DetikNews
Rabu 13 September 2017, 15:32 WIB

Kolom

Aku adalah Kamu yang Lain

Muhammad Itsbatun Najih - detikNews
Aku adalah Kamu yang Lain Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Hubungan antara Tuhan dan manusia dijabarkan sebagai kemenyatuan yang melebur tanpa sekat. Ikhtisar itu sering disebut manunggaling kawula lan Gusti. Kawula adalah aku sebagai manusia. Gusti juga sering ditafsir seorang raja, relasi pemimpin dan kawula sebagai rakyat dalam diktum pemerintahan. Konon, manunggaling kawula lan Gusti merupakan puncak spiritual penghambaan manusia yang sudah berlepas diri dari gegap materi; yang secara ruhani ia lantas "menyatu" kepada Gusti, Tuhan semesta alam.

Namun, kiranya diktum teologis-mistisisme itu bisa "diturunkan" derajatnya sekadar menjadi manunggaling kawula lan kawula. Kawula sebagai aku orang Jawa, dan kawula berikutnya sebagai representasi aku yang lain alias kamu yang bersuku Dayak, Sunda, Minang, dan lain sebagainya. Manunggal berarti ada prinsip bersama untuk kemudian saling bekerja sama meski berbeda luaran dan tampilan. Fitrah ini tergambar jelas dari Alquran, yakni tujuan penciptaan manusia yang beraneka bangsa (syu'uba) dan etnis-suku (qaba-ila); tak lain tak bukan agar antarsesama saling berinteraksi, saling mengenal (li-ta'arafu).

Diksi li-ta'arafu senyatanya bermakna tidak sekadar saling mengenal fisik-luaran. Tapi, menyimpan arti mendalam, yakni saling memahami dan saling mengetahui secara menyeluruh, lahir dan batin. Ayat 13 Surah Alhujarat itu berkesan mengandung tafsir luas; kelindan antarmanusia. Inilah kiranya garis besar perwujudan konsep rahmatan lil alamin yang bisa dimulai dari kesadaran: aku adalah kamu yang lain. Implikasinya, bila aku sakit, kamu juga menderita. Aku sedang gembira, seraya kamu iringi dengan tertawa. Bila aku tertimpa bencana, kau bersedia secara otomatis dan simultan berduyun-duyun datang membantu. Dan sebaliknya.

Ketika Nanggroe Aceh Darussalam terguncang gempa tersapu tsunami, hampir-hampir manusia seluruh penjuru dunia berbondong-bondong memberikan bantuan yang dimiliki: harta, tenaga, doa. Manusia-manusia itu datang lintas agama, macam suku, ragam etnis-bangsa. Semua menuju Aceh dengan tidak sama sekali memandang apa agama dan suku masyarakat Aceh. Kaidah bersama yang dipegang kuat-kuat dicukupkan atas nama kemanusiaan.

Sama halnya gempa besar yang memporak-porandakan Haiti dan kelaparan akut di Somalia, dorongan besar yang menjejal dalam diri manusia adalah mereka merupakan cerminan eksistensi kita; yang membutuhkan pangan, sandang, papan. Dalam terma kemanusiaan, sentimental agama justru menjadi referensi baku pewajiban kemanusiaan. Hikayat Khalifah Umar bin Khattab menegur keras Gubernur Mesir, Amr bin Ash, bisa menjadi pembelajaran.

Khalifah Umar tidak bisa membenarkan suatu kebijakan Gubernur Amr yang hingga sampai mengakibatkan menggusur rumah kecil milik seorang Yahudi miskin. Keadilan tak mengenal aku dan kamu beragama apa. Begitu pun narasi perangai luhur Nabi Muhammad SAW yang tetap memberi makan seorang pengemis perempuan tua yang buta; meski Nabi tahu bahwa dia seorang Yahudi yang tiap hari memakinya.

Ketika oknum Yahudi melakukan pengkhianatan terhadap konsensus negara Madinah, Nabi sebagai pemegang otoritas pemerintahan memberikan punishment; sebagaimana bakal ditimpakan hukuman pula apabila upaya merongrong stabilitas negara dilakukan oleh umat Islam. Dalam pergaulan sehari-hari, manunggaling kawula lan kawula bisa didapat dari anjuran Nabi agar lebih sering membagikan makanan kepada tetangga dari apa yang engkau masak.

Perihal tetangga, mereka bisa saja beragama apa saja dan datang dari kultur mana saja. Esensi bagi-bagi makanan kepada para tetangga ialah upaya untuk saling membagi kebahagiaan dan merajut silaturahim tanpa ada penjarakan (gap); menyampingkan beda adat, mazhab, agama. Sebagaimana contoh keseharian, bila ada kecelakaan, sangat naif apabila si penolong menanyakan agama apa yang dianut si korban.

Tapi, sisi lain, berdasar sentimental pemahaman terhadap agama pula, kerap dijadikan sebagai penjarak satu manusia dengan manusia lain. Ketika aku bergabung dengan suatu ormas keagamaan, maka aku agak enggan ikut berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan di ormas keagamaanmu. Begitupun sebaliknya. Maka, yang tampak adalah balutan kompetisi bahwa bantuan kemanusiaan dari ormasku dan pemanfaatannya lebih banyak dan lebih tercakup ketimbang kegiatan kemanusiaan dari ormasmu.

Padahal, bila aku bermazhab Syafi'i dan kamu menganut Maliki bukan berarti kita tidak bisa saling bekerja sama dan bahu-membahu menyelesaikan suatu krisis kemanusiaan. Bahkan di lingkup terkecil: keluarga; si anak tetap diwajibkan bersikap santun (birrul walidain) kepada orangtua dalam urusan-urusan kemanusiaan sehari-hari andaikan mereka beda agama.

Selain faktor agama, pembeda lain yang kemudian menjadi sengkarut adalah perasaan superioritas yang dibuat-buat. Di sinilah anomali kemanusiaan. Menganggap derajat kulit putih lebih tinggi ketimbang kulit hitam; merupakan bentuk nyata tergerusnya simpul kemanusiaan. Xenophobia --perasaan benci dan ketakutan akut terhadap orang asing-- dan etnosentrisme --menganggap etnisnya paling unggul-- merupakan sinyalemen bahwa ada yang mesti dibenahi dalam diktum kemanusiaan yang kadung melenceng. Bila tidak, imbasnya: aku hanya akan membantu kepada golongan dan bangsaku saja.

Timbul pula sikap skeptis dan apatis; aku akan berdiam diri sambil duduk manis bila kelaparan dan penindasan menimpa golongan dan bangsa yang bukan dari golonganku, bangsaku, mazhabku, agamaku. Begitu banyak tragedi kemanusiaan datang silih berganti. Konsepsi manunggaling kawula lan kawula sangat sederhana. Sekadar datang membantu. Bila lapar, beri makan. Manakala sakit, beri obat. Dilanda kedinginan, berikan selimut. Kemanusiaan tidak mengenal sekat agama. Karena agama mutlak domain hubungan aku dengan Gusti.

Bila aku sangat berempati kepada korban jiwa atas berbagai teror pengeboman di negara-negara Barat, aku pun wajib berempati kepada ditindasnya masyarakat Rohingya. Bila aku teramat peduli dengan korban perang di Suriah, maka aku pun wajib berlaku serupa terhadap korban perang di Yaman yang kini diwartakan dilanda kolera. Kemanusiaan tak pandang apakah kamu yang sedang teraniaya dan kelaparan adalah muslim atau non-muslim, Syiah atau Sunni.

Adapun kepada pelaku teror, penindas, dan aktor perang yang menyebabkan tragedi kemanusiaan semakin berlarut-larut, kepada merekalah kita meragukan identitas apakah mereka benar-benar manusia? Pertanyaan gugatan serupa juga kita tujukan kepada mereka (dan saya) yang hanya berempati pada satu kasus krisis kemanusiaan seraya menutup mata atas krisis kemanusiaan lainnya. Berempati tidak memerlukan analisis macam-macam bahwa suatu tragedi kemanusiaan disebabkan oleh kuasa modal-kapital, perebutan lahan, kepentingan bisnis, atau konspirasi, yang kemudian dibumbui nuansa agama dan etnis.

Walhasil, konsepsi manunggaling kawula lan kawula menibakan pesan kesetaraan dalam merajut persaudaraan tanpa membeda-bedakan agama dan kelompok. Sebagaimana pesan Nabi SAW untuk bergaul kepada siapa saja dengan perangai santun, wa khaliqun an-nas bi khuluqin hasanin. Baginda Nabi tidak mengatakan, bergaullah dengan orang Islam saja, wa khaliqul muslimin. Melainkan, menyemai interaksi kebersaman dengan setiap manusia, an-nas.

Muhammad Itsbatun Najih alumnus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed