DetikNews
Selasa 10 Oktober 2017, 13:20 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Dari Oleh-Oleh Turis Miskin ke Siraman Bensin

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Dari Oleh-Oleh Turis Miskin ke Siraman Bensin Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Ivon/detikcom)
Jakarta - Suara serak itu terus mendengung di telinga saya. Ceramah panjang penuh teriakan, yang pada akhirnya memunculkan kalimat indah, "Kalau ketemu orang pakai atribut PKI, nggak usah lapor polisi! Cukup siram bensin saja, bakarrrr!"

Saya tak hendak membicarakan ancaman itu, atau membahas betapa mengerikannya citra Islam saat dibawakan oleh orang seperti itu. Buat saya lebih menarik berbincang tentang atribut PKI yang dia sebut-sebut tadi. Ini menyenangkan, meski Oktober terus merambat ke tengah dan seharusnya topik PKI sudah dilempar ke tempat sampah.

Hmm, atribut PKI. Saya yakin, yang dimaksud oleh Lelaki Bersuara Serak adalah beberapa anak alay yang tepergok memakai kaos bergambar palu-arit. Misalnya Si Dedek Putri Indonesia waktu itu, juga seorang anak galau aktivis LSM yang pasang foto di medsos saat ikut demo Hari Buruh.

Berbeda dengan Lelaki Bersuara Serak, saya sendiri yakin yang dipakai anak-anak kebelet-ngeksis itu bukan atribut PKI, melainkan PKV. Partai Komunis Vietnam. Jadi sebenarnya bisa saja para pemuda-pemudi caper itu membantah, "Lhooo ini bukan lambang PKI! Ini PKV!" (Tentu saja itu cuma bisa mereka lakukan jika yang menangkap mereka tidak langsung menyiramkan bensin.)

Kenapa Vietnam? Apakah karena Vietnam pusat ajaran komunis dewasa ini? Atau karena Sekjen Partai Komunis Vietnam sedang giat bersafari, demi menjajakan ideologi komunis ke segenap penjuru bumi?

Nehi, nehi. Alasan sesungguhnya sederhana saja, yakni karena banyak anak backpacker Indonesia yang jalan-jalan ke Vietnam. Tiket pesawat ke sana murah, lebih murah ketimbang ke Labuhan Bajo apalagi Raja Ampat. Vietnam pun negara aman, biaya makan rendah, rendah juga biaya operasional lainnya semacam transportasi dan penginapan. Segenap faktor pendukung turisme itu menjadikan Vietnam salah satu tujuan awal para backpacker pemula yang anggarannya masih ecek-ecek.

Sayangnya, para turis kelas ekonomi itu nurut saja waktu teman-teman mereka bilang, "Oiii bawain oleh-oleh kaos palu-arit ya coyyy!" Lalu terjadilah apa yang akhirnya harus terjadi.

Padahal, alih-alih menenteng suvenir pembawa malapetaka, sebenarnya akan jauh lebih berfaedah bila mereka pulang membawa kisah tentang Vietnam, lalu menyebarkannya ke masjid-masjid. Dengan menceritakan bagaimana sejatinya negara Vietnam, bisa jadi Lelaki Bersuara Serak kepingin ikut jalan-jalan pula.

Coba bayangkan, bagaimana bila imajinasi di kepala beliau tentang sebuah negara komunis akhirnya ambrol berkeping-keping? Mungkin dia lantas membuka fanpage-nya, lalu mengunggah kalimat Mark Twain dari buku The Innocents Abroad:

"Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness, and many of our people need it sorely on these accounts. Broad, wholesome, charitable views of men and things cannot be acquired by vegetating in one little corner of the earth all one's lifetime."

***

Saya menginjakkan kaki di Ho Chi Minh City pada saat yang tepat. Bulan April 2015 adalah ulang tahun ke-40 Reunifikasi, alias bersatunya Vietnam Utara dan Selatan. Poster-poster Ho Chi Minh, Bapak Persatuan Vietnam—yang kata almarhum Mahbub Djunaidi tampangnya mirip pensiunan kepala sekolah itu—mejeng di sudut-sudut kota.

Bagaimana dengan simbol palu-arit? Wo ya jelas ada. Mereka hadir di bendera kecil-kecil, sudut-sudut poster, juga umbul-umbul. Saya membayangkan bakalan sempurnalah suasana bermandi palu-arit itu jika pemandangan ibukota Vietnam ditingkahi barisan milisi sipil yang sedang berbaris, atau para pemuda yang sambil melotot menyanyikan Genjer-Genjer.

Nyatanya tidak. Yang saya lihat adalah kota normal yang relatif bersih, fasilitas publik yang bagus, para penduduk yang lumayan ramah dan terkesan "sadar wisata". Beberapa masjid pun beraktivitas dengan lancar, tanpa muncul moncong bedil yang memaksa Pak Marbot agar keluar dari Islam dan jadi atheis, atau agar ia bersujud sambil menangis haru di depan poster Kim Jong Un.

Imaji akan sebuah negara komunis semacam Korea Utara memang tak ada. Bahkan tidak saya jumpai tentara-tentara yang berseliweran untuk menjaga ideologi bangsa. Tempat-tempat yang berbau militer dan kental dengan tendesi ideologis hanyalah beberapa museum dan situs bersejarah, dan semua itu dirawat sebagai pengawet kebanggaan nasional Vietnam.

Dari semua yang saya kunjungi, yang paling menonjol adalah War Remnant Museum, ajang pertunjukan yang memamerkan kejayaan tentara Ho Chi Minh dalam melibas para gringo Amerika.

Perancang museum agaknya sangat sukses mendefinisikan betapa laknat-bedebah-nya para koboi Amerika itu. Jajaran foto karya para martir war-photographer berikut teks-teks naratif yang dipampangkan di sana menelanjangi kejahatan serdadu Amerika sebugil-bugilnya. Mereka yang dengan mata dingin menembaki petani-petani tak berdaya, menghamburkan biji-biji pelor ke dada para ibu sekaligus bayi-bayi mereka, melemparkan bom napalm yang membakar habis hutan-hutan dan segala jenis kehidupan sambil persetan siapa saja yang ikut tewas bersamanya.

Saya rasa, cita rasa komunis di ibukota Vietnam yang saya jumpai ya cuma museum itu saja, ditambah gambar-gambar Ho Chi Minh dan logo palu-arit itu tadi. Selebihnya palu-arit itu mesra bersanding dengan gerai McDonald, menjadi latar cantik dalam adu balap anjing-anjing mahal berbulu sutra di square sebelah Saigon River, juga menjadi dekorasi cakep untuk adegan senjang yang jauh dari kesan sama-rata-sama-rasa: ketika para pedagang asongan mengangkat pikulannya dan menggenjot sepeda reotnya sambil melipir di sela mobil-mobil Mercy dan Cadillac kinclong, di parkiran belakang Gereja Saigon Notre Damme.

Nah. Komunis? Yakin?

Jangan juga membayangkan bahwa kaos palu-arit adalah pakaian resmi penduduk Ho Chi Minh City. Kaos itu cuma dijual sebagai cenderamata, itu pun tak banyak kios yang menggelarnya. Bahannya kebanyakan sekelas saringan tahu, dan orang pertama berkaos palu-arit yang saya jumpai justru muncul keluar dari Masjid Dong Du usai salat Magrib!

Maka, betapa saya sama sekali tidak heran, ketika tahu bahwa si pria berkaos merah itu turis Indonesia pula! Hahaha.

Ketika sehari kemudian saya pindah ke kota kuno Hoi An, saya pun latah. Saya belilah satu singlet cap palu-arit, lalu memakainya untuk berjalan-jalan. Niatnya sekadar biar merasakan sensasi yang berbeda, sembari menjalankan peran sebagai antropolog nirlaba. Namun apa yang terjadi, Saudara? Orang-orang malah memandang saya dengan tatapan "idih".

Beberapa menit kemudian akhirnya saya paham, bahwa keliling kota di Vietnam dengan memakai kaos palu-arit tak bedanya dengan keliling Bandung atau Jogja pada tahun 1990-an sambil dengan bangga mengenakan kaos Golkar.

***

Tenang, Mas, Mbak. Saya tidak sedang melancarkan propaganda agar kaos palu-arit dijual dan dipakai bebas di Indonesia. Cerita kecil di atas tadi cuma gambaran, bahwa kaos sialan yang beberapa kali tepergok dipakai para anak muda alay itu jauh dari muatan ideologis. Itu bukan hasil sablonan Wahyu Setiaji, tokoh gaib pemimpin PKI Baru yang pernah disebut-sebut sama Pak Kivlan Zein itu.

Sementara anak-anak yang memakainya itu cuma kalangan borjuis kecil yang berfoto chibi-chibi, sambil merasa keren karena tampak rebel, mejeng dengan produk fashion yang secara resmi terlarang di Indonesia.

Saya sendiri sinis sama anak-anak labil itu. Kalau memang mereka mengaku memperjuangkan kritik sejarah, atau membela para korban tak bersalah pada Tragedi 1965, lantas apa relevansinya pamer kaos komunis? Tak ada sama sekali efek positifnya, selain memunculkan resistensi dan kian membuat publik awam menganggap sama antara "rehabilitasi korban Tragedi 1965" dan "upaya membangkitkan lagi PKI".

Itu poin pertama dari saya. Adapun poin kedua adalah tentang paranoia berlebihan yang selalu kita suburkan, dan itu mesti diluruskan.

Maksud saya, acapkali kita manusia Indonesia membayangkan komunisme itu tunggal dan tidak terpecah ke dalam beberapa versi tafsir dan penerapan. Kita tak bisa membedakan antara komunisme Rusia, komunisme Cina, komunisme Kamboja, komunisme Korea Utara, komunisme Vietnam, komunisme PKI Indonesia dulu kala, dan komunisme lainnya lagi.

Maka ketika Pol Pot di Kamboja membantai di bawah bendera palu-arit, kita menganggap bahwa itu pun dosa Ho Chi Minh, bahkan dosa Che Guevara. Ketika rakyat Korea Utara menjadi manusia setengah robot, dikiranya di Vietnam pun begitu. Padahal sungguh mati, tak ada saya lihat di negeri itu satu biji manusia pun yang mengangguk di depan gambar Ho Chi Minh, apalagi membungkuk, apalagi bersimpuh.

Jadi sebenarnya, ketika kemarin datang tim kunjungan kerja sama perdagangan di bawah Sekjen Partai Komunis Vietnam, tak perlu serta-merta kita melihatnya sebagai kemunculan genderuwo jelmaan Aidit dan Musso.

Sebagai perbandingan, muslim Indonesia tidak mau disamakan dengan Taliban, ISIS, atau Boko Haram. Secara terbuka ataupun tidak, kita mengakui bahwa Islam tidak tunggal dalam penafsiran. Namun di saat yang sama kenapa kita memandang ideologi-ideologi di luar Islam secara mentahan gebyah uyah tanpa sedikit pun upaya pemetaan?

Poin ketiga sekaligus terpenting, mohon disampaikan kepada Sang Lelaki Bersuara Serak. Begini. Harga BBM kian mahal. Jadi pada hemat saya, akan mubazir sekali rasanya kalau bensin cuma kita habiskan untuk acara siram-siraman.

Iqbal Aji Daryono penyuka jalan-jalan murah, tidak menerima titipan oleh-oleh kaos palu-arit


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed