DetikNews
Kamis 12 Oktober 2017, 10:35 WIB

Kolom

Spirit Baru Kebangkitan Mesir

Zuhairi Misrawi - detikNews
Spirit Baru Kebangkitan Mesir Foto: Amr Abdallah Dalsh/Reuters
Jakarta - Firaun, The Pharaoh atau al-Fara'inah. Demikian orang-orang Mesir menyebut Timnas sepakbola mereka. Selama 4 tahun tinggal di Mesir, saya menyaksikan betapa orang-orang Mesir bangga disebut sebagai Firaun. Tak ayal Timnas sepakbola mereka diberi julukan: Firaun.

Firaun merupakan gelar yang diberikan pada pemimpin Mesir sejak sebelum masehi. Firaun adalah sosok yang mewarisi peradaban besar, sehingga Mesir sebagai salah satu pusat peradaban kuno.

Dalam buku Al-Azhar: Menara Ilmu, Reformasi, dan Kiblat Keulamaan, saya menulis bahwa orang-orang Mesir menyebut diri mereka sebagai umm al-dunya, nenek moyang dunia. Firaun menjadi salah satu simbol kejayaan peradaban Mesir Kuno. Salah satu warisan Firaun yang masih mentereng sampai sekarang, yaitu Piramida. Dan masih banyak lagi warisan-warisan masa lampau lainnya.

Gelar "Firaun" bagi Timnas sepakbola Mesir juga bukan tanpa alasan. Mereka mempunyai segudang prestasi, 7 kali juara Piala Afrika pada 1957, 1959, 1986, 1998, 2006, 2008, dan terakhir 2010. Mereka juga 3 kali lolos ke putaran final Piala Dunia, pada 1934, 1990, dan 2018. Mereka mampu melibas tim-tim negara Afrika yang bertabur bintang yang bermain di liga-liga elite Eropa.

Kini setelah 28 tahun dalam penantian, Firaun kembali lolos ke putaran final Piala Dunia 2018 yang akan digelar di Rusia. Kemenangan tersebut disambut dengan meriah dan gegap-gempita. Warga Mesir begadang semalam suntuk, turun ke jalan-jalan dengan membawa bendera Mesir. Hampir seluruh taman dipadati oleh warga, merayakan kembalinya Firaun ke putaran final Piala Dunia 2018.

Situasi sangat menggetarkan, ketika Ahmad Tresege dijatuhkan di dalam kotak penalti, sehingga wasit memutuskan penalti bagi Mesir. Padahal pertandingan sudah memasuki menit ke 93. Skor saat itu 1-1. Mesir harus menang dalam pertandingan ini. Jika tidak, peluang untuk lolos akan tipis karena lawan tandang pada laga terakhir adalah Ghana. Dan, celakanya, Mesir selalu punya nasib buruk jika melawan Ghana.

Sontak, harapan untuk memenangi pertandingan dan lolos ke putaran final Piala Dunia terbuka lebar. Mohamed Salah menjadi algojo untuk mengeksekusi tendangan penalti.

Momen yang begitu menggetarkan, ketika 80 ribu penonton yang hadir di Stadion Burj al-Arab melafadzkan kalimat, "Ya Rabb, Ya Rabb, Ya Rabb". Doa para penonton Timnas Mesir, saya kira juga 100 juta warga Mesir yang menonton dari rumah dan kafe, menggema, cetar membahana. Semua umat agama-agama di Mesir berdoa untuk kemenangan tim sepakbola kesayangan mereka, Firaun. Mereka tenggelam dalam lautan doa. Sungguh menggetarkan. Merinding.

Dan, Mohamed Salah berhasil melesakkan gol ke gawang Timnas Congo. Ketenangan Salah dalam mengeksekusi penalti disambut dengan kalimat takbir. Saya mendengarkan dengan saksama komentator pertandingan yang biasanya berapi-api berubah menjadi tangis gembira. Saya pun tak kuasa meneteskan airmata ikut merasakan kegembiraan seluruh warga Mesir.

