DetikNews
Selasa 19 September 2017, 11:06 WIB

Kolom

'Menjadi Indonesia' Lewat Darat, Laut, dan Udara

Muhammad Yuanda Zara - detikNews
Menjadi Indonesia Lewat Darat, Laut, dan Udara Menhub merayakan Hari Perhubungan Nasional di Monas (Foto: Samsudhuha Wildansyah)
Jakarta - Di antara berbagai hari penting Indonesia, Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) yang jatuh pada 17 September adalah salah satu yang terpenting, tapi kurang diketahui banyak orang. Umumnya hanya Kemenhub dan perusahaan otobus yang meramaikannya. Padahal, perhubungan bukan cuma urusan pemerintah dan pengusaha.

Meski keduanya berperan vital dalam menyediakan sarana dan regulasi perhubungan, dua ratus juta rakyat Indonesialah yang menggunakan sepeda motor, mobil, kereta api, kapal dan pesawat untuk bekerja, ke pasar, ke sekolah atau ke kampus. Perhubungan memudahkan interaksi lintas wilayah dan antarbudaya.

Di negeri seluas dan seberagam Indonesia, perhubungan membantu kita "menjadi Indonesia". Perhubungan sudah ada sejak dibangunnya komunitas di setiap pelosok negeri, walau masih mengandalkan tenaga hewan. Bangsa Baratlah yang merevolusinya. Jalan Raya Pos Dandels sepanjang 1000 km yang dibangun di awal abad ke-19 adalah proyek besar perhubungan pertama. Sejarawan Rudolf Mrazek (2002) menyebutnya sebagai "mujizat kecepatan pra-abad kedua puluh". Di luar fungsinya untuk membendung serbuan Inggris, jalan ini membuka akses ke kawasan terpencil dan kemudian menempatkannya di dalam peta jaringan besar transportasi Jawa.

Kereta api mulai masuk di Jawa di abad ke-19 sebagai tindak lanjut maklumat Raja Belanda, Willem I pada 1842 yang memutuskan dimulainya pembangunan jalur rel kereta api guna memfasilitasi perpindahan barang di pulau itu. Di akhir abad itu sudah ratusan kilometer rel yang dibangun, dan orang akhirnya percaya Batavia dan Surabaya sudah tidak jauh lagi.

Kultur baru muncul: perjalanan dengan kereta, vakansi antarkota, dan gaya arsitektur stasiun. Rel, jadwal keberangkatan, peluit masinis dan asap lokomotif adalah simbol-simbol modernitas di kota-kota Indonesia di awal abad ke-20. Para penumpang kereta berbagi perasaan sebagai pemakai teknologi baru itu, dan di kereta api muncul komunikasi dan transmisi ide di antara penumpang, khususnya di tengah penumpang pribumi yang terkagum-kagum dengan si roda besi ini.

Perjalanan antarkota yang memakan waktu belasan jam memberi orang kesempatan untuk berbincang serius dan lama, sembari menikmati indahnya pemandangan alam. Seorang pemuda bernama Sumarsono, misalnya, pada akhir 1930-an hanyalah pemuda biasa yang sedikit tertarik dengan politik. Namun, pada 1942 ia bertemu dan berdiskusi dengan Sukarni, pemimpin perhimpunan Indonesia Muda, yang lalu membuatnya aktif dalam pergerakan nasional (Sumarsono belakangan dikenal sebagai pemimpin pemuda dalam Pertempuran Surabaya). Dan, pertemuan Sumarsono-Sukarni itu terjadi di atas kereta api dari Solo ke Jakarta (Frederick, 1989).

Tapi, kereta juga lambang perlawanan terhadap kolonialisme, karena di masa Belanda untuk pribumi hanya disediakan satu kelas, kelas ketiga, yang dikenal sebagai "kelas kambing". Tak heran bila propaganda di bulan-bulan awal pascaproklamasi sengaja ditujukan pemerintah RI pada para masinis dan kru kereta, karena merekalah yang menjadi tiang utama transportasi pemerintah dan rakyat dan berperan menghubungkan kota-kota Indonesia—sebagai bukti efektivitas sebuah negara baru (Zara, 2016).

Pemerintah RI membawa makna baru bagi perhubungan. Pada rapat 19 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia membentuk Departemen Perhoeboengan yang "mengoeroes hal-hal Laloe-Lintas, Pos, Tilpoen, Tilgraf dsb" (Asia Raya, 19 Agustus 1945). Dalam satu kalimat pendek itu terangkum tugas yang mahaberat, mencakup lalu lintas dan komunikasi di darat, laut dan udara yang meliputi wilayah RI yang luasnya puluhan kali Belanda. Belum lagi mengingat bahwa banyak sarana transportasi dan komunikasi yang hancur akibat perang dan minimnya dana dan SDM di bidang perhubungan.

Nyatanya, perhubungan di Indonesia mampu melewati masa Revolusi, masa ketika jembatan dan rel kereta adalah dua target sabotase. Perhubungan bahkan berkontribusi menegakkan negara ini. Sepeda, sepeda motor, mobil, kereta, telepon, dan telegraf membawa berita proklamasi, yang mulanya hanya diketahui sedikit orang saja di Jakarta, ke tengah banyak orang Indonesia dalam waktu relatif singkat.

Bodi gerbong kereta, misalnya, dicoret-coret dengan berbagai tulisan anti-Belanda dan pro-Republik, dan dibaca orang di sepanjang perjalanan di antara kota-kota di Jawa. Kesemuanya ini turut meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa penjajah telah pergi, sebuah negara baru telah lahir, dan mereka harus berpartisipasi untuk menegakkannya.

Situasi yang paralel terjadi di berbagai daerah di Indonesia sehingga melahirkan perasaan anti-penjajah yang masif serta gagasan bersama bahwa mereka bagian dari sebuah komunitas baru bernama "bangsa Indonesia".

Dan, patut disebut bahwa kereta api dan para masinis turut menyelamatkan negara ini saat nyaris rubuh. Jakarta di akhir 1945 hampir sepenuhnya di tangan Belanda dan Sekutu. Dengan sebuah kereta api rahasia Presiden Sukarno dan Wapres Mohammad Hatta berhasil hijrah ke ibukota baru RI, Yogyakarta, di mana kemudian pemerintah RI bisa melanjutkan perjuangan.

Dari segi akses transportasi, tak pernah dalam sejarahnya orang Indonesia punya akses ke sarana transportasi sebanyak seperti sekarang. Data BPS menyebut, pada 2013 ada 104 juta kendaraan bermotor berbagai jenis di Indonesia, dengan sepeda motor sebagai yang terbanyak (hampir 85 juta). Bandingkan dengan jumlah total kendaraan bermotor pada 1987 yang hanya 7 jutaan.

Ribuan kilometer jalan juga sudah dibangun. Namun, budaya bertransportasi masih buruk. Alhasil, kemacetan di mana-mana, transportasi umum bukan pilihan favorit, angka kecelakaan tinggi, mobil dan motor parkir di trotoar, sementara menyeberang di jalan raya adalah salah satu pekerjaan penuh risiko.

Walaupun begitu, perhubungan adalah bagian dari memori kolektif rakyat Indonesia. Bayangkan kebahagiaan di wajah belasan juta pemudik —dan puluhan juta anggota keluarganya di kampung halaman— setelah berbagai kendaraan dan jalur transportasi membantu mereka kala mudik. Ribuan anak muda dengan bus, kapal dan pesawat merantau ke Jawa, dan sebaliknya. Ini melahirkan hibriditas kebudayaan Indonesia.

Jalan, rel, dan bandara membawa kemakmuran bagi banyak orang dan melahirkan peluang ekonomi baru. Mulai dari rumah makan, toko oleh-oleh hingga agen wisata —dan tentu saja sebagai pegawai di bidang perhubungan (Presiden Sukarno dulu pernah menjadi karyawan di perusahaan kereta api di Surabaya).

Indonesia tidak hanya dibentuk di sekolah dan instansi negara. Indonesia juga hadir di sepeda motor, bus, kereta api, kapal dan pesawat. Dengannya jutaan orang selama bertahun-tahun bergerak, bertemu, berinteraksi, merajut kebersamaan, bertukar ide, barang dan jasa, dan pada akhirnya, sama-sama berpartisipasi sebagai bagian dari komunitas besar bernama Indonesia.

Muhammad Yuanda Zara mendapat gelar PhD dari Universiteit van Amsterdam (2016) dan menulis tentang sejarah Indonesia di berbagai media massa serta di sejumlah jurnal nasional dan internasional


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed