Kali ini saya mendapatkan energi baru untuk kembali membincangkan pentingnya mewujudkan kesejahteraan umat manusia sebagai prasayarat terciptanya dunia yang damai. Pemicunya adalah pertemuan saya dengan Gul Hussain Ahmadi, Duta Besar Afghanistan pada 23 Agustus lalu. Beliau melakukan kunjungan kehormatan ke Kedubes RI di Warwasa, Polandia. Cukup lama kami berbincang-bincang tentang situasi dunia, khususnya yang tengah terjadi di Afghanistan beberapa waktu terakhir.
Apa yang sedang terjadi di Afghanistan merupakan contoh bagaimana pembangunan sebuah negara tertinggal terus menghadapi kemelut yang mengancam perdamaian internal; kemelut yang berasal dari konflik internasional maupun terorisme yang berkelindan di dalam negerinya.
Dua Gangguan
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Percobaan bom nuklir hidrogen dari Korea Utara meski telah dideteksi oleh kebanyakan biro intelejen dunia ternyata hasilnya sangat mengejutkan karena skala kekuatannya. Demikian juga dengan pernyataan Korea Utara yang mengumumkan bahwa peluru balistik antarbenua mereka berhasil membawa bom nuklir hidrogen yang sangat destruktif.
Ancaman kedua adalah terorisme internasional yang berkelindan dengan gejolak yang terjadi di sejumlah 'negara gagal' seperti Yaman, Suria, dan Libya. Pada sejumlah negara tersebut ISIS masih memiliki basis.
Sebelum dan sejak peristiwa 9/11, Afghanistan merupakan ancaman utama bagi Barat. Kegagalan Pemerintah Afghanistan menguasai dan mengendalikan daerah di luar Kabul, meski dengan bantuan militer negara-negara Barat sekali pun, membuatnya menjadi ancaman yang laten.
Belum lagi kecenderungan Pakistan yang tidak ikut membantu, atau memberikan dukungan untuk memperbaiki stabilitas di negara tetangganya. Dan, yang lebih mengganggu lagi adalah problem ekonomi Afghanistan yang sampai sekarang belum menemukan penyelesaiannya.
Solusi Ekonomi
Afghanistan merupakan sumber produksi madat atau heroin (opium) terbesar dunia. Mereka mengekspor 80% produk mematikan ini ke seluruh dunia. Ini merupakan sumber dana yang berlimpah bagi hampir 37% organisasi terorisme internasional.
Diketahui, setengah dari pendapatan Taliban sebesar US$ 400 juta bersumber dari heroin. Sayangnya, segala cara untuk menghentikan ketergantungan pendapatan Afghanistan maupun Taliban dari heroin selama ini tidak berhasil. Demikian juga untuk mengubah ekonomi Afghanistan dari kegiatan ekonomi ilegal ke ekonomi legal, sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda positif. Padahal kekayaan sumber daya mineral yang berlimpah sangat menjanjikan.
Menurut perkiraan, nilai cadangan mineral Afghanistan seperti tembaga, bijih besi, maupun lithium, kerak bumi yang dipakai untuk pembuatan batere, turbin angin, panel tenaga surya berkisar US$ 1 triliun. Harga beberapa mineral tertentu memang sedang menurun namun permintaan akan litihium sekarang sedang melambung, di mana Tiongkok sebetulnya merupakan pemasok dunia utama terhadap produk ini.
Sebelum Donald Trump merevisi strategi politiknya terhadap Afghanistan pada Agustus lalu, menurut stasiun televisi Bloomberg, para pengusaha dan pelobi Amerika bertemu dengan Trump untuk membuat rencana kerja baru bagi dimulainya kembali industri penambangan mineral. Menurut sumber tertentu, Trump setuju dengan rencana tersebut.
Amerika Serikat memang tidak kekurangan tenaga ahli untuk meyakinkan para pengambil keputusan bahwa infastruktur Afghanistan sekarang jauh dari sempurna untuk memulai operasi komersial yang aman di sana. Inilah yang digunakan sebagai alasan mereka mendorong dimulainya pembangunan infrastruktur Afganistan bersama beberapa negara Barat lainnya, dan tentu saja di bawah kepimpinan Amerika Serikat.
Menariknya, kalau Amerika Serikat tidak tertarik, Tiongkok akan segera melakukannya. Tiongkok yang berbatasan langsung dengan Afghanistan mempunyai kontrak karya dalam mengoperasikan sebuah tambang tembaga dan emas sebesar US$ 3 miliar. Mereka sudah tidak sabar lagi untuk memulai pekerjaan ini. Sementara itu Afghanistan bertekad untuk memproteksi mineral kerak bumi yang sangat langka di dunia.
Namun demikian kritik terhadap kebijaksanaan Amerika Serikat sangat vokal. Para pengkritik itu menuduh Amerika sekarang masih terus mengembangkan imperialisme ekonomi pada negara-negara yang sedang sulit mengembangkan ekonomi lokalnya.
Menurut hemat saya argumentasi tersebut sangat tidak relevan. Alasannya, perbaikan ekonomi Afghanistan menghadapi banyak kendala dan menghadapi kesulitan untuk bangkit dan berkembang. Argumentasi bahwa investasi Amerika Serikat membangun infrastruktur kereta api dan jaringannya sangatlah tidak tepat dan mencederai perekonomian Afghanistan sungguh mengada-ada.
Bagaimana pun kondisi perekonomian Afghanistan benar-benar porak-poranda karena konflik internal yang tak berkesudahan. Yang lebih penting lagi, apa yang disarankan para pengkritik sangatlah ambisius, dan melihat jauh ke depan daripada sekadar "quid pro quo" untuk menjamin keamanan penguasa yang didukung Amerika Serikat.
Seperti yang dipertanyakan seorang pengusaha Amerika yang memiliki pengalaman luas dalam bisnis pertambangan di Indonesia, "Apakah Amerika dan dunia lupa sejarah panjang dalam memimpin pembangunan kembali dunia waktu mereka memulai Marshal Plan?"
Tujuannya bukanlah untuk saling sikut dalam persaingan, tapi membangun basis untuk memulai pemenuhan kebutuhan infrastruktur di Afghanistan. Pembangunan dapat kita lihat di mana-mana. Lihat saja Mongolia dan Kyrgyzstan sedang giat-giatnya membangun industri pertambangan mereka yang demokratis dan akuntabel dengan menggandeng tenaga-tenaga dari luar untuk kepentingan bersama.
Keberhasilan kedua negara itu hendaknya bisa menginspirasi Afghanistan maupun negara-negara lainnya yang dilanda konflik, yang sulit untuk memulai pembangunan ekonominya karena kurangnya dana dan kecurigaan, agar dapat mengikuti jejaknya. Tentu saja untuk kemajuan negaranya, kesejahteraan masyarakatnya, dan membuat dunia menjadi lebih aman. Semoga!
Peter F. Gontha Duta Besar Indonesia untuk Polandia
(mmu/mmu)











