Jujur, pipi saya berlinang air mata, ikut merasakan kegembiraan warga Mesir. Mesir yang dulu dikenal sebagai macan Arab, kini sedang menghadapi krisis yang tidak mudah diatasi. Demokrasi, kebebasan, dan kemanusiaan menjadi agenda-agenda penting yang justru mengalami kemunduran. Revolusi kaum muda yang digerakkan melalui Facebook dan berhasil menggulingkan rezim Hosni Mubarak belum mampu menghadirkan rezim yang demokratis dan memberikan harapan bagi masa depan yang lebih baik.

Ya, Mesir sekarang membutuhkan spirit baru untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat perpecahan politik pasca-musim semi Arab. Dalam masa-masa sulit, Mesir membutuhkan sepakbola untuk membangkitkan nasionalisme dan patriotisme mereka.

Mesir berada dalam situasi ekonomi yang tidak menguntungkan. Mata uang yang terus anjlok. Harga-harga bahan pokok yang terus membumbung tinggi. Sementara publik terbelah, antara mereka yang pro-Ikhwanul Muslimin dan anti-Ikhwanul Muslimin.

Human Right Wacth Internasional memberikan catatan buruk terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia, terkait dengan penangkapan terhadap aktivis sosial-politik yang kerap berseberangan terhadap kebijakan politik pemerintah. Apalagi terkait dengan posisi Ikhwanul Muslimin yang resmi dilarang dan para aktivisnya masih dipenjara, termasuk Muhammad Morsi, Presiden Mesir yang dipilih secara demokratis dan dilengserkan melalui kudeta militer.

Jadi, Mesir saat ini sedang berada di persimpangan jalan, antara maju ke depan atau justru mundur ke belakang. Mohamed Salah dan kawan-kawannya dalam Timnas sepakbola membentangkan harapan baru.

May Azzam dalam Harian al-Masry al-Youm memberikan catatan penting atas kemenangan Timnas Firaun melawan Congo dan otomatis lolos ke putaran final Piala Dunia 2018. Kemenangan tersebut telah menjadi pemersatu warga Mesir yang sejak tahun 2010 tercerai-berai dalam pertentangan politik.

Mohamed Salah dan kawan-kawan tidak hanya semata-mata membawa Mesir lolos ke putaran final Piala Dunia, tetapi lebih dari itu: menciptakan harapan baru. Yaitu, harapan bahwa warga Mesir bisa bangkit dari keterpurukan selama bersatu padu dan bersama-sama, sebagaimana diraih oleh Timnas kesayangan mereka.

Timnas Firaun mengajarkan pentingnya kebersamaan sebagai bangsa. Situasi yang rumit, dan pada saat-saat yang sulit sekalipun, mereka bisa meraih kemenangan. Kuncinya adalah kebersamaan, keuletan, dan kepercayaan pada sebuah tujuan yang mulia.

Lihatlah, warga Mesir merayakan kemenangan Timnas sepakbola Firaun dalam euforia yang sangat luar biasa. Mereka melupakan sekat-sekat primordial dan politik, dan semuanya menyatu dalam luapan kegembiraan yang membuncah.

Maka dari itu, Mesir mendapatkan momentum yang sangat luar biasa. Pada akhirnya, sepakbola bukan hanya sekadar permainan antara satu tim kesebelasan dengan tim kesebelasan yang lain. Sepakbola adalah instrumen penting pemersatu bangsa.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat kepada Mesir atas pencapaian yang luar biasa dalam dunia sepakbola. Semoga pencapaian tersebut terus merambah ke berbagai bidang-bidang yang lain: ekonomi, riset, pendidikan, dan lain-lain. Di Piala Dunia 2018 nanti, saya akan dukung Timnas Firaun. Negeri yang telah menjadi bagian dari hidup saya, menimba ilmu dan mempelajari peradabannya yang luar biasa itu.

Zuhairi Misrawi intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed