DetikNews
Kamis 12 Oktober 2017, 15:32 WIB

Kolom

Arifin Ilham, Poligami, dan Paradoks Popularitas

Wakhid Hasyim - detikNews
Arifin Ilham, Poligami, dan Paradoks Popularitas Foto: Facebook Ustad Arifin Ilham
Jakarta - Ustad kondang Arifin Ilham menghebohkan media massa Tanah Air dengan memajang foto bersama ketiga istrinya. Sang Ustad seolah ingin menenangkan hati kaum hawa di persada Nusantara; menyadarkan bahwa seorang lelaki diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu.

Yang terjadi kemudian mungkin tak seperti harapan Sang Ustad sendiri. Masyarakat justru nyinyir dengan kejadian tersebut. Mungkin masih hangat di ingatan kita, bagaimana terang benderangnya nama Aa Gym sebagai panutan umat. Sinarnya justru semakin redup ketika membuat keputusan serupa dengan Ustad Arifin Ilham, poligami.

Apakah kemudian berarti masyarakat kita tidak patuh terhadap perintah agama?

Sebentar. Mari kita telaah satu per satu.

Pertama, bahwa memiliki istri lebih dari satu diizinkan dalam Al-Quran itu, iya. Bahwa Rasulullah SAW punya istri lebih dari satu, tidak ada yang membantah. Tapi mari kita cermati fakta pendampingnya.

Nabi Muhammad memiliki istri empat ketika adat masyarakat Arab waktu itu tidak membatasi jumlah istri seorang lelaki. Bahkan ada pendapat, ketika turun ayat mengenai poligami, Nabi waktu itu beristri sembilan. Setelah ayat tersebut turun, Nabi menceraikan lima istri lainnya. Sehingga pada akhirnya Nabi hanya didampingi oleh empat orang istri. Jadi, ayat itu turun untuk membatasi jumlah istri. Bukan sebaliknya.

Tidak sampai di situ saja. Nabi memiliki istri lebih dari satu itu ketika beliau sudah berada di Madinah, ketika usia beliau 50 tahun lebih. Tentu bukan masalah usia yang akan kita bahas. Beberapa waktu sebelum peristiwa hijrah, Khadijah --istri Nabi satu-satunya-- meninggal dunia. Selama beristrikan Khadijah, Nabi tidak pernah melirik perempuan lain. Lebih hebat lagi, nama istri pertama beliau ini selalu disebut sepanjang hayat Nabi dengan penuh kerinduan. Membuat cemburu istri-istri yang lain.

Kedua, semua perempuan yang diperistri Nabi berstatus sebagai janda. Satu-satunya istri Nabi yang masih perawan ketika diperistri hanyalah Aisyah ra. Penyebab utama ikatan pernikahan yang dilakukan Nabi pun kebanyakan bukan karena alasan semata-mata ketertarikan hati.

Ketiga, Nabi tidak rela Fatimah dipoligami. Dikisahkan, suatu waktu ada utusan dari Raja Persia menghadap Rasulullah. Utusan tersebut menyampaikan keinginan Sang Raja untuk menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai menantu. Ketika itu Ali sudah menjadi menantu Rasulullah, suami Fatimah. Dengan tegas Nabi menolak. Beliau mengatakan bahwa dirinya tidak rela jika anak kesayangannya tersakiti karena poligami. Jika Ali ingin menikahi anak dari Raja Persia dimaksud, sahabat yang mendapat julukan babul ilmi itu harus menceraikan Fatimah binti Rasulullah terlebih dahulu.

Poligami di Indonesia

Di negara kita, heboh praktik poligami seorang pesohor tidak hanya terjadi sekali ini saja. Seperti sudah disampaikan di awal tulisan, beberapa pesohor Tanah Air pernah melakukan hal serupa. Yang tidak tersorot media tentu lebih banyak lagi. Kelanjutan kisah mereka pun beragam. Ada yang adem-adem saja, tanpa gejolak. Ada juga yang istri pertamanya kemudian menghendaki untuk berpisah.

Komnas Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat rekapitulasi kasus perceraian yang diproses pengadilan agama. Berdasarkan alasan yang terungkap, pada 2015 terdapat 7.476 kasus perceraian disebabkan poligami.

Sepuluh tahun silam, Dirjen Bimas Islam Departemen Agama menyampaikan bahwa angka perceraian akibat poligami cenderung tinggi dan semakin meningkat. Pada 2004, tercatat 813 perceraian terjadi akibat poligami. Tahun-tahun berikutnya, angka tersebut melonjak drastis. Pada 2005 terdapat 879 kasus, meningkat menjadi 983 pada 2006.

Melihat tren angka perceraian yang semakin meningkat tersebut, tentu perlu kita cermati kembali dampak poligami bagi kehidupan rumah tangga. Apalagi jika menilik jumlah angka perceraian akibat poligami setiap tahunnya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, patut dipertanyakan kembali jika ada publik figur yang seolah menyarankan poligami sebagai tren baru dalam membangun bahtera rumah tangga.

Memang tidak ada larangan dalam Islam untuk memiliki istri lebih dari satu. Namun, tidak ada yang membantah juga bahwa Nabi sendiri pernah melarang Ali bin Abi Thalib menduakan putri kesayangan beliau, Fatimah Binti Muhammad. Memang banyak perbedaan pendapat mengenai alasan di balik larangan tersebut. Tetapi bahwa Nabi pernah melakukan larangan tersebut terhadap Ali, hampir semua ulama dan ahli sejarah menyepakatinya.

Sekali lagi, masalah utamanya bukan pada boleh atau tidaknya poligami. Ini tentang kepatutan seorang publik figur. Dengan kelebihan yang dimiliki, seorang pesohor dituntut untuk memiliki tanggung jawab setara. "With a great power, comes great responsibility," begitu nasihat Ben Parker kepada keponakannya, Spiderman.

Kebijakan publik figur dalam berkomunikasi dan menampakkan diri sangatlah dibutuhkan. Karena dirinya bukan lagi miliknya sendiri tetapi sudah menjadi milik masyarakat umum. Daripada heboh memamerkan poligami, bukankah lebih baik kalau energi positifnya disalurkan untuk melakukan karya-karya bagi kemaslahatan umat? Ademnya dzikir dari Sang Ustad tentu lebih kita rindukan. Ceramah sejuknya tentu lebih ingin kita dengar.

Wakhid Hasyim mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed