Keyakinan penduduk Ur pada masa itu bisa dikatakan animistik dalam pengertiannya yang paling sederhana. Dalam pemahaman Ibrahim muda, mereka menyembah patung-patung secara harfiah. Penduduk Ur menyembah patung-patung mati yang mereka ciptakan sendiri. Maka, Ibrahim muda pun mendakwahkan pemikiran keagamaan monoteistik, sebagai pengganti pemikiran animistik.
Bagi Ibrahim, keyakinan monoteistik adalah keyakinan yang bisa menjelaskan dan menjawab perihal pencipta alam semesta, termasuk kehidupan manusia itu sendiri. Patung-patung jelas adalah produk ciptaan manusia yang tak pantas disembah. Tak banyak yang percaya pada pemikiran keagamaan Ibrahim, tentu saja. Bahkan, bapaknya sendiri yang juga menjadi tukang patung tidak percaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dakwah pemikiran Ibrahim memang bisa dikatakan gagal. Namun, Ibrahim muda yang radikal bahkan anarkis tidak menyerah. Pada suatu malam, seperti dikisahkan dalam al-Quran (21: 59-67), Ibrahim datang ke tempat peribadatan penduduk Ur yang paling besar dan ramai. Ibrahim menghancurkan patung-patung ketuhanan yang disembah penduduk Ur. Dalam hatinya, sangat mungkin Ibrahim muda merasa begitu kuat dan benar karena bisa dan mampu menghancurkan tuhan-tuhan.
Dan, sebagai pemikir jenius sejak muda yang terkenal di daerahnya, Ibrahim sadar bahwa dialah yang pertama-tama akan ditanya bahkan diinterogasi atas kehancuran patung-patung. Maka, dengan cerdik Ibrahim menyisakan satu patung terbesar, bernama Sin. Kapak yang digunakan sebagai alat penghancur patung-patung yang lebih kecil ditaruh di tangan Sin. Inilah strategi dan jawaban yang dia persiapkan saat diinterogasi dan disidang nanti.
Dan begitulah, pagi hari penduduk Ur gempar melihat patung-patung hancur. Para penduduk Ur bertanya-tanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Dia pasti termasuk orang-orang yang zalim." Tentu saja, pemikiran mereka langsung tertuju pada Ibrahim yang terkenal sebagai penghina tuhan-tuhan mereka.
Ibrahim pun panggil, diadukan, disidang, dan diinterogasi. "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" tanya para penduduk Ur. Kita tahu jawaban Ibrahim muda yang sudah sangat terkenal: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, bila mereka dapat berbicara."
Hoax Ibrahim
Ada dua hal menarik dan penting dari jawaban Ibrahim itu. Pertama, barangkali baru pertama kalinya itulah Ibrahim berbohong. Dia menyebarkan hoax (kebohongan) kepada penduduk Ur yang tentu saja tidak mungkin dipercaya โinilah salah satu kebohongan secara sengaja dari seorang nabi yang dicatat dalam kitab-kitab agama ibrahimi. Tentu saja penduduk Ur yang dianggap menyembah tuhan patung oleh Ibrahim tidak mungkin percaya bahwa patung yang terbesar telah menghancurkan patung-patung yang terkecil.
Mereka tahu bahwa dalam sejarah beragama mereka, patung yang mereka pahat sendiri tidak pernah benar-benar mereka sembah, apalagi bakal bergerak seperti manusia dan menghancurkan patung lain. Patung-patung itu hanya simbolisasi belaka dari tuhan yang mereka sembah. Dalam bahasa penyair sufistik Amir Hamzah: aku manusia/ rindu rasa/ rindu rupa. Ini sama dengan kata 'tuhan' atau 'Allah' yang bisa digunakan semua agama ibrahimi untuk menyebut dzat yang mereka imani.
Dalam kehidupan mutakhir, logika yang sama terjadi dalam dunia fashion, teknologi, bahkan pemikiran-ideologis atau teologis. Yang dipuja dan diperjuangkan bukanlah benda material (atau ideal) itu sendiri, seperti Tas Hermes atau bahkan gagasan abstrak, dan seterusnya. Yang diperjuangkan dan dibela bahkan diimani adalah gagasan idealitas yang dianggap lebih unggul, lebih berkelas sosial, lebih bermartabat, atau lebih benar.
Kita tahu bahwa manusia menciptakan benda bukanlah karena benda itu sendiri, hadir begitu saja seperti udara atau dibuat dalam permainan bocah-bocah, tapi karena kehendak mengeskpresikan suatu gagasan atau kehendak. Dan, kita membeli barang bukan karena bahan materialnya saja, tapi juga gagasan yang telah disematkan dalam benda-benda itu sendiri.
Kesalahan terbesar Ibrahim di hadapan penduduk Ur bukan hanya telah menghancurkan patung-patung yang tentu masih bisa dibuat lagi. Tapi, gagasan monoteismenyalah yang hendak menghancurkan idealitas ketuhanan yang disematkan pada patung-patung itu.
Kedua, untuk menghancurkan gagasan ketuhanan dalam patung-patung itu, Ibrahim menggunakan logika musuh. Dalam ucapan pembelaan Ibrahim bahwa patung terbesar (Sin) yang telah menghancurkan patung, ada pengakuan bahwa patung itu berkuasa (atau menjadi tuhan).
Ibrahim sebenarnya hendak menegasi atau menghancurkan secara radikal gagasan ketuhanan penduduk Ur. Kalau patung itu benar tuhan, dia pasti bisa menghancurkan patung-patung yang lebih kecil, karena Sin seharusnya berkeinginan menjadi tuhan satu-satunya, tanpa disaingi, menjadi yang paling adikuasa. Namun, ternyata bukan saja Sin tidak menghancurkan patung-patung lain, tapi bahkan Sin sendiri tidak bisa dimintai sekadar pembenaran atau pembelaan atas kebohongan Ibrahim.
Penduduk Ur barangkali sadar: patung Sin tidak mungkin berbicara. Ibrahim hanya mengolok-olok kepercayaan mereka. Maka, atas perbuatan itu, Ibrahim dihukum bakar tapi selamat dan akhirnya diasingkan dari Ur.
Ibrahim Modern
Apa yang dilakukan Ibrahim --menghancurkan patung lalu mengadu logika bahkan kebohongan-- tampaknya sekarang masih tetap kita temukan, setelah sekian milenium sejak sang pemuda itu melakukannya. Kita mendapati bahwa beberapa orang yang dianggap taat, tidak segan dan tak sungkan-sungkan menyebarkan pemberitaan atau pernyataan yang tak teruji bahkan sudah jelas suatu kebohongan.
Beberapa orang bahkan menganggap menyebarkan semua itu sebagai bagian dari dakwah, penyebaran kesadaran beragama, dalam suatu perang informasi. Namun, yang tak mereka pelajari dari peristiwa radikalisme Ibrahim adalah bahwa semua perjuangan Ibrahim terhadap penduduk Ur hampir bisa dikatakan gagal total.
Tentu bisa banyak analisis dan dalih atas kegagalan Ibrahim. Namun, tampaknya satu hal yang cukup jelas diajarkan sejarah manusia: perjuangan satu agama dengan kekerasan dan kebohongan tak pernah bisa menyentuh relung jiwa dan pikiran manusia. Dalam kasus Ibrahim, bapak monoeteisme agama dunia, yang kita rayakan bukanlah perjuangan Ibrahim melawan pemberhalaan benda-benda.
Kita justru merayakan peristiwa Ibrahim sebagai seorang bapak yang diperintahkan mengurbankan anak terkasihnya. Ujian keagamaan Ibrahim bukanlah saat berhadapan dengan orang lain atau satu masyarakat, tapi terhadap keimanannya sendiri: apakah cinta kasihnya lebih kuat dan lebih berarti pada seorang anak tersayang daripada iman pada Tuhan yang Maha Agung.
M. Fauzi Sukri koordinator Tadarus Buku di Bilik Literasi Solo
(mmu/mmu)











































