DetikNews
Selasa 29 Agustus 2017, 15:26 WIB

Kolom

Saracen dan Pasar Gelap Politik

Denny JA - detikNews
Saracen dan Pasar Gelap Politik Ilustrasi: Mindra Purnomo
Jakarta - Pertarungan politik pada tingkat tinggi acapkali terjadi dalam "pasar gelap". Segala permainan bisa terjadi dalam pasar gelap itu, sampai waktu membukanya ke publik.

Dalam pasar gelap, bisa saja A menggunakan jasa B untuk menyerang C. Tapi, hal yang biasa pula jika C menggunakan jasa B untuk menyerang dirinya sendiri (C) dalam rangka meraih simpati publik. Itu namanya "victim playing".

Dalam pasar gelap, bisa saja A mendirikan B untuk menyerang C. Perkembangan kemudian B tumbuh dan berbalik menyerang A. Publik menduga B adalah musuh A sejak awal pendiriannya. Padahal B itu ikut dibesarkan oleh A.

Sebelum segala hal terang benderang, kasus Saracen yang mengkomersialkan isu SARA, masih berada dalam wilayah pasar gelap. Polisi perlu dipuji karena mengangkat dan menemukan kasus penting itu. Namun, polisi harus tuntas hingga menemukan siapa pemakai jasa Saracen agar jelas duduk perkaranya.

Jika tidak, kasus Saracen menjadi bensin baru yang bisa membakar kembali luka baik dalam Pilkada DKI 2017 ataupun Pilpres 2014.

Cukup ketik di Google, sudah muncul pernyataan yang bertentangan. Satu pihak menyatakan Saracen digunakan oleh pihak yang menang Pilkada DKI 2017. Muncul pula kesaksian, Saracen digunakan pihak yang kalah dalam Pilkada DKI 2017 untuk membangkitkan simpati.

Mana yang benar? Itu investigasi polisi yang harus mengusutnya. Saya selaku ahli ilmu politik, sedikit memberi contoh apa yang terjadi dengan pasar gelap politik untuk kasus besar lain di dunia sana, yang kini sudah dibuka oleh pemainnya sendiri.

***

Pada 11 Sept 2001, pesawat merontokkan World Trade Center di New York. Tewas 2996 warga dan korban luka lebih dari 6000 orang. Kerugian ditaksir sebesar 10 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp 130 triliun karena hancurnya gedung dan infrastruktur.

Hingga hari ini, terjadi kesepakatan bahwa Al Qaerah berada di belakang aksi teroris yang mungkin paling spektakuler sepanjang sejarah itu. Segera muncul citra di publik luas, Al Qaedah musuh besar Amerika Serikat.

Publik tak tahu apa yang terjadi sebenarnya dalam pasar gelap politik. Kini, pelan-pelan kita terbuka mata. Tak kurang dari Hillary Clinton sendiri yang berpidato resmi dan disiarkan luas di CNN. Kita pun tetap bisa menonton cuplikan pidato Hillary itu di Youtube.

Ujar Hillary, "Kita (Amerika) yang 20 tahun lalu ikut melahirkan Al Qaedah. Kita rekrut, latih, dan berikan logistik untuk kepentingan geopolitik Amerika di Timur Tengah melawan Uni Soviet."

Yang terjadi kemudian Al Qaedah membesar dan karena satu hal (tak kita tahu semuanya), berbalik melawan tuan yang ikut melahirkannya (Amerika Serikat).

Wow! Ternyata dalam politik bisa seperti itu. Apa yang terjadi di panggung terbuka bisa berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi, yang terselenggara dalam pasar gelap politik.

Kita bisa tengok kasus lain lagi. Sebuah kisah nyata yang sudah difilmkan, berjudul American Made (2017), dibintangi Tom Cruise yang memerankan seorang pilot bernama Barry Seal

Betapa senangnya raja obat terlarang Pablo Escobar di tahun 80-an dengan Barry Seal. Pilot ini bisa dengan cerdas membantunya membawa ratusan kilo obat terlarang ke Amerika Serikat. Obat itu dari pesawat kecil dijatuhkan ke satu wilayah. Kolega bisnis Escobar sudah menanti kirim rezeki yang jatuh dari pesawat.

Bisnis lancar. Begitu banyak dana didapatkan. Dari Barry Seal, Escobar dan kelompoknya bahkan bisa mendapatkan banyak senjata untuk gerilya.

Dalam pasar gelap politik, bahkan itu tak disadari pemain sekaliber Pablo Escobar sekalipun. Ternyata, Barry Seal adalah agen CIA yang disusupkan untuk memperoleh bukti dokumen, foto dan sebagainya yang ujungnya menjerat Pablo sendiri.

Wow! Ternyata dalam politik tingkat tinggi bisa seperti itu! Apa yang nampak di permukaan berbeda dengan yang sesungguhnya terjadi dalam pasar gelap politik. Ia yang seolah partner terjadi agen yang menjeratnya.

***

Karena itulah kita memuji dan mendorong polisi harus mengungkap hingga detail siapa saja yang pernah memesan jasa the so called "Saracen" ini.

Mereka yang menggunakan politik identitas dengan melanggar hukum (hate speech, kriminal) haruslah dihukum yang setimpal. Itu tak hanya melanggar hukum, tapi juga merusak kesatuan bangsa.

Namun, harus juga disadari bahwa berpolitik atas dasar keyakinan agama itu dibolehkan oleh konstitusi UUD 45, prinsip HAM dan praktik demokrasi modern. Pemerintah dan warga harus pintar-pintar membedakan mana isu politik identitas yang boleh dan yang dilarang. Perbedaannya kadang membingungkan bagi yang tak terlatih dalam wacana pemikiran yang detail.

Semoga terbongkarnya kasus Saracen tak hanya meneguhkan kita sebagai satu negara. Tapi, juga semakin membuat kita paham bahwa ternyata dalam politik tingkat tinggi ada pula pasar gelap.

Denny JA Direktur Lingkaran Survei Indonesia


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed