DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 18 Agustus 2017, 15:04 WIB

Kolom Kalis

Kembali ke Tanah Air

Kalis Mardiasih - detikNews
Kembali ke Tanah Air Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom)
Jakarta - Tak terdengar sirine penanda pembacaan teks Proklamasi di Pantai Kuta. Barangkali, suara sakral itu kalah dengan debur ombak serta lalu lalang turis asing yang berlainan warna kulit, rambut hingga bahasa. Mereka datang demi laut. Laut yang dulu menjadi jalur bagi bangsa-bangsa asing yang datang bersama panglima pelayaran terbaik untuk mencari rempah-rempah, lalu kebablasan singgah ratusan tahun untuk memonopoli penguasaan berbagai sumber daya alam lewat perbudakan hingga adu domba.

Laut juga membawa ingatan saya kepada cerita Siti, perempuan pantai Gunung Kidul, Yogyakarta. Suami Siti lumpuh akibat badai besar yang sekaligus menghancurkan kapal yang belum lagi tuntas cicilannya hingga laki-laki itu hanya bisa seumur hidup terbaring di tempat tidur, tak lagi bisa melaut.

Tapi, laut pagi itu semarak dengan pemuda lokal instruktur surfing yang bercakap di kursi pantai lalu melaksanakan tugasnya memandu selancar. Sesajen terserak pada hamparan pasir. Anjing-anjing berlari tanpa menyalak. Agak ke tepi, seorang ibu bertopi rajut pantai dengan gaya vintage sedang mengeksploitasi anaknya untuk menjadi model foto baby bikini. Kemerdekaan, hanya kemerdekaan yang memungkinkan situasi bebas, nyaman dan tanpa ketakutan itu.

Apa makna merdeka sebagai bangsa dan sebagai negara? Umbul-umbul dan bendera merah putih bahan plastik terpasang cantik pada tali-tali yang disusun bersama lampu kecil warna-warni. Panggung acara Kuta Sea Sand Land masih berdiri. Senja tenggelam berganti bintang bertaburan di langit gelap. Ragam tarian barong keris dan tari api Bali yang magis adu tampil dengan kreativitas seni para pemuda dan beberapa DJ dan artis ibukota sebagai bintang tamu.

Tenda-tenda bar penjual minuman dan makanan ringan turut memeriahkan malam. Kaki-kaki pengunjung mulai berderap mengikuti alunan musik. Seorang bule asal Inggris mengaku menyukai pantai Lombok dan berseloroh, "I love nasi goreng" ketika dihampiri oleh pembawa acara. Ia rupanya belum mencoba ayam betutu.

Menurut Wayan Swarsa, Bendesa Kuta, acara peringatan Kemerdekaan yang sekaligus berhasrat menarik minat wisatawan ini mengacu pada konsep tri hita kirana. Sea menggambarkan kekuatan bahari Indonesia yang sejak dahulu merupakan kebanggaan Nusantara, sedangkan Sand mewakili keragaman Nusantara, tapi tetap merupakan satu kesatuan Indonesia. Land adalah di mana rakyat Indonesia menjunjung tinggi persatuan, sebagai akar dari bangsa yang menghargai keragaman, dan mencintai Tanah Air Indonesia. Ketiga unsur tersebut disatukan oleh udara, yang merupakan unsur utama dalam kehidupan dan layak diangkat dalam sebuah acara di Pantai Kuta.

Di gugusan pulau yang tak jauh, nun di kawasan konservasi Telok Benoa yang masih gencar dengan isu 'Bali Tolak Reklamasi', sebuah tiang yang mengibarkan bendera terpancang, nampak gagah dari tepi pelabuhan. Tarik menarik konsep kemajuan banyak jadi polemik, seperti sengketa tak berkesudahan tanah-tanah industri di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Kalimantan, dan tentu saja, Papua.

Hari Kemerdekaan itu katanya milik kita, milik rakyat yang suaranya setara dengan suara Tuhan. Vox populi, vox dei. Hari merdeka, nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia. Entah tanah air yang melahirkan bangsa, atau bangsa yang melahirkan tanah air.

Tapi, tanah dan air sejak dulu kala selalu diam sekalipun perutnya dikoyak-koyak. Sekumpulan orang yang merasa memiliki persamaan nasib memerdekakan nasib dari penjajahan manusia lainnya lalu berikrar menjaga baik-baik rumah tempatnya menggantungkan hidup dan membentuk pemerintahan, juga membikin seperangkat kesepakatan yang disebut konstitusi dan hukum formal. Rakyat membangun, rakyat juga melakukan reformasi ketika pemerintahan dianggap kontra-revolusi. Dalam konteks romantik ini, rakyat memuat ameliorasi keheroikan yang dimotori tiap-tiap peristiwa sejarah.

Di lain waktu, rakyat muncul sebagai sumber kekuasaan dan kekuatan ketika panggung politik butuh suara dukungan massal berjumlah besar. Di balik tirai megah pembangunan, rakyat terkadang menjelma massa yang ditindas dengan korupsi, penggusuran paksa dan aneka ragam keculasan. Rakyat muncul sebatas slogan, namun kali ini ia adalah masyarakat umum yang menderita.

Institusi negara seperti DPR yang sedang berpesta dengan berbagai tender dan lebih sibuk menyusun hak angket pelemahan KPK, juga MPR yang sidangnya sempat heboh sebab ditutup doa mantan menteri yang konon redaksinya berbau politis, masih menyematkan kata rakyat untuk melegitimasi kerja-kerja lembaga. Bukankah dulu kolonial pun membentuk stratifikasi sosial atas nama rakyat untuk menjarah dan melukai kemanusiaan? Padahal, seandainya mereka adil dalam membagi pengetahuan dan keuntungan dagang, manusia pra-Indonesia tak segan berkawan.

Satu konteks baru yang muncul dalam dunia pasca internet adalah rakyat yang menjiwai peran sebagai netizen alias warganet. Netizen hadir lewat sebuah migrasi besar-besaran aktivitas manusia dari jagat nyata ke jagat maya. Sebagaimana model kehidupan internet yang dimediasi oleh substitusi teknologi, netizen tidak bersinggungan dengan sifat tanah air sebagai fungsi alam, melainkan ragam kehidupan artifisial saja.

Pada praktiknya, mereka lalu lebih gemar membicarakan cara duduk anak presiden atau bentuk tubuh seorang model. Jarang sekali ada isu kemiskinan atau polemik lingkungan bergema, kecuali yang bersifat infografis. Netizen menggalang solidaritas, tapi agitasi tetap harus sampai oleh para aktivis yang berdiri dan berteriak meminta keadilan di depan istana negara. Netizen, seperti khasnya kelas menengah, lebih sering hadir dalam wajahnya yang berisik dan bahagia.

Begitulah rakyat dalam pergantian perannya. Berjalan di bekas pulau Sunda Kecil masa Indonesia darurat pasca proklamasi ini, adalah memilih untuk merenung-renung, bahwa kemerdekaan sebagai mayoritas yang menemui berbagai kemudahan memang mesti diperkaya dengan tirakat keragaman.

Masyarakat Bali yang beragama Hindu memulai hari dengan doa bersama sesajen bunga untuk dipersembahkan kepada Dewa-Dewi. Mereka memulai hari dengan harap keberuntungan sekaligus hasrat menolak kesialan. Di pura-pura, sesajen untuk Dewa dan roh leluhur telah siap di altar yang tinggi, sedangkan sesajen untuk roh-roh jahat ada di pelataran jendela, pintu, jalan, trotoar dan di mana saja.

Dalam batin, saya terharu dengan spiritualitas mereka yang sampai pula pada kendaraan-kendaraan bermotor yang mereka kendarai. Sesajen yang bernilai materi itu mereka siapkan tiap hari dengan sukacita. Sedangkan saya, terkadang masih silap dalam ibadah saya yang tak butuh modal apapun selain cukup bersujud saja.

Sekali-kali memang perlu merayakan keindonesiaan sebagai minoritas. Tak ada suara azan, tak melihat kubah mesjid, kesulitan memilih makanan, tersesat di desa-desa adat yang asing di Ubud, Uluwatu dan Jimbaran. Sekali-kali perlu memaknai kemerdekaan dalam makna kembali ke tanah air, sebab di hadapan bumi dan lautan, semua manusia dipersatukan oleh sebuah ikatan kebutuhan akan rasa nyaman yang tak seharusnya tercerai berai kembali.

Sebab, sejak dulu hingga kini, musuh kemerdekaan hanyalah keculasan dan keserakahan. Dirgahayu, Republikku!

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed