DetikNews
Rabu 13 September 2017, 11:58 WIB

Kolom

Menyikapi "Screenshot" Ibu Negara

Anton Prasetyo - detikNews
Menyikapi Screenshot Ibu Negara Foto: Carl Court/Getty Images
Jakarta - Dunia maya dihebohkan dengan adanya screenshot foto berjilbab Ibu Negara Iriana Joko Widodo yang diembel-embeli kata-kata hinaan tak senonoh. Sebagian netizen merasa tidak nyaman dengan konten negatif berasal dari akun Instagram warga_biasa itu. Bahkan, pemilik akun Twitter @HomeMarshel me-mention akun @chili_pari milik putra sulung Jokowi dan Iriana, Gibran Rakabuming dengan menambahkan emoticon marah.

Sebagaimana kemudian ramai diberitakan media massa, @HomeMarshel melaporkan: "Mas @Chilli_Pari ini ada instagram spt ini ...beliau ibu negara lho mas ..terlebih beliau juga ibu sampeyan ...tolong ditindak mas."

"Biarin. Dimaafkan aja," balas Gibran. Sementara, putra bungsu Jokowi dan Iriana, Kaesang juga menyahuti dengan nada yang sama "Yo orapopo mas. Maafkan wae (Ya tidak apa-apa mas. Maafkan saja)."

Percakapan di dunia maya itu mengajarkan kepada masyarakat, khususnya netizen, untuk bersikap dewasa. Kita menemukan betapa dua anak presiden tersebut tidak mudah terpancing emosi, bahkan ketika ibunda mereka mendapat cercaan tidak senonoh dari orang lain.

Sikap yang ditunjukkan oleh Gibran dan Kaesang bukan berarti mengindikasikan bahwa mereka tidak peduli dengan nama baik keluarganya. Justru dengan sikap yang santai, akan dengan mudah mengurai permasalahan yang ada. Masyarakat luas pun akan semakin merasakan betapa keluarga presiden merupakan keluarga yang tenang penuh dengan sikap kedewasaan.

Sikap tenang dan dewasa yang tercipta di dalam keluarga presiden seperti itu patut untuk terus dikedepankan. Keluarga presiden adalah keluarga yang penuh dengan sorotan masyarakat. Apapun yang dilakukan akan dapat dengan cepat memicu reaksi publik. Tak hanya itu, keluarga presiden juga akan menjadi "sample" keluarga warga negara Indonesia di level internasional. Karena, warga dunia tidak mungkin akan memperhatikan keluarga warga negara Indonesia tanpa terlebih dahulu mengerti kehidupan keluarga presiden.

Dalam tinjauan agama, sikap yang diperlihatkan keluarga presiden tersebut juga sangat dibenarkan. Dalam al-Quran disebutkan, "…dan balasan kejelekan itu adalah kejelekan pula, namun siapa yang memaafkan dan memperbaiki (hubungannya), maka pahala baginya di sisi Allah. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim." (QS. Asy-Syura: 40).

Nabi Muhammad SAW juga bersabda, "Jika kamu membuat suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan orang lain, maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa." (HR. Bukhari).

Sikap yang sama juga telah diteladankan oleh Nabi semasa hidupnya. Alkisah, Nabi selalu mengunjungi seorang buta yang berada di pinggir pasar. Niat kunjungannya adalah untuk memberi makan sekaligus menyuapi orang tersebut. Aktivitas sosial rutin yang dilakukan Nabi itu tidak banyak diketahui orang lain; bahkan orang yang diberi makan pun tidak mengetahui jati diri Nabi.

Tanpa mengetahui bahwa yang menyuapi adalah Muhammad, orang tersebut mencaci maki Nabi. Namun, Nabi yang dicaci maki tidak lantas membalas dengan cacian ataupun kemarahan. Ia membiarkan perkataan kotor orang yang ditolongnya. Bahkan, penghinaan yang dialamatkan kepada dirinya tidak membuat Nabi mengurangi pertolongan kepada orang tersebut.

Ketika Nabi wafat, otomatis tugas sosial membantu masyarakat lemah pun terhenti. Maka, saat itu Abu Bakar menggantikan Nabi untuk memberi sekaligus menyuapi makanan orang-orang yang berada di pinggir pasar.

Merasa betapa pelayanan tidak seperti biasanya, orang yang disuapi tersebut tidak mau makan suapan Abu Bakar. Ia mengatakan bahwa orang yang menyuapi saat itu bukanlah orang yang biasa menyuapi dirinya. Ia dapat merasakan kelembutan orang yang biasa menyuapinya tidak dapat dirasakan pada saat itu.

Mendengar perkataan tersebut, Abu Bakar menerangkan bahwa orang yang biasanya menyuapi adalah Nabi Muhammad yang saat itu telah wafat. Untuk itulah, dirinya menggantikan Nabi untuk memberikan pertolongan. Mendengar keterangan dari Abu Bakar, seketika orang tersebut bertaubat, dan menyatakan masuk Islam.

Dengan menyimak kisah itu, kita menjadi sangat bersyukur bahwa keluarga presiden merupakan orang-orang pemaaf. Karena, di balik sifat pemaaf yang ada, bukan "kekalahan" yang akan didapat, melainkan kebaikan dan keberkahan yang akan dirasakan.

Namun, berbeda dengan sikap penegak hukum terhadap pelaku penghinaan. Penegak hukum harus bertindak tegas terhadap segala kejahatan yang ada. Lebih-lebih penghinaan tersebut melibatkan keluarga presiden. Tujuan utama penindakan tegas terhadap pelaku penghinaan adalah memberikan pelajaran sehingga pelaku menjadi jera. Selain itu, dengan adanya tindakan tegas, publik juga akan berpikir berulang kali untuk melakukan kejahatan serupa.

Sebaliknya, ketika pelaku penghinaan dibiarkan begitu saja, ia akan lebih berani melakukan tindak kejahatan lain yang lebih besar. Di samping itu, publik juga akan dengan mudah terkena virus kejahatan serupa. Alhasil, tindak kejahatan akan menjadi budaya sebagian besar masyarakat Indonesia. Dan, hal ini harus kita hindari bersama. Salah satunya adalah dengan memberikan efek jera terhadap pelaku yang telah nyata melakukan penghinaan yang tidak pantas.

Anton Prasetyo muassis Madrasah Diniyah Bitul Hikmah Yogyakarta


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed