DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 30 Agustus 2017, 15:10 WIB

Kolom

Media Sosial, Manipulasi Religiusitas, dan (Jatuhnya) Marwah Islam

Irfan L. Sarhindi - detikNews
Media Sosial, Manipulasi Religiusitas, dan (Jatuhnya) Marwah Islam Foto: Thinkstock
Jakarta - Ketika Martin van Bruinessen (2013) tiba pada kesimpulan bahwa Islam Indonesia tengah, katakanlah, mensaksimatai tumbuh-pesatnya konservativisme, ia mendasarkan kesimpulan itu pada corak organisasi Islam yang tumbuh, pada perubahan paradigma di tubuh organisasi-organisasi Islam yang telah mapan, pada fenomena munculnya radikalisasi Islam, dan pada karakter sebagian fatwa MUI yang --dalam bahasa Woodward (2014)-- kadang digunakan oleh organisasi radikal untuk menjustifikasi aksi intoleran mereka. Tetapi, mungkin Bruinessen belum sampai pada analisis tentang kausalitas fenomena tersebut terhadap ekspresi religiusitas di media sosial.

Gus Dur sebetulnya telah memprediksi tentang ekspresi keberislaman yang cenderung formalistik dan simbolik, dan kecenderungan itu kian kita lihat dalam perilaku bermedia sosial. Untuk mengawali analisis ini, fakta dasar perlu disajikan. Pertama, umat muslim di Indonesia mencapai lebih dari 207 juta orang, terbesar di dunia, dan merupakan pengguna media sosial aktif. Menurut Balea (2016), 85% masyarakat Indonesia memiliki ponsel, dengan 43% di antaranya adalah smartphone. Tapi, uniknya jumlah ponsel yang terjual jauh melebihi jumlah total populasi Indonesia —mencapai lebih dari 300 juta unit. Artinya, satu orang dapat memiliki dua atau lebih ponsel.

Dari angka-angka tersebut bisa ditambahkan data ini: pengguna internet tercatat sebanyak 100 juta orang (eMarketer, 2016) dengan trafik mobile web mencapai 79% dan Facebook adalah media sosial paling laris. Kedua, telah sejak lama bangsa Indonesia diyakinkan bahwa agama adalah faktor penting dalam hidup. Kita bahkan sampai pada pemersepsian bahwa mereka yang tidak beragama adalah tidak bermoral —persepsi yang layak untuk dikontestasi.

Pada 1980-an, seperti dicatat Azyumardi Azra (1999) muncul tren santrinisasi dan peningkatan religiusitas-spiritualitas. Ia menyandarkan indikasinya itu pada tumbuh pesatnya pesantren di perkotaan dan maraknya sekolah Islam. Sepertinya, kemampuan modernitas dan perkembangan teknologi dalam menawarkan perikehidupan yang baru telah meruangkan kegersangan spritual yang membuat orang terpikir untuk berislam secara lebih konservatif. Boleh jadi, hal ini juga ditopang oleh kekhawatiran bahwa liberalisme menggerus nilai-nilai akidah dan filosofi dasar Islam.

Di kalangan muslim tradisional, konservativisme sebetulnya dapat dilacak jauh hingga ke masa al-Ghazali, ketika masyarakat muslim menjadi antipati terhadap filsafat, dan ketika kanon hukum Islam —al-Quran, hadits, dan ijma ulama— dianggap telah final sehingga tidak diperlukan lagi pembaharuan. Yang terjadi kemudian adalah dominasi proses duplikasi dan taklid. Bagi kalangan modernis, konservativisme juga ditemukan, ditopang oleh sentimen negatif terhadap ijma ulama. Belum lagi jika kita tambahkan Salafi-Wahabi yang menawarkan ide 'pemurnian Islam' yang antipati terhadap dialog Islam dan budaya lokal Nusantara.

Terlepas dari apapun coraknya, ide untuk berislam secara konservatif pada akhirnya memperkecil ruang berpikir kritis dan kontekstualisasi ajaran. Ayat-ayat al-Quran ditafsirkan secara lebih rigid dan tekstual. Muslim cenderung diajarkan untuk hanya menerima dan tidak dilatih untuk mempertanyakan, mengkontestasi, dan mengkroscek. Ia membangun isolasi, menutup diri, yang berujung pada pikiran yang sempit (closed-mindedness).

Closed-mindedness, bagaimanapun, membuat seseorang enggan mendengar dan melihat dari kacamata orang lain sekaligus merasa diri paling benar. Ketika media sosial menjadi konteks, orang-orang jenis ini bertransformasi menjadi orang yang gampang diperdaya, dimanipulasi, dipolitisasi. Jari mereka superreaktif untuk mengklik like, share, dan comment. Energi mereka inilah yang menjadi penyumbang keuntungan besar para buzzer.

Tetapi, konservativisme bukan penyebab tunggal; minimnya kemampuan literasi media dan rendahnya minat baca juga menyebabkan isu-isu dan sentimen keagamaan dapat dengan mudah dimanipulasi dan dipolitisasi, terlebih di sosial media.

Manipulasi Religiusitas

Dengan potret dan corak pasar model demikian, yang perlu dilakukan para buzzer —baik atas pesanan politik maupun semata ekonomi— adalah menyentuh atau menyinggung rasa dan semangat keberislaman si konsumen. Oleh sebab ketidakkritisan dan pikiran yang sempit para konsumen ini, para buzzer tidak perlu berpayah membangun narasi yang kredibel serta fakta yang teruji dan faktual.

Mereka hanya butuh menyajikan beragam posting-an yang mampu memicu entah rasa penasaran, ketertarikan, kekaguman, atau bahkan kemarahan dan kebencian. Biasanya, judul yang disajikan bersifat provokatif, demi tujuan clickbait. Tetapi, cara kerja mereka sepertinya tidak sesederhana itu. Dalam soal pemilihan dan penggunaan akun, misalnya, ada beberapa pendekatan yang dilakukan.

Pertama, membuat akun palsu atas nama ustad yang sedang ngetop. Yang dijual adalah kredibilitas para ustad ini. Kecenderungan para muslim awam untuk taklid buta menjadi pelipat ganda keuntungan. Kedua, menggunakan akun yang diafiliasikan terhadap organisasi Islam tertentu, biasanya yang bercorak radikal. Pemilihan ini boleh jadi untuk menjaring dan memperkuat kohesi organisasi —sekaligus indoktrinasi.

Ketiga, menggunakan akun yang murni anonim tetapi secara konsisten dan persisten mengunggah posting-an yang berbau hoax dan provokatif. Keempat, dan ini yang disayangkan, membuat akun dengan nama-nama Islami. Dilansir dari @TurnBackHoax, sebagian akun penyebar hoax memiliki nama-nama Islami sebagai berikut: muslimcyberarmy, Indonesiabertauhid, dakwah_tauhid, serambimekah, beritaislam212, mahasiswamuslim, ansor_212, suaraummat, dan sejenisnya.

Untuk menunjang dan menggenjot publisitas, para buzzer memiliki banyak akun media sosial, termasuk akun-akun back up kalau-kalau akun yang pertama diblokir. Tetapi, memanipulasi akun saja tidak cukup; mereka juga butuh narasi yang kuat, provokatif, yang mampu menarik perhatian khalayak. Dalam upaya tersebut mereka melakukan setidaknya lima pendekatan.

Pertama, memelintir berita. Misalnya, pemberitaan tentang pertemuan Presiden Jokowi dengan Raja Salman dipelintir dengan caption berita yang provokatif dan bernada kebencian. Akun atas nama Khazanah Islami, misalnya, menyebar berita tentang muslim di Burma yang diperlakukan seperti binatang dengan foto yang ditampilkan berupa foto dari adegan film dokumenter di India. Gus Dur juga dipelintir demi untuk mengesankan bahwa pencinta Gus Dur mestinya mendukung Habib Rizieq. Foto Gus Mus setali tiga uang.

Kedua, dengan 'mengislam-islamkan' tokoh dalam sejarah. Baru-baru ini akun Indonesiabertauhidid mem-posting berita bahwa Jack Sparrow sebenarnya adalah muslim. Kita juga mendengar bagaimana Gajah Mada diyakini sebetulnya bernama Gaj Ahmada, seorang muslim. Juga bantahan tentang foto Cut Nyak Dien yang diklaim sebagai keliru karena yang benar harusnya berhijab. Dan seterusnya bisa Anda tambahkan. Dikultivasi setiap waktu.

Ketiga, berkaitan dengan melankolia akan kenangan masa kejayaan Islam. Persis sejak era modern, muslim dunia masih tertatih-tatih dan setiap muslim meyakini akan datangnya hari kebangkitan kejayaan tersebut. Sentimen inilah yang dimanfaatkan melalui aneka posting-an hoax semisal narasi adanya salat berjamaah di Birmingham yang diklaim sebagai salat jamaah terbesar di Eropa. Sempat pula beredar foto double decker khas London dengan spanduk salawat atas Nabi Muhammad padahal tidak pernah ada.

Keempat, dengan mempertimbangkan salah satu unsur iman dalam Islam, yaitu perkara ghaib. Produk yang dihasilkan untuk memenuhi pangsa pasar ini adalah "cocokologi" dan narasi-narasi tentang keanehan dan keajaiban. Misalnya, mencocok-cocokkan bentuk awan. Foto Paul Gaylord yang menderita bubonic plague, contoh lain, diberi caption sebagai orang yang dikutuk karena merobek-robek al-Quran, thanks to @raden_mas_wiby. Pernah juga ada berita tentang suara azan yang terdengar dari masjid yang dirobohkan, kabarnya di Swedia, yang juga adalah isapan jempol semata.

Terakhir, kultivasi sentimen negatif atas apa yang selama ini dianggap sebagai "musuh" Islam, semisal syiah, PKI, dan liberalisme. Sentimen negatif atas musuh bersama ini menjual karena mampu menyentuh, katakanlah, patriotisme buta para pengguna media sosial. Selain, boleh jadi juga bertujuan untuk menjatuhkan marwah tokoh atau organisasi tertentu. Salah satu tokoh yang paling banyak dipelintir, diserang, dan difitnah kaitannya dengan sentimen ini adalah KH. Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU. Kita sudah bisa menebak tujuannya ke mana.

Tentu saja, motivasi penyebaran hoax tidak melulu ekonomi, tetapi juga politik. Dan, ketika kedua hal tersebut menjadi ilah, maka risiko-risiko jangka panjang menjadi prioritas nomor terakhir. Sedangkan, sebagaimana yang kita tahu, risiko penyebaran hoax dengan membawa nama Islam tidak hanya berakhir di intoleransi dan disintegrasi bangsa, tetapi bahkan pada marwah dan kefitrahan Islam itu sendiri.

Kredibilitas

Islam dibangun mula-mula oleh kredibilitas Nabi Muhammad. Sejak kecil Muhammad membangun kredibilitas dirinya dengan kejujuran. Kejujurannya bahkan terkenal sedemikian rupa sehingga Khadijah mempercayakan ekspedisi ekspornya kepada beliau. Pada umur 35 tahun, Muhammad menjadi juru penengah pemasangan hajar aswad juga karena kredibilitasnya. Kredibilitas inilah yang membuat Islam diterima kendati ide-idenya dianggap mengganggu stabilitas sosio-kultural dan politik Mekah yang dianggap sudah mapan selama berabad-abad.

Jika saja Muhammad terkenal gemar menyebarkan hoax demi keuntungan pribadi —misalnya dengan mengadu domba suku dan/atau meminta tebusan— tentu ide-ide Islam ini akan jauh dari diterima. Tetapi, Muhammad memelihara kredibilitasnya dan menekankan kejujuran dan amanah sebagai salah dua dari nilai kunci Islam. Dengannya, berbohong dan menyebar fitnah dikategorikan dosa besar. Dengan penekanan terhadap akhlak itu, Islam membangun peradaban yang berbasis trustworthiness (kesalingpercayaan). Menjadi Islam, dengan kata lain, adalah menjaga kualitas trustworthy masing-masing.

Kualitas itu pula yang menjadi prasyarat diterimanya suatu 'terduga hadist Nabi' saat hendak dibukukan dua abad selepas Nabi wafat. Jika kualitas si perawi diragukan, maka kualitas hadist dinyatakan lemah atau bahkan dikategorikan palsu. Hal yang persis sama juga dilakukan saat proses pembukuan al-Quran. Dengan kata lain, Islam dibangun oleh kredibilitas, untuk kemudian menekankan pendarahdagingan kredibilitas itu. Nilai-nilai ini kemudian dirawat dan diwariskan para sahabat, tabiin, dan seterusnya. Sayangnya, tradisi panjang dan berdarah-darah itu kini terancam oleh demokratisasi semu dan kebebasan yang ditawarkan internet dan sosial media.

Betapa mudahnya seseorang menyampaikan sesuatu, yang diklaim sebagai kebenaran Islam, padahal tidak memiliki kecakapan yang cukup. Dan, mereka merasa percaya diri, tanpa rasa bersalah, menggunakan nama-nama Islami untuk akun mereka. Bahkan ketika MUI mengeluarkan fatwa haram 'menyebarkan hoax', melalui skema fikih muamalah media sosial, akun-akun ini tidak lantas berhenti berjualan Islam. Sayang sekali koalisi pengawal fatwa MUI itu kok diam saja, tidak seperti saat kasus yang menimpa Ahok.

Fenomena ini tentu saja bukan tanpa risiko. Jika dibiarkan, maka lama-kelamaan terma 'Islam' akan identik dengan 'hoax' dan 'kebohongan'. Ketika Islam telah identik dengan hoax dan kebohongan, apalagi jika kebohongan tersebut disokong oleh taklid membabi-buta yang berujung intoleransi, maka marwah dan fitrah Islam itu sendiri akan jatuh. Ada kecenderungan, yang semoga saja tidak terjadi, bahwa persepsi orang akan Islam sebagai sebuah dogma dan sistem akan terkotori oleh persepsi mereka terhadap muslim militan yang mudah dimanipulasi dan dikompori informasi palsu dan ujaran kebencian.

Yang muncul kemudian rasa ketidakadilan dan mosi tidak percaya. Jika sudah begitu, antipati akan muncul. Jika sudah antipati, apalagi sudah meluas pada tataran akidah dan fiqih, orang akan menggugat konservativisme sebagai biang keladi kemunduran dan kemandegan Islam. Niatan awal konservativisme sebagai cara untuk mengawal keterjagaan prinsip dan virtue Islam akan dianggap kontraproduktif. Jika sudah begitu, akan muncul kecenderungan untuk berpaling pada antitesis dari konservativisme, antitesis yang kadang sangat ekstrem, dan itu berarti sekularisasi yang liberal.

Jika dan hanya jika asumsi ini dapat diterima, apakah mungkin kelak Indonesia tetap menganggap religiusitas sebagai unsur penting identitas, selain nasionalisme? Dan, bagaimana nantinya ia akan mengubah derajat kesenyuman wajah Islam Indonesia?

Irfan L. Sarhindi intelektual muslim


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed