DetikNews
Rabu 23 Agustus 2017, 13:32 WIB

Kolom

Nasionalisme Seru-Seruan

Jamil Massa - detikNews
Nasionalisme Seru-Seruan Jamil Massa (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Soal hina terhina di arena olahraga, saya paling ingat Maria Dmitrienko. Pada 22 Maret 2012, ada dua kejadian yang dialami atlet menembak asal Kazakhstan tersebut; satu menyenangkan, dan satu memalukan.

Kejadian menyenangkannya adalah ia keluar sebagai pemenang pertama Kejuaraan Menembak Arab yang kala itu digelar di Kuwait. Ia berhak naik ke atas undakan tertinggi di podium, dikalungi medali emas, dan melihat bendera negaranya dikerek naik diiringi Meniñ Qazaqstanım, lagu kebangsaan negaranya. Tepat di saat itulah kejadian memalukan tersebut terjadi; benderanya benar, lagunya keliru.

Panitia yang cuma mengunduh lagu kebangsaan para peserta kejuaraan dari internet tak lagi memeriksa apakah kata kunci "The National Anthem of Kazakhstan" yang mereka ketikkan di mesin pencari benar-benar mengarahkan mereka ke lagu yang benar. Lagu kebangsaan resmi, bukan lagu kebangsaan olok-olok ciptaan komedian Sacha Baron Cohen untuk film Borat.

Nyatanya, lagu terakhir itulah yang bergegap gempita di sesi pengerekan bendera. Dmitrienko tetap meletakkan tangannya di dada dengan tampang datar, sementara lagu itu bergema, dengan lirik yang menjelaskan kolam renang Tinshein berukuran 30 x 6 meter, yang memiliki sistem filtrasi mengagumkan —dapat menyingkirkan 80 persen buangan padat manusia.

Ia tetap tak memperlihatkan ekspresi apapun saat lagu itu menyebut orang Kazakhstan adalah kawan bagi semua bangsa, kecuali bangsa Uzbekistan yang gemar mencari tahu urusan orang dan berotak tulang. Ia terlihat begitu tabah mendengar lagu itu menyebut orang Kazakhstan adalah para industrialis maju, penemu permen toffee dan sabuk celana, serta rumah bagi para pelacur paling bersih di seluruh kawasan.

Sontak setelah insiden hina itu berakhir, para ofisial Kazakhstan melancarkan protes kepada panitia. Mereka menuntut permintaan maaf secara resmi dan upacara pengibaran bendera diulang dengan lagu yang benar. Dmitrienko sendiri santai-santai saja. Setelah itu ia bahkan tersenyum sumringah di hadapan kamera sembari berfoto bersama pemenang lainnya.

Seorang pejabat tinggi Kuwait meminta maaf atas insiden itu. Sedangkan untuk tuntutan pengibaran bendera ulang tidak dipenuhi. Namun toh, masalah itu selesai juga. Kedua pihak bisa saling memaklumi dan melanjutkan hidup sebagaimana biasa.

Kita memang tidak bisa menyamakan hubungan Kazakhstan-Kuwait dengan hubungan Indonesia-Malaysia. Peristiwa terbaliknya bendera merah putih jadi putih merah dalam buklet Sea Games 2017 di Malaysia kemarin, oleh beberapa orang, sulit diinterpretasikan sebagai human error semata. Ada sentimen politik tertentu yang melingkupi dan memanas-manasinya. Mulai dari masalah buruh migran, asap kebakaran hutan, klaim tradisi dan budaya sampai konflik teritori dan batas wilayah menjadi bumbu ketegangan kedua negara. Marahnya masyarakat Indonesia atas peristiwa terbaliknya bendera ini adalah sesuatu yang mungkin bisa dipahami.

Hanya saja, yang harus diperhatikan adalah berbagai respons liar di luar tindakan resmi pemerintah. Protes yang dilayangkan pemerintah sebetulnya sudah cukup. Aksi-aksi dan ajakan ganyang yang sarat sentimen primordial hanya akan memperkeruh suasana. Sebuah perang pecah hanya gara-gara selembar buklet kedengarannya konyol sekali.

Bentrokan Simbol

Simbol nasional seperti bendera dan lagu kebangsaan memang memegang posisi sentral pada sebuah negara bangsa. Setidaknya begitu yang ditulis Markus Kemmelmeier dan David G. Winter dalam jurnal Political Psychology Vol. 29, No. 6 (Desember 2008). Simbol-simbol tersebut merepresentasikan sejarah dan pencapaian-pencapaian kolektif bangsa yang bersangkutan serta dapat dipergunakan sebagai kekuatan dan faktor pemersatu saat menghadapi bencana atau musuh dari luar.

Kerap posisi simbol nasional didudukkan sama sakral dengan simbol-simbol identitas lain seperti kesukuan, kemanusiaan dan agama. George Orwell dalam esainya The Lion and the Unicorn: Socialism and the English Genius bahkan mengumpamakan nilai-nilai Kristianitas (agama) dan Sosialisme Internasional sebagai jerami rapuh di hadapan nasionalisme. Menurutnya, Hitler dan Mussolini mampu mengembangkan kekuasaan karena mereka memahami kekuatan sentimen kebangsaan, sementara lawan-lawan mereka tidak.

Karena kedudukan yang terlihat sama itu, bentrokan antarsimbol sering terjadi dalam sebuah negara bangsa. Sebagaimana belakangan ini kita melihat simbol-simbol nasional bentrok dengan simbol-simbol agama di sekitar kita. Ada sekolah-sekolah yang menolak menghormat bendera karena khawatir terjatuh dalam perilaku menduakan Tuhan. Bahkan ada yang sampai membakar bendera. Ada pihak yang mengaku lebih nasionalis, sementara pihak lain lebih senang menyebut diri sebagai pembela agama. Ada akun Facebook yang memajang foto profil Garuda Pancasila dan bendera Merah Putih, ada pula akun yang memajang foto Habib Rizieq atau bendera HTI.

Tapi, pertanyaan besarnya, apa sebetulnya nasionalisme Indonesia itu di hari-hari belakangan ini? Apakah semata slogan dan simbol? Jika di masa pergerakan kemerdekaan dulu, nasionalisme adalah sebuah seruan, maka di zaman milenial ini nasionalisme adalah seru-seruan. Tren yang harus diikuti biar terlihat seru dan banyak piknik. Nasionalisme yang misalnya ditampakkan dengan mengenakan kaus bertulis "Damn! I Love Indonesia", atau meramaikan tagar #AkuIndonesiaAkuPancasila.

Nasionalisme seru-seruan adalah nasionalisme yang haus pengakuan. Tak heran jika kita menjumpai seseorang spontan mengetikkan "i'm proud to be Indonesian" di kolom komentar saat melihat orang bule bernama Kvitland menyanyi Nasi Padang di Youtube, atau ketika DJ Snake bercuit "Om Telolet Om" di Twitter, atau tatkala 9Gag membahas iklan Indoeskrim di Instagram.

Celakanya, hasrat untuk diakui tidak dibarengi oleh sikap menghargai, dalam hal ini menghargai negara lain dalam konteks pergaulan antarbangsa. Jika tak percaya, datanglah ke stadion saat timnas sepak bola kita hendak menjamu timnas negara lain. Jika tak sanggup beli tiket, tonton saja di televisi dan dengarkan apa yang terjadi beberapa menit sebelum wasit melempar koin. Tak peduli siapapun lawan, tak peduli apakah pertandingan itu sebuah bagian turnamen atau persahabatan, stadion bergemuruh dengan koor "huuuuuu" yang panjang saat lagu kebangsaan negara lawan diperdengarkan.

Bukan hanya di sepakbola, di bulutangkis kedangkalan semacam itu pun ada. Mungkin kita masih ingat pada apa yang dialami pebulutangkis Denmark, Mathias Boe Rasmussen di Turnamen Indonesia Open 2017. Rasmussen di-bully di akun Instagram-nya karena goyang pinggulnya dianggap melecehkan penonton. Rasmussen sendiri mengatakan itu adalah ungkapan sukacita setelah ia bersama rekannya, Carsten Morgensen mengalahkan pasangan tuan rumah, Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto di semifinal ganda putera.

Saat konferensi pers Rasmussen mempertanyakan sikap penonton setempat yang menerapkan sebuah standar ganda. Ketika tengah bermain, ia membiarkan penonton mengejeknya, rekannya dan negaranya. Nyanyian "Go home Denmark go home" memang terdengar dari tribun penonton. Orang-orang Indonesia menggunakan bahasa Inggris untuk mengusir tamu dari Denmark, hanya karena tamu tersebut bermain lebih baik di atas lapangan. Sejak kapan kita punya watak semacam ini?

Nasionalisme seru-seruan adalah nasionalisme yang senang membungkam mulut orang lain dan di saat bersamaan memelihara penyakit malas memeriksa fakta. Lihatlah bagaimana reaksi kebanyakan warganet saat melihat Nara Masista Rakhmatia berpidato dalam sebuah sesi Konferensi Tingkat Tinggi PBB. Banyak yang memuji Nara sebagai diplomat muda yang berhasil "membungkam" enam pemimpin negara Oseania. Banyak yang bersorak, tapi enggan memeriksa kembali pernyataan-pernyataan Nara tentang tiadanya pelanggaran HAM di Papua.

Bagaimanapun, nasionalisme adalah kata lain dari cinta tanah Air. Dan, yang namanya cinta pasti membutakan. Jika soalnya adalah dengan bangsa lain, maka bangsa sendiri seolah tak pernah salah. Mengkritik bangsa sendiri adalah tindakan pengkhianat; siapa pun orangnya pasti langsung dihukumi haram tinggal dan mencari makan di negeri ini. Padahal kritik adalah sebuah keniscayaan di sebuah negara demokratis. Dan, nasionalisme antikritik semacam itu adalah jalur paling gampang untuk membuat kita terpeleset dalam sikap tidak adil.

Jamil Massa menulis puisi, cerpen, dan esai. Memiliki minat terhadap kajian-kajian kebudayaan, sastra, film, dan media massa. Tinggal di Gorontalo dan sehari-hari mengelola blog jamilmassa.wordpress.com


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed