DetikNews
Senin 11 September 2017, 14:43 WIB

Kolom

Revitalisasi Ilmu Falak

A Halim Mahfudz - detikNews
Revitalisasi Ilmu Falak Foto: istimewa
Jakarta - Ilmu Falak bagi publik masih menjadi ilmu yang remote, dianggap berjarak dari kehidupan keseharian. Masyarakat sejauh ini mendengar tentang Ilmu Falak hanya ketika mereka menunggu pengumuman jatuhnya Hari Raya Idul Fitri.

Ketika menunggu pengumuman Idul Fitri, dada mereka bergedup; jangan-jangan akan ada dua versi Idul Fitri. Masyarakat masih jauh dari mendapatkan pemahaman bahwa Ilmu Falak harusnya bisa memberikan manfaat lebih luas bagi umat lebih dari sekadar pengumuman Idul Fitri.

Manfaat lebih luas dari Ilmu Falak misalnya tentang perubahan iklim, dan pengaruh alam terhadap kesehatan. Bahkan Ilmu Falak harusnya mampu memperhitungkan potensi terjadinya bencana alam.

Itulah tema yang dibahas dalam Mudzakarah Falakiyah Nasional atau Seminar Nasional Ilmu Falak di Pesantren Salafiyah Seblak, di Jombang, 7 September lalu. Dan, salah satu topik yang mencuat dalam seminar tersebut adalah ide adanya lembaga kalender negara.

Isu lain yang menjadi topik bahasan adalah pentingnya membumikan Ilmu Falak dengan menggali manfaatnya untuk kualitas hidup manusia. Sementara, lembaga kalender negara diharapkan berperan menentukan jatuhnya hari-hari penting seperti Lebaran, hari libur keagamaan yang penting di Indonesia, hingga jadual pelaksanaan haji dan pengelolaannya.

Para ilmuwan Falak dan Astronomi yang hadir dalam seminar tersebut sepakat bahwa lembaga kalender negara sudah lama dinantikan dan memang diperlukan. Setiap menjelang Lebaran, masyarakat selalu berdegup-degup, misalnya, menantikan pengumuman kapan tepatnya jatuhnya Idul Fitri. Dan, masyarakat sudah lama terjebak dalam beda cara menentukan Idul Fitri.

Rasanya cukup lelah masyarakat dengan isu tersebut. Media massa, apalagi media sosial, lebih menikmati perbedaan cara menentukan Lebaran secara dikomotis daripada berusaha menemukan titik temu. Sedangkan masyarakat berharap mereka terhindar dari dada yang berdegup karena mereka 'hanya' ingin merayakan Idul Fitri dengan gembira dengan seluruh keluarga sebagai ekspresi kemenangan setelah sebulan berpuasa Ramadan.

Tema Revitalisasi Ilmu Falak untuk Kemaslahatan Umat diangkat untuk memberi peluang dan wadah para ilmuwan mengembangkan potensi Ilmu Falak bagi kebaikan kualitas hidup masyarakat. Pemikiran tentang lembaga kalender negara hanya salah satu ide awal yang muncul untuk mengembangkan Ilmu Falak bagi kebaikan umat.

Pemikiran lain adalah potensi memperluas kemanfaatan Ilmu Falak bagi kebaikan hidup umat manusia. Salah satu isu yang mengemuka adalah peran Ilmu Falak dalam mengkaji terjadinya bencana alam.

Ilmu Falak bisa dikembangkan untuk mengkaji kemungkinan terjadinya bencana yang sama sekali bukan dalam perspektif meramalkan. Ilmu Falak juga bisa dikembangkan untuk mengkaji perubahan iklim hingga hujan yang dulu turun hanya selama bulan-bulan berkahir "er" —dari September hingga Desember, sekarang bisa turun di bulan Juli hingga Agustus.

Ilmu Falak juga bisa dimanfaatkan untuk menghitung dampak perubahan iklim bagi industri pertanian, peternakan, perubahan cuaca. Potensi tersebut membutuhkan kesamaan perspektif bahwa kemampuan Ilmu Falak sejauh ini telah difokuskan hanya untuk menentukan arah kiblat, menentukan jadual salat, dan menetapkan jatuhnya awal Bulan Hijriyah terutama terkait dengan Idul Fitri.

Ketika menentukan awal Bulan Syawal yang terkait dengan Idul Fitri, masyarakat menerima suguhan media tentang situasi menegangkan, bagaimana repotnya menentukan Idul Fitri. Sidang Itsbat yang disiarkan langsung televisi secara nasional dan diikuti dengan tulisan-tulisan independen di medsos oleh lembaga atau perorangan, meningkatkan ketegangan betapa sulit, rumit dan ribetnya menentukan tanggal 1 Syawal.

Belum lagi aliran agama atau tarekat yang diekspos media yang memiliki cara tersendiri menentukan Idul Fitri mereka. Dengan model pemberitaan seperti itu, maka yang tersaji dan dipahami oleh masyarakat adalah perbedaan cara menentukan 1 Syawal, bukan peran dan manfaat Ilmu Falak untuk kemaslahatan umat.

Maka kini sudah waktunya ada cara penataan dan pengaturan yang resmi, sah dan diakui menentukan 1 Syawal dan hari besar keagamaan lainnya melalui pendekatan Ilmu Falak. Upaya ini akan membutuhkan saling pengertian dan kerja sama banyak pihak termasuk media massa.

Sudah waktunya bagi media untuk melihat peluang menyatukan perbedaan melalui sudut pandang yang lebih membangun kemaslahatan, bukan sekadar menghidangkan perbedaan tanpa upaya menyatukan. Media massa dan media sosial perlu lebih menguak peluang menyatukan perbedaan daripada mengekspos perbedaan untuk sesuatu yang tidak jelas.

A Halim Mahfudz lulusan IAIN Surabaya dan Cornell University, pengasuh Pesantren Salafiyah Seblak, Jombang


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed