DetikNews
Senin 18 September 2017, 12:08 WIB

Kolom Kang Hasan

Jalan Pintas Kebahagiaan

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Jalan Pintas Kebahagiaan Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Kebahagiaan manusia dapat diuraikan secara neurokimia, yaitu melalui kerja sejumlah hormon pada sistem saraf otak. Manusia punya sejumlah mekanisme yang pada intinya berfungsi untuk membuat manusia merasa bahagia: nyaman, aman, bersemangat, dan bebas dari rasa sakit. Mekanisme itu diperlukan untuk membuat manusia bisa bertahan hidup.

Bahan-bahan kimiawi itu diproduksi oleh tubuh kita sendiri, melalui sejumlah pemicu. Pemicunya adalah keadaan yang kita hadapi sehari-hari. Ketika menghadapi suatu keadaan, maka tubuh terpicu untuk menghasilkan suatu jenis hormon, lalu kita merasakan efek hormon itu. Itu mendorong kita untuk mengulangi keadaan itu. Inilah mekanisme alami yang membuat manusia merasa bahagia.

Seseorang melakukan perbuatan baik, ia merasa nyaman dan puas. Atau, seseorang mencapai suatu tujuan yang dia inginkan. Ia merasa puas. Yang terjadi adalah, otaknya memproduksi suatu bahan kimia yang disebut dopamine. Aliran dopamine dalam darah membuat orang merasa bahagia.

Ada pula hormon yang disebut oxytocin, yaitu hormon "ikatan". Hormon ini dihasilkan otak dari interaksi antar manusia, khususnya interaksi intim. Ada pula yang bisa menghilangkan rasa sakit, memperkuat rasa percaya diri, menghilangkan kesepian, dan sebagainya.

Berbagai jenis hormon itu selain diproduksi melalui proses internal tubuh, juga dapat dipicu oleh penggunaan bahan-bahan kimia yang dibuat oleh manusia, baik melalui ekstraksi bahan alami maupun sintetis. Tujuan pembuatan pada awalnya tentu saja untuk menolong manusia, untuk keperluan pengobatan. Tapi, dalam pejalanannya obat-obat ini digunakan secara keliru, yaitu untuk mendapat kenikmatan instan. Bahkan, obat-obat itu kemudian diproduksi dan diedarkan secara khusus untuk keperluan yang salah tadi.

Kokain, misalnya, langsung berefek pada sistem dopamine, memicu rasa nyaman dan bahagia. Karena itu sering disalahgunakan untuk keperluan rekreasional. Obat ini tadinya dipakai sebagai obat bius dalam pembiusan hidung, kini lebih dikenal fungsi salahnya sebagai obat rekreasi.

Ada banyak orang yang kini mencari kebahagiaan dengan jalan pintas. Sedihnya, sebagian dari mereka adalah orang-orang terkenal, dari dunia hiburan, atau pemimpin formal dari dunia politik. Bertubi-tubi kita dihujani dengan berita tentang orang yang tertangkap karena menggunakan narkotika. Kerap pula penggunaan narkotika ini berpadu dengan tindak pidana korupsi.

Orang memakai narkotika karena berbagai macam alasan. Ada yang sedang dirundung masalah yang mengurangi kebahagiaan, dan mencari sumber kebahagiaan melalui jalan pintas. Ada yang mencoba mengejar kebahagiaan dengan menggantungkan harapan pada jabatan tinggi atau popularitas, tapi tak sanggup mencapainya. Pelariannya lagi-lagi ke obat terlarang. Ada pula yang sakit atau lelah luar biasa, akibat tekanan pekerjaan, kemudian mencari penyelesaian dengan obat.

Di luar itu, ada orang-orang yang kelebihan uang, menjadi kaya mendadak secara mudah. Misalnya politikus yang mendadak kaya karena korupsi. Atau, pengusaha yang tiba-tiba menanjak bisnisnya. Atau, artis yang mendadak terkenal. Mereka gamang dalam membelanjakan uang mudah itu. Dipakai untuk membeli benda yang bisa mendatangkan kebahagiaan, ternyata tak kunjung memuaskan. Maka akhirnya mereka mencari sumber kebahagiaan dosis tinggi.

Pencegahan dan rehabilitasi korban-korban narkotika menjadi sangat rumit, karena kontribusi berbagai faktor yang saling terkait secara rumit. Narkotika adalah bisnis besar, keuntungannya bisa membuat banyak pihak tergiur, termasuk di dalamnya aparat penegak hukum. Bukan sekali dua kita menemukan aparat penegak hukum dalam jaringan peredaran narkotika.

Yang paling menjengkelkan adalah para pelaku tidak mendapat hukuman setimpal, baik secara legal maupun secara sosial. Pengguna narkotika sering dihukum ringan, entah karena sistem hukumnya yang lemah, atau karena mereka membayar aparat hukum. Sementara itu, orang yang sudah berkali-kali terjerat kasus narkotika bisa tetap menjadi orang terpandang di tengah masyarakat, baik sebagai pemimpin maupun sebagai artis.

Apa makna semua ini? Masyarakat kita sedang sakit. Yang sakit bukan hanya para pengguna narkotika itu. Masyarakat yang menjadikan mereka sebagai idola atau pemimpin juga sakit. Kita seakan kehilangan panduan soal baik buruk, padahal konon kita ini masyarakat yang religius.

Sebagaimana pengguna narkotika, masyarakat juga menikmati kebahagiaan semu. Kebahagiaan politik, misalnya, yang seharusnya didapat dari pemenuhan hak-hak masyarakat oleh pemimpin melalui aktivitas pembangunan yang bersih setelah mereka terpilih. Namun, hal itu dapat ditukar dengan hal yang semu bahwa pemimpin yang terpilih adalah orang-orang yang punya ikatan primordial dengan pemilih, seperti kesamaan suku atau agama.

Para pemuja panggung hiburan lebih terpukau oleh penampilan fisik, kemudian memujanya sambil membayangkan diri mereka serupa pujaan itu. Mereka melupakan hal-hal yang substansial, bahkan melupakan tujuan hidup sendiri dalam euforia itu.

Memberantas narkotika tanpa memutus kebutuhan manusia pada sumber kebahagiaan semu tadi adalah mustahil. Pemberantasan narkotika memerlukan proses yang membuat orang-orang bisa menikmati kebahagiaan, melalui produksi hormon-hormon bahagia secara alami dalam tubuh. Itu memerlukan proses berpikir dan perilaku yang sahih.

Untuk remaja, misalnya, harus ditumbuhkan rasa percaya diri melalui pembentukan pola pikir yang sehat, serta membangun prestasi. Pada saat yang sama prestasi ini juga memicu rasa puas melalui dopamine. Maka mengarahkan remaja untuk membangun iklim itu tidak kalah penting dari membentengi akses mereka kepada narkotika.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia.


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed