DetikNews
Selasa 12 September 2017, 12:24 WIB

Kolom

Menjadi Haji yang Berkontribusi untuk Negeri

Denis Arifandi Pakih Sati - detikNews
Menjadi Haji yang Berkontribusi untuk Negeri Kepulangan jamaah haji kloter 1 debarkasi Solo (Foto: Ragil Ajiyanto)
Jakarta - Pelaksanaannya ibadah haji 1438 H sudah selesai. Para jamaah haji asal Indonesia dan juga negara-negara lainnya sudah meninggalkan Arab Saudi. Mulai 6 September 2017 ada 5 kloter yang diterbangkan perdana ke Tanah Air, kemudian disusul oleh 6 kloter lainnya. Begitulah selanjutnya, sampai semua jamaah haji bisa kembali dan bersua karib kerabatnya.

Haji bukan sekadar Rukun Islam yang kelima. Ia bukan sekadar ibadah jasadiyah. Ada makna-makna tersirat di baliknya. Haji adalah ibadah yang berbiaya tinggi; sia-sia jikalau sampai tidak memberikan kontribusi. Makanya, seorang haji yang mabrur itu bukan dilihat ketika pelaksanaan ibadahnya --walaupun ada pengaruhnya dalam kesahihannya-- tapi dilihat dari efek yang lekat dalam diri orangnya setelah menunaikannya.

Dalam sejarah Indonesia, sebenarnya sudah termaktub jelas bahwa para haji itu memiliki peranan besar dalam Kemerdekaan. Mereka memiliki kontribusi agung dalam melahirkan generasi pejuang. Para haji yang baru saja kembali dari Mekkah menjadi momok menakutkan bagi pemerintah kolonial. Mereka bukan saja kembali membawa status kehormatan, namun juga ajaran militan anti penjajahan.

Dalam konteks kekinian, seharusnya para haji memiliki kontribusi lebih. Tidak sekadar berpeci putih, kemudian hanya memikirkan diri sendiri. Apalagi hanya sekadar ditempelkan dalam kampanye politik demi meraup suara para pemilih. Itulah kenyataannya yang terjadi saat ini. Mereka hanya menjadi saleh, menjadi baik bagi diri sendiri, namun tidak menjadi mushlih; memperbaiki kerusakan-kerusakan tatanan yang ada di sekitarnya.

Bahkan ada yang lebih parah lagi, pascapulang haji bukannya menjadi lebih baik, malah kejahatannya semakin merajalela dan keburukannya semakin tersebar ke mana-mana. Memahami makna haji dengan baik adalah pangkal kontribusi pasca menunaikannya. Menjadi insan yang bertakwa adalah modal utamanya. Takwa inilah yang akan mendorong orang yang berkontribusi aktif dalam masyarakatnya, dan takwa inilah yang akan mencegah pelakunya berbuat kejahatan.

Tidaklah seseorang penyandang status haji melakukan tindak pidana korupsi, kecuali takwa itu terlepas dari dirinya. Tidaklah seorang penyandang haji menipu konstituennya, kecuali takwa itu lenyap dari jiwanya. Takwa itu adalah ruh. Takwa itu adalah mesin, yang menggerakkan jiwa insan untuk mencegah setiap perbuatan yang melanggar nilai-nilai qurani.

Simbol Perlawanan

Menarik ucapan dari penyair terkenal asal Palestina, Murīd Barghūthī yang suatu kali mengatakan: Apa yang kalian lempar dalam ibadah haji adalah pemimpin kalian di negara kalian. Maka, sadarlah!

Salah satu ibadah yang harus dikerjakan jamaah dalam prosesi ibadah haji adalah melempar jumrah. Itu bukan melempar setan, yang sama sekali tidak berdiri dan tidak berada di sana. Melempar jumrah adalah syiar perlawanan terhadap sikap-sikap syaithani, yang tampak nyata dalam godaan setan terhadap Nabi Ibrahim yang akan menjalankan perintah Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail.

Inilah yang harus menjadi suatu paham bagi para haji. Lempar jumrah itu adalah simbolisasi dari perlawanan terhadap segala bentuk kejahatan. Makanya, tidak heran jikalau Murīd Barghūthī mengatakan bahwa yang dilempar jumrah itu adalah para pemimpin kalian di negeri kalian. Tidak semua memang. Tapi, ada pejabat dan elite pemerintahan yang bersifat syaithani seperti itu, yang berusaha menanam dan menghunjam nilai-nilai keburukan dalam pemerintahannya demi mempertahankan kekuasaannya.

Para haji yang mabrur adalah para haji yang berkontribusi melawan dan membajak segala bentuk kezaliman, kemudian menanam nilai-nilai kebaikan dan kebajikan di tanah yang sudah digarap. Tidak harus dalam taraf nasional, apalagi internasional. Mulai saja dari tatanan yang paling kecil saja terlebih dahulu. Keluarga, itu jelas. Bahkan seharusnya sebelum menunaikan ibadah haji, keluarga sudah paham dengan nilai-nilai kebajikan dan sudah harus menjadi pakaian keseharian mereka.

Di masyarakat, itulah yang selanjutnya harus digarap. Diharapkan, para haji tadi berjuang dengan badannya, tenaganya, dan pikirannya di masyarakat. Kalau dengan harta, itu sudah jelas. Sebab, citra haji dalam pandangan masyarakat adalah citra kalangan atas, kalangan berduit, dan berjabatan hebat.

Sebaliknya, jangan malah menjadi haji yang rusak dan merusak, menyebarkan keburukan dan menghancurkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat. Haji semacam ini hanyalah haji yang maghrur, yang tertipu dengan statusnya, yang mau mengeluarkan uang ratusan juta rupiah untuk berada di Makkah, agar kemudian bisa mendapatkan suara massa, kemudian menjadi petinggi negara. Niatnya salah.

Jikalau tidak mampu berkontribusi lebih, maka paling tidak jangan jadi sosok perusak negeri. Suatu kali, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amalan yang paling baik. Beliau menjawab: Berjihad di jalan Allah. "Jikalau kami tidak mampu?" tanya para sahabat. Memerdekan budak yang paling mahal harganya. "Jikalau tidak mampu?" tanya sahabat lagi. Mengajarkan ilmu agar orang menjadi ahli. "Jikalau tidak mampu?" Kalian menahan keburukan kalian dari orang lain, maka itu adalah sedekah kalian bagi diri kalian sendiri. (Shahih al-Bukhari 2518, Shahih Muslim 84)

Artinya apa? Artinya, jikalau tak mampu berbuat baik untuk negeri ini dengan jiwa, berbuat baiklah dengan harta. Jikalau tidak mampu juga, maka dengan ilmu. Jikalau tidak mampu juga, maka dengan tidak mengganggu jalannya kebenaran. Itu sudah cukup. Dan, itu sudah menunjukkan haji yang berkontribusi untuk negeri.

Denis Arifandi Pakih Sati dosen di Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam (Mahad Ali bin Abi Thalib) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed