DetikNews
Rabu 11 Oktober 2017, 12:08 WIB

Kolom

Merawat Imajinasi Indonesia

Wildan Sena Utama - detikNews
Merawat Imajinasi Indonesia Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Saya yakin sebagian besar dari kita setuju bahwa bangsa Indonesia adalah sebuah komunitas majemuk yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, tradisi, dan budaya. Meskipun demikian, yang majemuk ini sepakat untuk bersatu dalam sebuah entitas yang bernama Indonesia. Namun, apakah kita pernah bertanya mengapa konsepsi yang demikian bisa muncul?

Selama ini kita cenderung menerima gagasan yang demikian secara taken for granted. Tanpa pernah mencari tahu mengapa dan bagaimana gagasan seperti itu muncul. Mengapa, misalnya, bangsa ini tidak dibentuk didasarkan pada ikatan kesukuan atau solidaritas berbasis agama? Di tengah menguatnya kebencian yang diarahkan terhadap etnis Tionghoa, kepercayaan terhadap gagasan khilafah, serta gerakan terorisme maka pertanyaan tentang siapa diri kita menjadi relevan.

Siapakah kita, bangsa Indonesia? Satu-satunya cara mencari tahu jawaban itu adalah dengan memahami sejarah alasan adanya (raison d'etre) Indonesia. Tanpa mengetahui konteks dari perkembangan gagasan Indonesia maka kita tidak akan tahu mengapa secara konseptual gagasan Indonesia yang disepakati oleh Bapak dan Ibu Bangsa bisa seperti sekarang ini. Melalui sejarah kita akan memahami identitas kita.

Gagasan Baru

Gagasan Indonesia sebenarnya adalah sebuah gagasan baru, yang muncul di awal abad ke-20. Namun, kemunculannya tidak bisa dilepaskan dari situasi abad ke-19 ketika pendidikan yang mulai dicicipi oleh segelintir elite membawa perubahan cara berpikir dalam memaknai identitas dan keadaan sosial politik waktu itu.

Di sebuah wilayah yang jauh dari ibukota kolonial di Batavia, di Jepara pada akhir abad ke-19, seorang gadis ningrat muda berusia belasan tahun bernama Kartini gelisah melihat struktur feodalisme Jawa, buruknya kesejahteraan dan kesehatan pribumi, dan tidak meluasnya pendidikan untuk pribumi dan perempuan. Meskipun Kartini hanya bersekolah sampai umur 12 tahun, penguasaan menakjubkannya terhadap bahasa Belanda membuka cakrawala imajinasinya melampaui dunia Jepara yang terpencil.

Gagasan Kartini, menurut Pramoedya Ananta Toer, merupakan gejala dari munculnya "gerakan pencerahan" di akhir abad ke-19 yang menjadi spirit baru di kalangan elite pribumi yang berpengaruh dalam memunculkan gagasan tentang "nation". Salah satu titik balik yang muncul dari adanya gerakan kemajuan ini adalah robohnya struktur feodalisme dengan ditinggalkannya "kebangsawanan keturunan" (nobility by birth). Para elite pribumi baru yang tercerahkan memilih meraih kebangsawanan mereka dengan peningkatan kapasitas diri melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan, atau dalam bahasa Ahmad Rivai "kebangsawanan pikiran" (nobility by intellect).

Para keturunan bangsawan dan priyayi ini umumnya mengambil "jalan pedang" dengan menolak mengikuti pekerjaan yang turun-temurun dalam tradisi kebangsawanan orangtua mereka. Dan, lebih memilih menempuh jalur profesional seperti wartawan, guru, dokter, dan pengacara untuk meraih status sosial mereka.

Proses Dialektika

Gagasan Indonesia dibentuk melalui proses dialektika yang panjang dan dinamis. Dipengaruhi oleh munculnya penerbitan dan pers, serta tidak kalah pentingnya sastra pra-Indonesia dan asimilasi yang didominasi oleh kalangan Tionghoa dan Indo-Eropa yang dituliskan dalam bahasa Melayu Pasar. Menurut Hilmar Farid (2008), melalui sastra dan bahasa di dalam karya-karya tersebut, "Indonesia" dirumuskan dan disebarkan kepada publik.

Salah satu titik pencapaian penting dalam perkembangan gagasan "nation" dipengaruhi dengan munculnya berbagai organisasi modern. Dipengaruhi oleh tulisan Rivai, seorang dokter Jawa Wahidin Soedirohoesodo menyatakan bahwa para priyayi harus mempunyai semacam asosiasi demi sebuah kemajuan (Abdullah, 2009).

Pada 1908 pandangan perubahan itu diterima dengan penuh semangat oleh para priyayi Jawa melalui pendirian organisasi Boedi Oetomo (BO). BO merupakan perwujudan kesadaran baru dan solidaritas sosial di antara sejumlah kecil orang Jawa untuk meningkatkan kebanggaan atas budaya sendiri dengan menempatkan kembali dan memperkuat budaya Jawa (Elson, 2009).

Selain munculnya solidaritas yang berbasis kesukuan. Suatu pencapaian penting lainnya dirintis oleh seorang jurnalis dan wiraswastawan bernama Tirtoadhisoerjo yang mengembangkan sebuah organisasi yang bernama Sarekat Dagang Islam. Organisasi ini didirikan untuk mengangkat status kaum mardika (pedagang, petani, dan artisan) di bawah panji Islam (Abdullah, 2009). Sejak 1912 organisasi ini semakin membesar, menjadi gerakan politik menggunakan Islam sebagai penanda "solidaritas nasional" dan "pribumi" di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto yang kharismatis, dan berubah menjadi Sarekan Islam (SI).

Namun, menurut Elson (2009), gagasan yang jauh lebih penting, berkembang, dan modern dari BO dan SI adalah konsep Indonesia yang digaungkan oleh triumvirat punggawa Indische Partij (Soewardi Soerjaningrat, Douwes Dekker, dan Tjiptomangoenkoesomo). Organisasi yang didirikan pada 1912 ini mempunyai keyakinan bahwa yang memberikan kekuatan kepada gagasan Indonesia bukanlah kesatuan yang dibangun atas solidaritas etnis atau keterikatan keagamaan, melainkan rasa kesamaan pengalaman (sebagai orang tertindas) dan solidaritas khusus yang mengalir darinya. (Elson, 2009)

Indische Partij (IP) ingin membangun Hindia berdasarkan kesetaraan kemanusiaan sekuler yang tidak memandang perbedaan ras, agama, intelektualitas, dan budaya. Berbeda dengan BO dan SI yang dibangun sebagai reaksi terhadap keterbelakangan dan kemiskinan, IP mendefinisikan eksistensinya sejak awal merupakan antitesis terhadap logika negara kolonial (Abdulah, 2009).

Gagasan Indonesia yang dibangun oleh IP inilah yang memberikan pondasi penting terhadap cara berpikir intelektual dan aktivis antikolonial Indonesia selanjutnya. Ketika trio IP ini diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Belanda setelah tulisan Soewardi yang mengegerkan jagat kolonial berjudul Seandainya Aku Seorang Belanda, mereka tidak berhenti beraktivitas politik. Malahan mereka membentuk pemikiran mahasiswa Indonesia di Belanda yang tergabung dalam Indische Vereeniging, cikal bakal Perhimpunan Indonesia, untuk lebih menaruh perhatian dengan kondisi tanah air dan merumuskan kembali apa itu menjadi Indonesia.

Tidak hanya berpengaruh ke dalam pemikiran mahasiswa Belanda, gagasan persatuan dari IP ini mempengaruhi corak pemikiran Sukarno. Baik Dekker dan Tjiptomangoenkoesomo adalah dua orang yang dihormati dan dianggap mentor oleh Sukarno ketika ia berkuliah di Bandung. Bila dilihat secara seksama, gagasan kebangsaan dari IP dikembangkan kembali oleh Sukarno di dalam Pancasila.

Menjadi Indonesia

Dengan memahami sejarah perkembangan gagasan Indonesia kita akan mahfum mengapa secara konseptual gagasan bangsa Indonesia yang kita kenal saat ini bisa seperti ini. Gagasan Indonesia tidak tiba-tiba muncul dari langit, tapi melalui proses dialektika gagasan dan perjuangan politik yang panjang.

Ketika konsep yang dicita-citakan itu ditransformasikan dalam bentuk negara-bangsa bukan berarti gagasan bangsa Indonesia sudah selesai. Indonesia memang sudah menjadi bangsa, tetapi menurut Franz Magnis-Suseno proses menjadi bangsa merupakan proses panjang yang harus dirawat, diingat, dirangsang, diusahakan, dan didiskusikan terus-menerus.

Magnis-Suseno menambahkan, karena kebangsaan itu merupakan hasil proses di dalam sejarah maka sejarah bangsa Indonesia tidak boleh dilupakan, supaya bangsa ini bisa menghadapi tantangan yang dihadapi sekarang.

Memahami mengapa menjadi Indonesia adalah menjadi bangsa yang toleran, menghargai perbedaan, dan egaliter kita harus memahami sejarah dari gagasan Indonesia itu sendiri. Namun, sejarah itu sejatinya adalah persoalan masa kini. Kepentingan politik masa kini mendorong orang-orang berkontestasi terhadap sejarah untuk membangun memori kolektif di masyarakat agar sesuai dengan kerangka berpikir kepentingan mereka.

Oleh sebab itu, menjadi Indonesia tidak hanya berhenti mengenal siapa diri kita, tetapi yang juga tidak kalah pentingnya merawat gagasan dan imajinasi tentang menjadi bangsa Indonesia itu sendiri.

Wildan Sena Utama sejarawan, alumnus pascasarjana Institute for History, Leiden University

(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed