet tanpa memunculkan kesadaran sebagaimana yang Voyo katakan: bahwa "Semua pihak punya kesalahan masing-masing."

Bukan hanya itu. Bahkan gesekan sejak ratusan tahun lalu yang konon dimulai pada zaman Diponegoro pun masih sering digosok-gosok, dengan membenturkan antara apa yang diklaim sebagai pribumi melawan apa yang distempel sebagai non-pribumi.

Ini yang membuat saya penasaran tentang Bosnia vs Serbia. Bagaimana mereka sekarang? Bagaimana kehidupan sosial antara mereka di Australia? Harap diketahui, tak kurang dari 70.000 orang Serbia menjadi imigran di Australia. Demikian pula orang Bosnia, dengan populasi sekitar 51.000 jiwa.

Itu tadi angka untuk Australia keseluruhan, campuran antara mereka yang asli lahir di Serbia atau Bosnia dengan anak-anak mereka yang lahir di sini. Saya tak tahu berapa angka pastinya di Western Australia saja. Yang jelas komunitas muslim Bosnia di Perth lumayan kuat, punya masjid sendiri, dan masjid mereka sering jadi alternatif kawan-kawan saya untuk tempat jumatan.

"Nah, begini. Kalau kalian ketemu, berjumpa di sini, antara orang Serbia dan Bosnia, bagaimana? Masih sebel-sebelan atau tidak?" Begitu kira-kira pertanyaan saya kepada Voyo.

Saya yakin itu keingintahuan yang wajar. Di Indonesia, bahkan sekadar pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo saja kalau ketemu bisa diem-dieman. Malah ada yang pacaran lalu putus gara-gara yang laki-laki pro-Ahok, yang perempuan pro-Anies. Lah bagaimana jika kasusnya separah Serbia vs Bosnia?

Tak saya duga, Voyo malah tertawa. Saya melongo.

"Istriku itu," masih di sela tawanya Voyo menjawab, lalu menelan ludah sesaat. "Istriku itu orang Bosnia, Mas. Dia muslim juga. Dan selama ini kami tidak menjumpai masalah apa-apa. Kami ingin hidup baik, kenapa harus mengingat yang buruk-buruk?"

Saya tertegun lagi. Lalu saat menuliskan ini saya membayangkan bagaimana mencekamnya suasana kamar tidur milik sepasang suami-istri malam tadi selepas pelantikan Anies-Sandi, sementara sang suami aktivis 212 dan istrinya pernah bergabung di Teman Ahok.

"Selain itu," Voyo belum berhenti. "Itu semua tergantung otak kita masing-masing. Kalau seseorang melakukan satu hal buruk, bukan lantas semua orang yang seidentitas dengan dia pasti juga melakukan hal buruk. Itu kalau otak kita sehat."

Kalimat terakhir Voyo itu tak terlalu saya gubris. Itu mah teori standar saja dalam menjauhkan diri dari sikap-sikap rasis. Yang membuat saya tertarik justru bagaimana dia bilang sudah ingin hidup baik dan tak lagi mau mengungkit hal-hal buruk.

Segera saya teringat dua kawan saya yang lain lagi. Yang pertama Adul alias Abdul Wahied Rahimi, yang kedua Aryan Malekzadeh. Keduanya para pemuda Afganistan yang dulu satu tempat kerja dengan saya waktu saya masih memegang truk.

Adul yang memberi saya pengetahuan tentang situasi sosiologis Afganistan. Etnis mayoritas, yakni Pashtun, berkuasa. Mereka muslim Sunni, dengan ciri fisik seperti orang Arab, dan kekuatan mereka diwakili oleh Taliban. Sementara etnis minoritas setidaknya ada tiga, yakni Hazara, Tajik, dan Uzbek.

Adul orang Hazara. Etniz Hazara berciri fisik Mongoloid, muslim Syiah, dan mereka paling ditekan oleh Pashtun. Adul sendiri menyaksikan pembunuhan-pembunuhan oleh Taliban kepada saudara-saudaranya sesama Hazara. Maka mengungsilah dia ke Australia, setelah sempat terdampar beberapa lama di Indonesia.

Aryan orang Tajik. Etnis Tajik berciri fisik agak Arab, campuran antara Sunni dan Syiah, berteman dengan Hazara, dan sama-sama ditindas oleh Pashtun.

Namun semuanya berubah saat mereka berada di Australia. Baik Hazara, Tajik, Uzbek, dan sedikit Pashtun, banyak sekali yang bermigrasi ke Amerika, Kanada, dan Australia.

"Jadi orang Pashtun juga banyak di sini? Lalu bagaimana kalau kalian ketemu? Rasanya gimana? Bukannya kalian dihajar habis-habisan sama mereka di Afganistan?" saya mencecar Aryan suatu hari.

Aryan mengibaskan tangannya, lalu berkata. "Ah, kamu ini. Kami sudah lelah dengan perkelahian. Bosan dengan perang. Kami datang ke sini sama-sama cuma mau mencari hidup yang lebih baik. Kami tak peduli lagi dengan segala pertengkaran."

Begitulah. Ternyata segala luka mengerikan di masa lalu akan dilupakan, saat semuanya ingin tenang dan menjalani hidup yang lebih baik. Mereka, kawan-kawan saya dari negeri-negeri yang chaos-nya ribuan kali lipat lebih parah ketimbang Indonesia itu, bahkan tak lagi mau mengingat-ingat luka itu.

Sementara kita, sepertinya masih sangat menikmati benturan demi benturan, tak kenal lelah dengan perkelahian. Mau sampai kapan?

Iqbal Aji Daryono buruh transportasi, bekerja di PEP Transport, Perth, Australia


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed