DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 15 September 2017, 14:05 WIB

Kolom

Relasi Islam dan Buddha

M. Najih Arromadloni - detikNews
Relasi Islam dan Buddha Foto: Mochamad Solehudin
Jakarta - Di tengah keprihatinan kita terhadap isu krisis Rohingya, terdapat pihak-pihak yang mencoba menumpanginya dengan isu politik oposan atau bahkan membajaknya untuk membenturkan agama Islam dengan Buddha, dan menyeretnya sebagai pemantik konflik di dalam negeri.

Untungnya upaya tersebut segera mendapat penyangkalan, baik dari pemerintah Indonesia, kelompok moderat muslim, maupun institusi Buddha, yang menegaskan bahwa krisis yang terjadi di sana adalah konflik non-agama. Silakan rujuk lagi misalnya tulisan Dubes RI di Myanmar, pernyataan GP Ansor, maupun kecaman Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI).

Untuk melihat krisis Rohingya ini, masyarakat perlu mengingat lagi krisis Suriah. Saat isu krisis Suriah menjadi populer, beberapa pihak berusaha menyisipkan propaganda adanya konflik Sunni-Syiah, yaitu pembantaian rezim Syiah terhadap masyarakat Sunni dan kemudian berupaya menyeretnya menjadi konflik dalam negeri. Setelah beberapa tahun krisis Suriah mereda, masyarakat baru tersadar bahwa krisis di sana tidak ada kaitannya dengan masalah Sunni-Syiah.

Lintasan Sejarah

Untuk melihat bagaimana hubungan Islam dengan Buddha, mari kita melihat interaksi yang lebih utuh antara dua agama yang telah melahirkan dua peradaban besar dunia ini melalui fragmen sejarah yang akan ditelaah di bawah. Upaya ini penting dilakukan sebagai landasan kerja sama dan pemahaman bersama, serta menghindari setiap kemungkinan yang mengarah pada terjadinya "benturan peradaban".

Islam dan Buddha adalah dua peradaban yang telah berinteraksi sepanjang sejarah, baik dalam sifat yang membangun maupun bermasalah. Doktrin agama bisa saja terlibat ketika keduanya tersangkut masalah atau konflik, namun telaah yang lebih mendalam akan menunjukkan bahwa faktor non-agamalah yang utama.

Nabi Muhammad membawa Islam awal mula di Arab; beliau hidup tahun 570 sampai 632 Masehi, sedangkan Buddha Shakyamuni hidup di India bagian tengah-utara dari 566 sampai 485 SM. Keterpautan jarak masa dan geografis kemungkinan menjadi penyebab hubungan di antara dua umat ini didasarkan atas informasi yang sangat sedikit terhadap pihak lain, di masa awal. Tidak ada saling menyinggung di antara keduanya di dalam kitab suci masing-masing.

Ketika wilayah-wilayah dengan populasi penganut Buddha seperti India, Afghanistan, Iran Timur, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Tajikistan ditaklukkan oleh Khilafah Umayyah dan lalu Abbasiyah, umat Buddha diberi kebebasan untuk tetap menganut agama mereka sebagai dzimmi. Di samping, banyak pula yang berpindah agama ke Islam. Hubungan antara kedua agama ini berlangsung harmonis selama itu.

Saat khalifah al-Mansur dari Abbasiyah membangun institusi keilmuan Bayt al-Hikmah di pertengah abad ke-8 serta membutuhkan pengkaji dan penerjemah Yunani dan India sebagai program institusi tersebut, sang khalifah mengundang intelektual-intelektual Buddha dari India dan Wihara Nava di Balkh, Afhanistan. Dari kerja ilmiah antara ulama Islam dan intelektual Buddha ini di antaranya lahir Kitab al-Milal wa al-Nihal karya al-Syahrastani. Di dalamnya terdapat kajian tentang Buddha, meski tidak sedalam kajian terhadap Yunani.

Hubungan antara Islam dan Buddha juga bisa dilihat pada masa Ilkhanate di Iran antara 1256 dan 1295 ketika penguasa Mongol menyebarkan Buddha Tibet sebelum beralih memeluk Islam. Begitu pula di Uighur, ketika Islam berkembang di wilayah Turkmenistan Timur yang saat ini menjadi Provinsi Xinjiang Cina, antara abad ke-11 dan ke-14.

Pada fragmen sejarah yang lain di pertengahan abad ke-17, saat umat Islam Kashmir mengalami bencana kelaparan, mereka sebagian bermigrasi ke Lhasa, Tibet yang saat itu berada di bawah kekuasaan Dalai Lama Kelima. Kepada umat Islam yang datang, ia memberi tanah untuk sebuah masjid dan pemakaman, serta memberikan kewenangan untuk menunjuk dewan syariah sebagai pengawas internal mereka. Ini menunjukkan adanya interaksi lintas iman pada saat itu.

Hidup Berdampingan

Pada saat ini, paling tidak ada tujuh negara di mana umat Islam dan Buddha hidup berdampingan di wilayah yang sama, yaitu Bangladesh, Tibet, Ladakh, Thailad Selatan, Indonesia, Malaysia, dan Myanmar.

Di Tibet, interaksi antara umat Islam pendatang dari Kashmir telah berjalan harmonis dengan pemeluk Buddha Tibet asli. Umat Islam diakui sepenuhnya sebagai penduduk Tibet dan mempunyai peran ketika masyarakat Tibet mengasingkan diri ke India.

Hubungan keduanya di Tibet bukan tanpa masalah. Sejak pemerintah RRC mempromosikan Tibet sebagai zona dengan beragam potensi ekonomi, para pedagang Muslim Hui Cina harus berpindah menuju wilayah-wilayah Tibet dalam jumlah yang banyak. Penduduk setempat melihat pendatang ini sebagai pesaing asing. Imbasnya adalah kecemburuan ekonomi.

Padahal, antara Muslim Hui Cina dan Buddha Tibet ini telah hidup berdampingan selama berabad-abad sebelumnya di wilayah yang sekarang adalah Provinsi Qinghai dan Gansu Cina. Saat ini, keduanya juga mengalami intimidasi/pengekangan dalam menjalankan ibadah mereka di Cina. Dari sini diketahui bahwa perseteruan antara keduanya tidak dipengaruhi faktor doktrinal; bukan karena pendatang itu beragama Islam, tapi karena mereka berasal dari Cina dan menjadi pesaing ekonomi bagi penduduk asli.

Di Thailand Selatan yang mayoritas muslim dan mempunyai akar budaya Melayu, berbeda kultur dengan penduduk Buddha yang ada di wilayah Thailand lainnya, membuat mereka mengajukan otonomi politik. Di sini faktor politik memegang peran yang penting.

Sementara di Bangladesh, mayoritas muslim hidup dengan satu persen pemeluk Buddha yang populasinya ada di wilayah Chittagong. Hubungan antara umat Islam dan Buddha sempat memanas pada 1998 karena formalisasi syariah di negara tersebut, dan puncaknya pada 2011 dipengaruhi oleh dampak invasi Amerika ke Afghanistan dan Irak.

Di Ladakh India, disharmoni antara Muslim dan Buddha dipicu terutama oleh persaingan dalam mendapatkan alokasi anggaran pembangunan, yang fokus di bidang pariwisata. Karenanya, pemuka-pemuka agama tidak memandang bahwa dialog lintas iman bisa menyelesaikan ini.

Pancasila dan prinsip Bhineka Tunggal Ika nampaknya memiliki peran yang penting dalam merawat hubungan yang harmonis antara mayoritas umat Islam dan minoritas Buddha di Indonesia. Keduanya hidup sesuai tradisi masing-masing dengan saling menghormati. Hal ini tidak jauh berbeda dengan kondisi di Malaysia. Jika dalam perjalanan sejarah pernah terjadi konflik antara pribumi Muslim dengan etnis Tionghoa yang beragama Buddha, maka kecemburuan ekonomi adalah faktor yang utama.

Sedangkan untuk kasus umat Islam dan Buddha di Myanmar, tampaknya saya tidak perlu mengulangnya menulis fakta-faktanya di sini. Sudah cukup banyak yang menulisnya, dan mungkin Anda sudah berulang membacanya. Yang jelas, tanpa reformasi dan kebijakan politik yang arif dan bijak dari pemerintah Myanmar, sulit rasanya melihat perdamaian umat Islam dan Buddha terwujud di sana.

Dari fragmen-fragmen sejarah di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa hubungan antara umat Islam dan Buddha sangat dipengaruhi oleh faktor non-agama, terutama ekonomi dan politik. Ini bukan menafikan signifikansi dialog antaragama, melainkan upaya-upaya pendekatan agama dan budaya, dengan kesadaran penuh terhadap keharusan hidup berdampingan, harus dibarengi dengan pendekatan politik yang bijak dan kesejahteraan ekonomi yang merata.

M. Najih Arromadloni dosen Teologi Universitas Islam Negeri (UIN) Surabaya


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed