DetikNews
Jumat 22 September 2017, 15:06 WIB

Kolom

Suro, Bulan Koreksi Diri

Aris Setiawan - detikNews
Suro, Bulan Koreksi Diri Foto: Bayu Ardi Isnanto
Jakarta - Hari ini masyarakat Jawa memasuki pergantian tahun baru Islam-Jawa, biasa disebut dengan Suro. Berbeda dengan penanggalan pada umumnya, Suro tidak dirayakan secara hura-hura, apalagi menghadirkan musik dangdut dan letusan kembang api. Malam menjelang tahun baru, biasa disebut juga dengan Suran, masyarakat Jawa melakukan prosesi penting sebagai ujud tirakat diri, seperti melekan (tidak tidur), kungkum (berendam di tempat keramat), mbisu (tidak bersuara) serta melakukan penyucian senjata-senjata keramat yang dimilikinya.

Sekilas jejak sejarah Tahun Baru Suro diawali dengan kisah peradaban Jawa yang menganut penanggalan Tahun Saka dari agama Hindu. Namun, sejak Islam masuk, sistem penanggalan mulai berubah menjadi kalender Hijriah. Adapun Sultan Agung (1613-1645) memiliki ide cemerlang untuk memadukan antara penggalan Tahun Saka dan Islam dengan mendudukkan 1 Muharram sebagai Tahun Baru Jawa.

Ritus

Nurshodiq lewat Tradisi Suran dalam Masyarakat Jawa (2008) menyebutkan, terdapat dua tradisi dalam pelaksanaan ritus Satu Suro. Pertama tradisi kecil (the little tradition) yang dilaksanakan oleh masyarakat kebanyakan –akar rumput- dengan melangsungkan kegiatan seperti tersebut di atas. Kedua, tradisi besar (the big tradition) yang dilangsungkan di pusat-pusat kebudayaan seperti keraton.

Poin terakhir menarik untuk diamati, mengingat saat ini posisi keraton (Mataram-Surakarta) sedang di ambang batas eksistensi. Suluh keraton sebagai pusat kosmis bagi masyarakat Jawa semakin luntur. Keraton tak hanya kehilangan legitimasi politis dan ekonomi namun juga kultural. Adanya tradisi Suran dalam konteks ini bisa diamati sebagai salah satu upaya untuk menunjukkan bahwa denyut hidup kultural keraton masih berdetak.

Sebagaimana tradisi lain seperti Grebeg Maulud, bukan semata ritus pesta hasil panen, namun juga dapat dilihat sebagai strategi raja dan keraton dalam menjaga dan mengambil hati masyarakatnya yang selama ini disibukkan dengan hal-hal di luar konteks kultural. Suran dengan demikian menjadi katalisator yang menghubungkan manusia Jawa dalam menelisik jejak dan sejarah kehidupannya untuk kembali mengerti tentang siapa dan dari mana ia berasal.

Ritus Suran di Kasusunanan Surakarta misalnya, terdapat mobilisasi "kekayaan" keraton untuk dipamerkan pada masyarakat luas. Dari senjata-senjata tradisional yang keramat hingga binatang agung yang disebut dengan Kiai Slamet, diarak di jalan-jalan sekitar keraton. Semua dianggap memiliki kesaktian yang sakral. Kiai Slamet adalah kebo albino yang dikisahkan sebagai pemberian Bupati Ponorogo kepada Paku Bawono II.

Uniknya, masyarakat Jawa memiliki kultur kuat dalam mempercayai mitos yang mistis itu. Segala sesuatu tentang Kiai Slamet dianggap memiliki petuah dan peruntungan. Sisa makanannya menjadi rebutan, yang konon akan menyuburkan padi jika ditabur di sawah, membawa rezeki jika digantung di atas pintu rumah. Sementara kotorannya juga demikian, dianggap mampu menyembuhkan segala macam penyakit dalam tubuh. Semua menjadi rebutan.

Jangan melihat fenomena itu dengan logika, namun dengan kepekaan rasa. Kepercayaan mengalahkan bangunan nalar. Imajinasi berbalut memori kejayaan dan keagungan keraton masa silam. Kita bisa menganalisis, selama peristiwa yang nir-nalar itu masih berlangsung hingga saat ini, berarti keraton dengan segala ritusnya masih memiliki tempat di hati masyarakat luas.

Majunya ilmu pengetahuan dan teknologi tak serta merta menyeret sakralitas ritus di wilayah marginal apalagi kapital. Atau sebaliknya, kita juga bisa berprasangka, kepercayaan masyarakat pada yang transenden itu adalah sebuah bentuk budaya tandingan di kala bangunan nalar, keilmiahan dan keterukuran tak lagi dapat menjadi tumpuan. Sama dengan, misalnya, beberapa tahun silam ketika masyarakat Jombang begitu memuja bocah Ponari dengan batu saktinya yang dianggap mujarab menyembuhkan penyakit kronis dalam tubuh.

Ribuan manusia mendatangi rumah Ponari untuk ngalap berkah. Mereka rela berhari-hari mengantre demi segelas air yang telah tercelup "batu sakti". Hal itu tak ubahnya sebuah kritik terhadap dunia kedokteran modern yang tak mampu memberi kepastian serta jaminan akan kelayakan dan kesehatan hidup bagi masyarakat. Jalan keluarnya, mereka kembali pada habitus akar tradisi yang transenden dan nir-logika.

Dua Makna

Suran dengan demikian dapat dilihat dalam dua kategori pemaknaan. Pertama, sebagai upaya mempertahankan tradisi keraton yang telah berusia lampau sekaligus mengukur sejauh mana masyarakat menaruh perhatian terhadapnya. Hal ini penting untuk mengetahui posisi dan kedudukan keraton di tengah masyarakat. Kedua, sebagai bentuk luapan kritik terhadap kemodernan zaman sekaligus penyeimbang dalam mengikat manusia Jawa agar tak keluar dari batas-batas kulturalnya.

Dengan adanya Suran manusia Jawa diingatkan tentang asal-muasal eksistensi dirinya. Tak berlebihan kiranya jika Suran menjadi bulan yang ditunggu sekaligus juga diagungkan. Menariknya, di bulan ini manusia Jawa tak diperkenankan melangsungkan hajat besar. Bulan Suro adalah Bulan Muharram dalam kalender Islam. Bulan Muharram dianggap sebagai bulan pertolongan bagi para nabi. Kata Muharram berarti "diharamkan". Sebagaimana tertulis dalam sejarahnya, bahwa pada Bulan Muharram umat Muslim diharamkan Allah untuk berperang. Ini bulan untuk berserah diri, merenungkan perjalanan hidup di tahun lalu. Mengoreksi diri dan berbenah.

Oleh karena itu, mari mengisi bulan ini dengan segala hal yang bersandar pada kebaikan dan keiklasan diri. Tradisi di Jawa mengajarkan akan arti penting menghargai kehidupan dan sesama. Lahirnya ritus dalam memperingati datangnya Bulan Suro tidak lebih dari upaya negosiasi manusia Jawa guna mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Melepaskan segala belenggu keduniawian, untuk kembali berkontemplasi dan menjalani hidup dengan lebih baik di masa sesudahnya. Berusaha memegang sesuatu yang tak terpegang secara fisik. Sesuatu itu adalah mimpi, imajinasi, harapan, dan cita-cita tentang masa depan. Selamat datang, Bulan Suro!

Aris Setiawan penulis, tinggal di Solo


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed