DetikNews
Selasa 15 Agustus 2017, 13:26 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Media Sosial, Perampas Kemerdekaan

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Media Sosial, Perampas Kemerdekaan Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Ivon/detikcom)
Jakarta - Sahabat saya, seorang sastrawan yang sedang naik daun, mengirim pesan Messenger di tengah malam.

"Sebenarnya, kadang aku ingin juga menuliskan pandangan-pandanganku di status Facebook, seperti yang kalian lakukan." Ia tidak melanjutkan kalimatnya hingga beberapa detik berikutnya. Tercium aroma keraguan, hingga kemudian muncul lanjutannya. "Tapi aku merasa, Facebook tidak pernah menghasilkan dialog apa-apa. Facebook tidak mengubah manusia."

Saya tertegun. Serius amat, sih? Tapi lelaki satu itu memang sejenis manusia yang hobinya merawat skeptisisme dalam nyaris setiap hal, seringkali sampai taraf menyebalkan. Apa yang ia sampaikan barusan itu pun sejujurnya tidak membuat saya heran. Dari situ juga saya yakin bahwa akunnya tidak sedang dibajak orang.

Saya tidak terlalu menanggapi kata-katanya. Namun hingga beberapa waktu kemudian, tiap kali saya menyimak kericuhan-kericuhan dunia maya, selalu teori Mas Sastrawan itu yang muncul di kepala saya.

Media sosial kita memang selalu riuh rendah penuh gairah. Apa pun diperdebatkan. Nongol isu sedikit di tingkat elite, lekas muncul pula pertarungan di level massa. Datang isu panas di tingkat bawah, meledak pula pandangan dari ribuan penonton dan penggembira.

Maka ribut-ribut korupsi e-KTP menghadirkan dua kelompok suporter. Demikian pula kasus patung di kelenteng Tuban. Tak ketinggalan perkara FDS dari Pak Menteri Muhadjir Effendi.

Dengan nyaris selalu munculnya dua kelompok supporter berikut segenap cheerleader-nya, lalu apa yang kita dapatkan?

"Medsos tidak pernah menghasilkan dialog," kata Mas Sastrawan.

"Oh. Apa lantas kau anggap medsos tidak membawa pengaruh ke dunia nyata? Hei, lihat itu, Ahok masuk penjara. Kau pikir itu bukan karena kejayaan medsos? Atau yang paling gampang ya yang itu, patung gede itu akhirnya dibungkus kain putih macam pocong. Menurutmu itu bukan gara-gara medsos?"

"Oh, soal efek ke dunia nyata itu soal lain." Saya mencoba membantunya memberikan jawaban dengan imajinasi saya. "Ini lebih ke perkara bagaimana kita belajar, bagaimana cara kita berpikir, bagaimana cara kita mengakses pengetahuan, bagaimana kita memilih dan memilah apa pun yang kita yakini sebagai kebenaran. Medsos tidak pernah memberikan itu. Ia mungkin bisa membuat kita menang dalam pertarungan. Menjadikan gagasan kita terwujud, sementara ide kelompok di seberang kita langsung tumbang. Tapi di saat yang sama, ia justru membuat kita semakin terperosok dalam ketidaktahuan."

Barangkali dubbing-an jawaban dari saya terlalu absurd. Maafkan saya, Mas Sastrawan. Namun deretan kalimat kegundahan itu bisa langsung kita verifikasi di lapangan. Lihat, kerumunan-kerumunan yang kita temui memang bukan grup-grup diskusi, melainkan lebih cocok disebut sebagai, anu, Klub Masturbasi Pikiran.

Kita cenderung berkumpul hanya bersama orang-orang yang berpendapat sama. Situasi itu membawa kita kepada akses sumber-sumber informasi yang juga sama, sudut pandang yang selalu sama, serta imajinasi-imajinasi yang juga sama.

Kita tidak pernah membaca informasi yang kita butuhkan. Sebab kita hanya mau membaca apa yang kita 'inginkan'. Hasilnya, ketika kita membagi tautan, misalnya, alih-alih membagi kabar yang benar-benar baru, kita bakalan lebih nikmat menyundul-nyundul informasi yang memang sedari awal sudah kita landasi dengan prakonsepsi.

Jadi ini bukan tentang berbagi informasi, melainkan lebih cocok disebut afirmasi. Segalanya adalah suka ria merayakan afirmasi atas pikiran-pikiran dari otak sendiri.

"Kalau mau tulisanmu viral, gampang," seorang penulis berbisik-bisik kepada saya. "Jangan tulis gagasan baru yang kreatif. Tulis saja apa pun yang sekadar bersifat membahasakan suara kumpulan banyak orang. Orang-orang itu punya kemarahan, kegelisahan, tapi mereka tidak mampu mengartikulasikan. Wakili saja mereka dengan tulisanmu, meski sebenarnya kau tak setuju. Niscaya ocehan itu akan mereka sebarkan tanpa ragu-ragu." Hahaha, teori kepenulisan yang kurang ajar sekali. Tapi meski kurang ajar, sayangnya dia benar.

Pendek kata, kita jadi terbiasa memanjakan imajinasi, memilih informasi hanya bila sesuai dengan apa yang ingin kita percayai, lalu menikmati semuanya sebagai kenikmatan diri sendiri. Kebiasaan itu semakin mencengkeram diri kita manakala kita berjumpa dengan pandangan-pandangan lain yang berbeda jauh dengan pandangan kita sendiri. Bukannya mengoreksi, namun yang kita keluarkan justru solusi yang paling sakti mandraguna: Ajian Blokir Pamungkas. Ciaaat!

Jadi tak perlu heran ketika kadangkala terdengar kalimat tegas dan gagah semacam ini: "Pokoknya siapa pun yang tidak mendukung kebijakan Presiden Jokowi akan aku tendang dari friendlist-ku! Aku tak sudi membuang-buang waktu dan tenaga untuk berdebat dengan mereka!"; "Alhamdulillah, peristiwa Kepulauan Seribu sangat berjasa sehingga aku bisa memilah mana saja teman yang layak dipertahankan dan mana yang tidak. Sebab para pembela penista langsung bermunculan, dan tak ada gunanya berteman dengan orang-orang munafik macam mereka!"; dan sebagainya.

Lantas apa hasilnya? Ya jelas saja, lingkar pergaulan semakin menyempit, sudut pandang kian menciut, rekan-rekan dalam bertukar pikiran semakin seragam, dan akhirnya persis seperti yang dibilang Mas Sastrawan: Facebook, atau media sosial pada umumnya, tidak pernah menghasilkan dialog apa-apa. Dialog sih dialog, tapi dialog di antara kumpulan-kumpulan yang seragam rasanya tak akan beda dengan monolog yang dimassalkan. Lantas dari situ, apa yang bisa dilahirkan?

Saya jadi ingat bacaan saya bulan lalu. Dalam buku Geography of Genius, Eric Weiner menukil psikolog Irving Janis. Irving meneliti rapat-rapat yang dipimpin oleh Presiden John F Kennedy, dengan peserta tokoh-tokoh paling cerdas dalam lingkar kekuasaan utama Amerika. Rangkaian panjang diskusi orang-orang hebat itu justru melahirkan salah satu keputusan terbodoh dalam sejarah negara tersebut, yakni invasi ke Teluk Babi, Kuba, pada 1961. Hampir 1.400 orang buangan Kuba yang dilatih oleh CIA tertangkap dan dibunuh. Lah, kenapa hasil pemikiran orang-orang tajir malah justru begitu buruk?

Irving menemukan jawabannya. Menurutnya, kesalahan-kesalahan dalam penilaian terjadi bukan karena kebodohan, melainkan karena karakter manusia. Saat orang-orang dengan latar belakang yang sama berkumpul, tidak mengenal perbedaan pendapat, maka yang ada hanyalah upaya untuk saling menyenangkan satu sama lain. Hasilnya sangat mudah ditebak, yakni konsensus pada langkah-langkah yang disukai bersama, bahkan meski konsensus itu salah sekalipun.

Berkumpulnya orang-orang dengan pemikiran yang sama akan menumpulkan kreativitas, akan melenyapkan peluang munculnya ide-ide jenius dan cemerlang. Pada situasi beginilah harmoni tidak selalu membawa hasil yang gemah ripah.

Untuk terus maju, manusia mutlak membutuhkan kreativitas. Sementara untuk menjadi kreatif, kita perlu memiliki dulu pikiran merdeka. Nah, dengan medsos kita, mungkin kita memang merdeka dalam bersuara. Tapi benarkah dalam berpikir kita juga merdeka? Mari gunakan malam tirakatan besok malam untuk merenungkan semuanya.

Iqbal Aji Daryono praktisi media sosial, sedang berencana menulis buku keduanya


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed