DetikNews
Jumat 18 Agustus 2017, 13:18 WIB

Kolom

Kota, Ketinggian, Kenikmatan

Udji Kayang Aditya Supriyanto - detikNews
Kota, Ketinggian, Kenikmatan Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Manusia urban adalah pemburu ketinggian. Kita dapat dengan mudah menjumpai gedung-gedung bertingkat tinggi berdiri gagah di kota-kota hari ini. Sekalipun gedung-gedung tersebut beberapa belum sampai "mencakar" langit, ketinggiannya sudah cukup menentukan gaya hidup seperti apa yang mesti dilakoni masyarakat urban.

Kebanyakan gedung bertingkat tinggi di kota-kota digunakan sebagai tempat hiburan, belanja, hotel dan apartemen. Karenanya, kita bisa menerka-nerka gaya hidup seperti apa yang hendak dimasyarakatkan. Salah satu fasilitas gedung bertingkat tinggi yang jadi penanda gaya hidup baru itu adalah rooftop lounge alias tongkrongan di bubungan atap.

Manusia urban kekinian mulai lazim menghabiskan senja dengan mengobrol atau sekadar duduk santai di rooftop lounge gedung bertingkat. Dari ketinggian itu, kita bisa menikmati suasana senja di tengah semilir angin sejuk, dan akan lebih nikmat lagi kalau ditemani secangkir kopi. Rooftop lounge dipandang cocok sebagai tempat pelarian manusia urban, untuk sejenak meninggalkan hiruk-pikuk kota, melepas segala beban pekerjaan. Karenanya, wajar saja kalau pengunjung rooftop lounge kebanyakan eksekutif muda.

Bagi kalangan menengah ke bawah, secara ekonomis, rooftop lounge barangkali bukan tempat yang ramah. Harga makanan-minumannya saja di atas kisaran Rp 50.000, itu pun menu western, yang belum tentu cocok dengan lidah Indonesia. Senja mereka lebih sering dihabiskan dengan cara duduk-duduk di emperan rumah, atau di buk-buk pinggir jalan, khas kampung. Angin sejuk tidak hadir bersama iringan musik, kopi berkelas dan hidangan western.

Di kampung, sajiannya sekadar siomay, bakwan Malang, wedang ronde, dan lain-lain, tergantung apa yang lewat. Ketinggian hanya mereka alami ketika sedang membetulkan atap, bukannya bersantap. Dengan kata lain, rooftop lounge hadir sebagai penanda kelas sosial di perkotaan.

Gedung

Dalam film-film Barat, "ketinggian" tak melulu ihwal kelas sosial, tapi dimaknai lebih mendalam. Misal, dalam film superhero garapan DC Comics, Watchmen (2009), gedung tinggi dianggap sebagai tempat yang lebih aman dan nyaman. Sebab, jalanan, lorong, dan gang sempit di kota rawan berbagai tindak kriminalitas.

Salah satu adegan dalam film itu menampilkan permenungan Rorschach di ketinggian, "di bawahku, kota yang malang, berteriak bagai rumah pembantaian." Rasionalitas inilah yang membuat Christopher Nolan memilih apartemen sebagai tempat tinggal Bruce Wayne dalam The Dark Knight (2008), setelah pada film sebelumnya rumah Bruce di tepian kota dibakar habis Ra's Al-Ghul. Dasar orang kaya, rumah dibakar pun gampang cari gantinya.

Film Genius (2016) menampilkan ikatan batiniah Thomas Wolfe dengan rooftop. Setelah karyanya, Of Time and the River (1935) terbit dan laku keras, Tom (panggilan Thomas Wolfe) mengajak Max Perkins berkunjung ke apartemen lamanya. Dari kamar sempit di apartemen itulah karya pertama Tom, Look Homeward, Angel (1929) ditulis. Beranjak dari kamar lamanya, Tom mengajak sang editor jenius ke rooftop.

"Aku selalu datang ke sini setiap senja, melihat kota, lalu memimpikan seperti apa hidupku nanti, hingga bintang-bintang bersinar. Bintang-bintang di langit. Cahaya di gedung-gedung. Semua cahaya itu, segala kekuatan hidup." Ketinggian memberi Tom inspirasi menulis novel puitis.

Film yang menjadi jawara Academy Awards 2015, Birdman (2015) menyajikan pemaknaan lain tentang rooftop dan ketinggian. Dikisahkan dalam suatu adegan, Mike memergoki Sam (putri Riggan) sedang "bertengger" di rooftop. "Apa yang kau lakukan di sini?" Mike mengira Sam bakal terjun dari ketinggian. Sam menjawab, "Adrenalin. Aku baru saja keluar dari rehabilitasi. Jadi, hal inilah yang paling mirip dengan narkoba."

Bagi Sam, nongkrong di rooftop menjadi pengganti narkoba. Toh, rooftop dan narkoba sama-sama berkaitan dengan ketinggian. Kita bisa mengingat syair lagu I Miss U But I Hate U (2002) bikinan Slank: waktu aku lagi tinggi/ hilang akal sehatku/ tapi masih ingat/ kamu. Belum jelas betul apakah "tinggi" dalam lagu Slank dipicu oleh narkoba, ciu, atau lem. Namun, kalangan pecandu memang lazim menggunakan istilah "tinggi" dalam mendefinisikan puncak kenikmatan narkoba, selain nge-fly.

Lagi pula, personel Slank juga pernah punya pengalaman pakai narkoba, sehingga kita sah-sah saja mengambil kesimpulan tersebut. Ketinggian dapat membawa kita pada kenikmatan.

Gunung

Sebelum kehadiran rooftop lounge di kota-kota, kita bukannya belum memburu ketinggian. Bahkan, dulu manusia urban nekat pergi ke luar kota demi perburuan itu. Bukan di gedung, namun ke gunung. Mahasiswa, sebagai bagian dari manusia urban, merupakan salah satu kalangan yang gemar memburu ketinggian di gunung.

Beberapa mahasiswa memang punya gairah mendaki gunung dan mengikuti unit kegiatan pecinta alam di kampusnya. Beberapa yang lain menganggap pendakian gunung bermuatan aktivisme. Pasalnya, Soe Hok Gie sang nabi sejuta mahasiswa, terbukti gemar mendaki gunung. Sebagaimana kita ketahui, Gie pun akhirnya meninggal dalam pendakian, di ketinggian. Mendaki gunung adalah cara mahasiswa meneladani Gie? Entahlah.

Kegemaran mahasiswa, bahkan pemuda urban pada umumnya, pada pendakian semakin menjadi-jadi dengan dirilisnya film 5 cm (2012). Film yang dibintangi Raline Shah, Herjunot Ali, Pevita Pearce, Fedi Nuril dan Denny Sumargo itu berkisah tentang pendakian lima sekawan di Gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa. Film 5 cm sukses menyabet penghargaan di Festival Film Bandung 2013, meski setelah itu malah dicibir habis-habisan.

Film yang diadaptasi dari novel karya Donny Dhirgantoro itu dianggap biang kerusakan lingkungan dan masalah sampah di Gunung Semeru. Setelah film 5 cm beredar, pendaki Gunung Semeru semakin bertambah, sayang tak semuanya paham etika mendaki gunung.

Kita mafhum, modernisasi dapat mengubah apapun. Jika pendaki gunung adalah potret manusia "tinggi" sebelum ini, maka ketinggian bermakna perjuangan, berkotor-kotor, dan berperas keringat. Namun, hari ini menjadi manusia tinggi tak perlu berjuang keras, berkotor-kotor, bahkan bisa tanpa keringat. Kita cukup masuk gedung bertingkat tinggi, diantar lift sampai ketinggian tertentu, kemudian duduk santai di rooftop lounge.

Jika ingin menunaikan gaya hidup manusia urban tersebut, sangat disarankan memakai kemeja lengkap, serta jangan lupa pakai jas. Selain biar terlihat seperti eksekutif muda, jas melindungi kita dari masuk angin di rooftop sana. Mau coba?

Udji Kayang Aditya Supriyanto peminat kajian sosial-budaya dan perkotaan, menulis buku Rerasan Urban (2016)


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed