Perihal Asal Usul Massa Gaib Tak Dikenal dan Sejarah Kegelapan Islam
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Kalis

Perihal Asal Usul Massa Gaib Tak Dikenal dan Sejarah Kegelapan Islam

Jumat, 22 Sep 2017 18:02 WIB
Kalis Mardiasih
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Perihal Asal Usul Massa Gaib Tak Dikenal dan Sejarah Kegelapan Islam
Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom)
Jakarta - Massa yang mengepung acara diskusi, solidaritas dan kesenian bertajuk Asik-Asik Aksi di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta 16 Sptember lalu bagi saya tak lebih dari sebuah kekonyolan. Lupakan soal aspirasi anti-komunis yang konon mereka suarakan, lupakan soal pertanyaan terkait skenario tahunan akhir bulan September yang sering dimanfaatkan untuk membikin psikologi ketakutan massa yang dibesar-besarkan.

Perkara sudah lebih dari jelas. Ratusan orang tiba-tiba datang kesiangan ketika acara sudah hampir usai, dan media pada awalnya menuliskan identitas mereka sebagai massa tak dikenal. Mereka mengaku hanya memperoleh desas-desus dari grup Whatsapp. Betapa maha dahsyat grup Whatsapp dengan segala hoax pesan berantainya!

Beberapa jam kemudian, sesudah segala teriakan dan takbir, juga aksi yang semakin memanas hingga tengah malam dan menyisakan kantor YLBHI yang rusak sebab dilempari batu, massa menyebutkan dari mana mereka berasal. Ulala, ternyata baru ketahuan, bahwa massa ini adalah massa yang sama dengan yang biasa hadir kesiangan pada aksi-aksi provokatif serupa, dan sering berganti-ganti nama. Mulai dari mengatasnamakan masyarakat anti-komunis, pelajar Islam, alumni angka-angka cantik, alumni pengajian tertentu, sampai dukun santet KPK. Benar-benar berlimpah stok nasi bungkusnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saya nggak habis pikir perihal motivasi pejabat dan politisi kaya yang menyambi jadi korlap ngehe buat massa-massa gaib begitu. Di dunia maya, The Godfather itu kerapkali mencitrakan diri sebagai kaum sosialita Islami. Lebih heran lagi karena para penyandang dana ini kerapkali didukung oleh tokoh-tokoh reformasi tua yang dulu intelektualitasnya dikagumi banyak orang, tapi makin tua entah kenapa mereka tak memilih strategi high politics agar dikenang sebagai guru bangsa, malah bertindak pikun sehingga kerap sengaja mengigau hanya untuk ditertawai banyak orang.

Persoalannya, mengapa begitu mudah mengorganisasi massa gaib yang dalam aksi-aksinya terkesan heroik betulan bergerak atas nama dakwah Islam?

Secara sederhana, massa rakyat itu dapat dipahami sebagai orang-orang yang kalah. Dengan mata telanjang dapat kita amati bahwa ketika para penyandang dananya adalah para pejabat yang nyaman berada di gedung tinggi dengan kepemilikan beragam mobil mewah, maka massa aksi berangkat dengan bekal seadanya dan berjalan kaki. Hukum bias kelas adalah nyata.

Kekalahan di bidang ekonomi itu adalah sebentuk hasil dari konservatisme di bidang ilmu pengetahuan. Mereka mengharamkan banyak sekali produk teknologi dengan alibi bahwa temuan-temuan canggih (yang ironisnya masih mereka nikmati) sebagai hasil pemikiran kaum kafir. Padahal, umat ini tak lebih dari umat yang malas berpikir, jumud, dan malu mengakui kemunduran intelektual dan kebudayaan.

Konservatisme ilmu pengetahuan dengan ciri khas sakralitas pada teks-teks masa lalu kemudian melahirkan fundamentalisme dan radikalisme. Dua isme ini adalah pemujaan fanatik pada sebuah produk pemikiran. Mereka menutup mata bahwa kejayaan Islam pada masa silam, yang tercapai selama empat abad lamanya itu adalah sintesis dari kecemerlangan filsafat Yunani, filsafat Persia, filsafat India, dan banyak khazanah ilmu lainnya.

Kejayaan yang pernah membuat bangga Islam itu adalah manifestasi kebebasan berpikir. Kegelapan kembali datang ketika kebebasan itu dihentikan, digantikan dengan penindasan politik yang dibarengi dengan klaim tekstualisme yang mengharamkan kritisisme.

Puncak dari konservatisme yang kelelahan adalah terorisme. Ketiadaan kapital dan modal sosial lain untuk menguasai zaman, membuat kebebalan hanya menyisakan otot, teriakan, pentungan, lemparan batu, hingga cara-cara kekerasan lainnya. Sayangnya, perilaku barbar ini kadangkala bercampur dengan perasaan merasa masih memiliki idealisme, juga tentu saja hasrat-hasrat utopis buat berkuasa. Dalam kelindan itulah, ilusi kebenaran dogmatis yang mereka miliki lalu dibiarkan berselingkuh justru seringkali dengan musuhnya sendiri.

Tengoklah serbuan Mongol pada abad ke-12 ke negara-negara Islam, juga serupa yang terjadi pada narasi perang salib. Sesungguhnya, orang-orang asing tidak cukup percaya diri betul untuk datang jika tidak diundang. Akan tetapi, terjadi perang saudara di antara raja-raja Islam, dan di antara sesama saudara itu lalu meminta bantuan kepada negara lain, si Jengis Khan.

Toh, perihal orang bodoh di dalam negeri yang ingin berkuasa lalu meminta bantuan dari pihak luar yang akhirnya mendatangkan sejarah tawar-menawar kontrak politik ini juga terjadi berkali-kali dalam sejarah kita, sejak zaman raja-raja kolonial hingga barangkali hari ini. Tak ketinggalan, juga untuk kehadiran Amerika yang sengaja diundang oleh negara-negara Arab di Timur Tengah sana, sebab bagi mereka, Amerika justru dianggap lebih baik dibanding saudara semuslimnya sendiri yang dianggap lebih buruk daripada kafir. Takfiri konservatisme yang memproduksi sebuah ironi nasib berpuluh tahun riwayat peperangan.

Kembali kepada massa gaib tak dikenal yang kerapkali hadir seperti tukang parkir yang ujug-ujug datang itu, apa yang mestinya diperbaiki?

Pertama, kita semua tentu mesti bertafakur bahwa ketertinggalan umat dalam ilmu pengetahuan saat ini bukan sebab dizalimi kelompok lain seperti yang sering digaungkan itu. Sebab, sesungguhnya kita sudah tidak meneladani Rasulullah dengan jujur dan benar. Hanya dalam kurun waktu 23 tahun setelah Rasulullah berpidato di Padang Arafah pada Haji Wada', 90 ribu pengikutnya merasa tercerahkan, lalu Islam kemudian menyebar di berbagai belahan dunia.

Apa yang disampaikan Rasulullah? Mengapa ayat iqra turun lebih dahulu dari qulhuwallahu ahad? Apa makna iqra? Apa makna qalam? Mengapa hal ini lebih penting dari apa saja?

Dalam pidato Hak Asasi Manusia pertama di dunia itu, Rasulullah menuntaskan persoalan kemanusiaan dengan berikrar bahwa tidak ada manusia yang lebih baik diukur berdasarkan warna kulit dan asal ras juga bangsa ia berasal. Setelah pesan kesetaraan itu, filosofi iqra yang diturunkan bahkan kepada Nabi yang konon ummiy itu adalah agar kita semua senantiasa awas pada sekitar, memikirkan berbagai fenomena sosial, dan berpikir untuk mewujudkan kemaslahatan dengan bekal akal pikiran, bukan pentungan....

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

(mmu/mmu)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads