detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 06 Oktober 2017, 13:02 WIB

Kolom

Hantu Masa Lalu dan Kesenjangan Lintas Generasi

Arie Saptaji - detikNews
Hantu Masa Lalu dan Kesenjangan Lintas Generasi Arie Saptaji (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Generasi tua dan generasi muda kerap tidak nyambung satu sama lain. Alih-alih bekerja sama, mereka malah berjalan sendiri-sendiri. Lebih parah lagi, saling salah paham, bertikai, dan saling menyakiti.

Film horor kadang-kadang memotret realitas getir itu dengan baik. Tontonlah, misalnya It (Andy Muschietti, 2017), yang diangkat dari novel Stephen King. Sebuah potret yang mengenaskan.

Oktober 1988. Hujan lebat sore itu. Bill, seorang remaja gagap, membuatkan perahu kertas untuk adiknya, Georgie. Georgie melepaskan perahu itu di depan rumah dan mengikutinya sepanjang jalan terbawa aliran air hujan, sampai perahu itu menghilang di lubang saluran air tepi jalan. Beberapa saat kemudian, Georgie turut menghilang.

Tidak ada yang melihat Georgie dicaplok tangannya sampai putus dan diseret ke lubang saluran air oleh monster berwujud badut. Seorang nenek yang tinggal di sebelah ada melihat genangan seperti darah, tetapi ia mungkin menganggapnya air kotor belaka. Ia tidak berbuat apa-apa.

Musim panas berikutnya, Bill masih trauma oleh kehilangan itu. Dan, tentu, merasa bersalah. Ia membayangkan bisa jadi Georgie masih hidup, terdampar di Barrens, sebuah daerah rawa-rawa yang berada di salah satu ujung saluran air. Ia sangat ingin menemukannya.

Di sekolah ia berteman dengan sekelompok anak yang sama-sama kerap dirundung kakak kelas mereka. Mereka tak segan menyebut diri mereka Kelab Pecundang. Setelah memikir-mikirkan pengalaman mereka, menautkan berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini, dan salah seorang dari mereka menelusuri sejarah kota kecil itu, mereka tersadar bahwa hilangnya Georgie—dan Georgie bukan satu-satunya anak yang hilang—bukanlah kehilangan biasa. Ada sesosok monster misterius di balik karut-marut ini.

Mirip dengan boggart dalam serial Harry Potter, monster itu menghantui mereka berdasarkan kelemahan dan ketakutan mereka masing-masing. Dalam genre horor, monster biasanya berfungsi sebagai simbol trauma, luka batin, ancaman, atau ketakutan yang siap-siap mengerkah dan melumpuhkan daya hidup kita.

Begitulah. Bagi Bill, monster itu menyatroninya dalam wujud, ya, siapa lagi kalau bukan Georgie, adik yang dirindukannya. Bagi Stan, monster itu mengendap-endap di balik lukisan seram di kamar kerja ayahnya. Bagi Eddie, monster itu mewujud dalam sesosok penderita kusta. Bagi Beverly, satu-satunya perempuan di kelab itu, si monster menyembur dari wastafel sebagai darah (menstruasi?) yang memerahkan seluruh dinding dan lantai.

Namun, mereka mesti menghadapi monster itu sendiri. Ayah Bill—entah ikhlas entah acuh tak acuh—percaya Georgie sudah mati. Ia memarahi Bill, menganggapnya berkhayal, dan menyuruhnya beranjak dari kenangan buruk itu. Orangtua lainnya—ayah Beverly dan petugas perpustakaan—tidak dapat melihat penampakan si monster.

Bukan hanya tidak membantu, para orangtua itu malah mengganggu. Kakak kelas merundung mereka sampai pada taraf yang mengancam keselamatan jiwa. Eddie dilindungi secara berlebihan oleh ibunya—sebenarnya disekap karena dia dipandang ringkih, sakit-sakitan, dan keluyuran di luar bakal membahayakan kesehatannya. Adapun Beverly, duh Gusti, nyaris digagahi ayahnya sendiri.

Maka, dengan bergandeng tangan, mereka pun melawan. Melawan kakak kelas. Melawan orangtua. Dan, akhirnya, melawan monster seram itu di dasar sumur yang kelam. Meskipun berakhir melegakan, It adalah film pedih yang menyayat perasaan. Pola kesenjangan serupa juga muncul dalam Goosebumps. Serial yang digarap berdasarkan novel R.L. Stine ini sekian tahun lalu pernah ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta.

Sebagaimana lazimnya film serial, Goosebumps mengolah kerangka cerita yang itu-itu juga. Tinggal tokoh-tokoh, latar, dan peristiwanya diubah-ubah. Anak-anak terpapar pada dunia supernatural yang mencekam dan nyaris mencelakakannya. Mereka tidak berdaya, tetapi suka atau tidak suka mesti mengerahkan akal untuk mengatasinya—tanpa bantuan orang dewasa.

Orang-orang dewasa tidak pernah digambarkan sebagai bagian dari pemecahan masalah. Mereka cenderung menepis begitu saja cerita si anak tentang dunia supernatural itu sebagai khayalan belaka, suatu dalih untuk menutupi kenakalan. Lebih jauh lagi, orang dewasa tidak jarang justru menjadi penghambat dan memperparah masalah.

Goosebumps melukiskan dunia anak-anak/remaja dan dunia orang dewasa sebagai dua dunia yang tak terjembatani. Tak ayal Goosebumps berpihak pada dunia anak. Ia tampaknya hendak mengatakan, "Kids, you are on your own now. Kalian bisa mengambil keputusan sendiri, dan bisa menyelesaikan masalah sendiri. Tak perlu nasihat orangtua. Paling-paling mereka juga tidak mengerti. Bisa-bisa mereka malah akan merusak kebahagiaan kalian."

Lagi-lagi, potret kesenjangan lintas generasi yang menyedihkan.

Belakangan ini, di negeri ini, kesenjangan itu tampil secara arogan, tetapi kemudian berkelok jadi menggelikan. Panglima TNI Gatot Nurmatyo memerintahkan jajarannya nonton bareng (nobar) film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Perintah ini lalu melebar dengan pengadaan nobar di desa-desa dan sekolah-sekolah.

Nobar mestinya asyik-asyik saja. Namun, menjadikan satu film propaganda sebagai satu-satunya versi kebenaran tentang peristiwa 1965 dan berharap generasi masa kini menelannya begitu saja, jelas arogan dan tidak peka zaman. Padahal, tidak sedikit data-data baru yang telah terungkap. Padahal, ada pula film-film lain yang menawarkan sudut pandang berbeda. Dan, orang diharapkan terus berpegang hanya pada satu versi kebenaran?

Mari kita bikin pengandaian begini. Tragedi 1965 adalah "monster", luka dan trauma sejarah yang mendalam bagi bangsa ini. Namun, bagaimanapun itu adalah monster bagi generasi tua. Mereka mestinya sudah menyelesaikannya, entah melalui jalur yudisial entah melalui jalur rekonsiliasi. Mestinya generasi milenial sudah tinggal menghirup udara segar yang terbebas dari dendam masa silam.

Nyatanya tidak. Luka itu malah dilanggengkan, terus dikorek-korek, dan setiap kali siap dijadikan "hantu" yang dibangkitkan kembali untuk mengintimidasi, tampaknya guna memuaskan syahwat kekuasaan pihak tertentu. Dan kini, monster itu masih juga mau dilepaskan bagi generasi milenial. Setengah abad sudah lewat, dan kita seakan belum beranjak ke mana-mana.

Padahal, generasi milenial tentunya memiliki monster mereka sendiri. Mereka punya luka, trauma, ancaman, dan ketakutan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Alih-alih dibantu, didampingi, diringankan bebannya, ini malah dijatuhi beban tambahan yang tak kepalang tanggung beratnya: "monster" warisan dendam kesumat masa lalu. Ah, generasi tua itu bersikap seperti para orang tua di It dan Goosebumps.

Hasilnya? Segera saja muncul video parodi film bersangkutan versi generasi milenial. Meme dan celetukan lucu bertebaran di media sosial. Dan, dalam suatu nobar, baru 30 menit film berputar, sebagian siswa sudah terlelap. Arogansi itu pun berkelok jadi komedi. Mudah-mudahan sang jenderal lantas menyadari kekonyolan sikap ngototnya itu.

Arie Saptaji penulis, penerjemah, editor, suka film horor dan komedi. Tinggal di Yogyakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed