DetikNews
Rabu 11 Oktober 2017, 16:20 WIB

Kolom

Mengingat Kembali Sang "Pendekar Pena"

Imam Nahrawi - detikNews
Mengingat Kembali Sang Pendekar Pena Mahbub Djunaidi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Mahbub Djunaidi, sosok aktivis dan politisi, lebih dikenal lewat tulisan-tulisannya yang satir dan jenaka di berbagai koran, tabloid, dan majalah di pengujung akhir Orde Lama hingga beberapa tahun menjelang tumbangnya Orde Baru. Mantan Ketua PWI periode 1965-1970 ini mengembuskan napas terakhirnya bersamaan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 1995.

Meski sudah lebih dari dua dekade, ingatan tentangnya dari para keluarga, sahabat, kolega masih terasa begitu nyata dan hidup.

Ingatan-ingatan itu akan dapat kita jumpai saat membaca buku Bung: Memoar tentang Mahbub Djunaidi. Sosok Mahbub Djunaidi yang begitu dekat dengan keluarga berhasil digambarkan oleh penulis Iwan Rasta dan Isfandiari MD —yang tidak lain dan tidak bukan adalah putra Mahbub— dengan sangat nyata. Isfan menceritakan bagaimana Mahbub tak mau dipanggil dengan sebutan apa saja kecuali dengan "Si Bung".

"Nggak cuma anaknya panggil Si Bung, cucunya juga nggak boleh panggil kakek atau engkong. Cukup Bung saja." (hlm. 17). Mahbub tidak ingin merasa tua, pikiran dan jiwanya selalu muda.

Ada juga beberapa kesaksian dari para sahabatnya, salah satunya adalah Jakob Oetama, Sekjend PWI di periode yang sama dengan Mahbub. Baginya, Mahbub adalah manusia yang khas dan berkarakter. Saat dia menulis kritik, kritik-kritik tajamnya disampaikan dengan cara yang berbeda, tidak seperti orang lain pada umumnya yang disampaikan dengan kaku dan cenderung uring-uringan. Mahbub menuliskan kritiknya dengan humor, luwes, sederhana, tidak meledak-ledak. Dari gaya tulisannya yang penuh tawa namun nyentil itulah Mahbub berhasil mempengaruhi orang-orang.

"Tulisannya menjadi trendsetter itu waktu. Dia mempengaruhi public opinion," kata sohib karibnya Ridwan Saidi (hlm. 33).

Selera Humor

Mahbub dalam tulisan-tulisannya hampir selalu menggunakan humor untuk melihat fenomena kehidupan. Humor adalah cara Mahbub untuk mengajak seseorang masuk ke suatu masalah, lalu melihat masalah dengan bahasa keseharian yang mudah dipahami oleh seluruh lapisan, jauh dari kesan kaku dan formal. Humor dijadikan sebagai senjata untuk menggelitik sekaligus mengkritik pemerintah yang lalai.

Dalam buku ini pembaca akan menjumpai kembali beberapa tulisan jenaka nan jahil Mahbub yang pernah tersiar di berbagai surat kabar dan majalah.

Sebagai seorang penulis, kepiawaian Mahbub Djunaidi tidak ada yang meragukannya lagi. Ia adalah 'mazhab' penulisan kolom di Indonesia. Kalau di Amerika ada Art Burchwat maka di Indonesia ada Mahbub Djunaidi yang cerdas, tajam, aktual, dan yang penting lucu.

Mahbub Djunaidi barangkali sedang berakrobat saat sedang menulis. Ibarat seorang jawara atau pendekar silat, ia tak pernah kehabisan jurus. Selalu ada dan terus ada.

Di banyak tulisan-tulisannya, Mahbub Djunadi —sebagaimana yang dia akui bahwa ia seorang generalis, bukan spesialis— mengarahkan pandangan dan pengamatannya di hampir semua bidang. Ekonomi, politik, hukum, pendidikan, olahraga, film, sastra hingga soal remeh-temeh seperti keberadaan jembatan. Luasnya bidang yang menjadi objek garapan dan pandangannya tersebut, uniknya, tidak pernah mempengaruhi cara pandang khas Mahbub Djunaidi yang selalu bisa mengemas dengan mudah, simpel, dan tidak rumit untuk dipahami

"Tidak ada hubungannya antara pintar sama ruwet. Orang-orang pintar adalah orang yang bicaranya bisa dipahami. Orang yang tidak bisa dipahami ya namanya orang ruwet," begitu tulis Mahbub Djunaidi dalam salah satu kolomnya di Kompas pada 1987.

Bung: Buku Ingatan Kebahagiaan

Mahbub Djunadi hidup. Ia tidak mati. Sebab nilai-nilai, contoh keteladanan, dan juga misi perjuangannya bersemai dan terus menyebar di seantero penjuru negeri hingga saat ini. Tulisan-tulisannya yang membuat ia abadi.

Dalam buku Bung: Memoar tentang Mahbub Djunaidi ada banyak kebahagiaan yang telah dituliskan oleh keluarga, sahabat, kolega dan bahkan para penggemarnya di era sekarang ini. Sosok Mahbub memang tak pernah habis untuk diperbincangkan. Tulisannya yang segar, humornya kadang membuat kita terhenyak. Ia sosok idealis, yang selalu memperjuangkan humanisme, egaliter, berada di garis terdepan melawan segala bentuk ketidakadilan dan feodalisme.

Buku ini dihadirkan untuk mengenang sekaligus mencoba melihat sisi lain seorang Mahbub Djunaidi di mata keluarga dan orang-orang yang sempat mengenal almarhum (Mirasari Djunaidi, hlm. 99). Namun sayangnya, rekaman kehidupan keseharian Mahbub ini tidak terlalu mendominasi isi buku.

Patut disyukuri, kehadiran buku ini semakin melengkapi keberadaan buku biografi Mahbub Djunaidi yang sudah terlebih dahulu meluncur ke publik. Yakni, Surat-Surat Pribadi Sang Pendekar Pena Mahbub Djunaidi (1996) dan Mahbub Djunaidi: Seniman Politik dari Kalangan NU Modern (2001). Selamat membaca!

Imam Nahrawi Menteri Pemuda dan Olahraga


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed