Kolom

Kepekaan Jean Tarrou

Y. D. Anugrahbayu - detikNews
Kamis, 24 Agu 2017 12:06 WIB
Y.D. Anugrahbayu (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Tarrou namanya. Lengkapnya: Jean Tarrou. Ia seorang tokoh dalam roman La Peste. Albert Camus menciptakannya nyaris selaras dengan citranya sendiri. Seperti Camus, Tarrou seorang yang peka. Juga penyendiri.

Ayahnya seorang hakim. Sebagai putra hakim, Tarrou kerap diajak mengikuti proses pengadilan. Suatu hari, kebiasaan itu mengharuskannya jadi saksi suatu peristiwa yang pedih: pengadilan yang dipimpin oleh ayahnya menjatuhkan hukuman mati.

Saat vonis dijatuhkan, tatapannya tak bisa lepas dari si terhukum: "Aku hanya merasa bahwa orang yang hidup ini akan dibunuh. Suatu naluri hebat bagaikan ombak menggulungku hingga terbawa ke samping orang itu, dan kuturuti dengan kepasrahan yang pasti."

Sifat Tarrou yang peka tak mengizinkannya mengikuti jejak sang ayah. Ia justru melawannya, yakni "menolak segala yang membunuh atau membenarkan orang membunuh, baik secara langsung atau tidak, disertai alasan-alasan yang baik maupun buruk." Cita-cita itu pertama-tama dikejarnya lewat jalan politik. Namun, politik tak membawa damai bagi jiwa Tarrou.

Di mana pun dan kapan pun, politik tak pernah bersih dari pembunuhan —dalam artinya yang paling luas. Tidakkah politik mengharuskannya memilih satu haluan? Dan, tidakkah memilih satu artinya menafikan yang lain? Bagaimana kalau haluan itu ternyata justru memerintahkan pembunuhan? Tidakkah Tarrou tetap wajib mendukung? Enggan mendukung berarti keharusan berpindah haluan —artinya, beralih ke pembunuhan yang lain lagi.

Dalam politik, kata Tarrou, "Secara tak langsung saya menyetujui kematian ribuan orang, bahkan saya telah menyebabkan kematian itu karena menganggap gerakan atau prinsip yang menyeretnya sebagai sesuatu yang baik." Dari situ disadarinya sesuatu yang menghempasnya dari politik untuk selama-lamanya: "Di dunia ini, kita tak mungkin berbuat atau bergerak tanpa risiko menyebabkan seseorang mati."

Juga ketika Tarrou beralih ke dunia kerelawanan, ia tak merasa luput dari takdir itu. Mungkin itulah sumber ironi dalam kisah Tarrou. Di balik gelora heroismenya menolong para korban sampar, tersembunyi kesepian yang mencekam. "Begitu aku memutuskan tak ambil bagian dalam pembunuhan," katanya, "aku mengutuk diriku sendiri dalam pengasingan yang tetap."

Entah mengapa kesepian, kesendirian, pengasingan, perasaan terkucil seakan suatu takdir bagi siapa pun yang menolak mengikuti arus kenyataan. Tak terkecuali bagi Tarrou: ia solider, tapi juga soliter.

Kita hidup pada sebuah masa ketika kepekaan seperti Tarrou semakin dianggap lucu, kalau bukan dungu. Mempersoalkan diri sendiri kian tak jamak. Rasa bersalah, batin yang terusik ketika menyerobot hak orang lain, dianggap pengecut. Sebaliknya, main hakim sendiri, asal melawan, tak mau kalah meski salah, justru dirayakan sebagai suatu kepahlawanan.

Jagad internet ibarat lahan subur bagi sikap seperti itu: tulisan-tulisan yang berlomba jadi viral; riuh rendah tawa, bela dan cela, kelakar, juga sinisisme para pembacanya; bermacam ragam foto dan video yang memburu acungan ibu jari; berlaksa-laksa akun yang membujuk pengikut.

Di manakah tempat kemiskinan dalam semarak itu? Masih adakah sudut yang tersisa bagi berjuta orang di pelbagai pelosok yang tak terjamah oleh internet? Sanggupkah teknologi yang lari tunggang langgang ini jadi teman bagi sejumlah orang tua yang tak lagi mampu berpacu?

Tanpa seluruhnya membuang techno-optimism, Edwin Jurriëns dan Ross Tapsell dalam esai pengantar buku Digital Indonesia menulis: "Salah satu tantangan terbesar Indonesia adalah memastikan bahwa internet tak membawa pada masyarakat yang semakin terbelah dan tak-setara, sebab para pengguna di kawasan urban, dengan akses lebih baik ke internet berkecepatan tinggi, lebih cepat beradaptasi dengan dunia digital daripada sesama warga negara mereka di kawasan pinggiran" (2017: 2).

Internet bekerja dengan cara yang tampaknya hanya punya perbedaan tipis dengan pasar bebas: yang lusuh, yang tak bisa bersuara, yang lamban, lebih kerap tergilas daripada tertolong. Sementara pembunuhan seperti itu terus terjadi, berjuta orang lain masih saja menatap layar lekat-lekat: tertawa kecil membaca tulisan jenaka, memberi komentar atau sekadar acungan ibu jari untuk berbagai foto dan video, seraya berburu diskon tiket perjalanan dan hotel. Juga barangkali: apartemen di sebuah kota impian.

Kendati kian jarang terdengar kabar tentangnya, Tarrou dan pembunuhan yang diperanginya masih ada. Dan, kalau sesekali kabar itu muncul, ia segera tertimbun oleh tumpukan aksara, foto dan video tentang diskon, kuliner, hujatan, kebohongan, kejenakaan, atau berita ganjil tentang apartemen buat para wakil rakyat.

"Di dunia ini, kita tak mungkin berbuat atau bergerak tanpa risiko menyebabkan seseorang mati." Kepekaan Jean Tarrou memang berlebihan. Namun perlu.

Y. D. Anugrahbayu peminat filsafat

(mmu/mmu)