DetikNews
Jumat 11 Agustus 2017, 13:46 WIB

Kolom

Patung, Imajinasi, dan Peradaban

Aris Setiawan - detikNews
Patung, Imajinasi, dan Peradaban Ilustrasi: Luthfi Syahban/detikcom
Jakarta - Polemik tentang patung akhir-akhir ini menyeruak ke permukaan. Hal ini dipicu karena patung raksasa Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen setinggi 30 meter di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur ditutupi kain putih.

Sebelumnya, pada 7 Juli 2017, patung karya I Nyoman Nuarta yang berdiri sejak tahun 1970 di Pangandaran dirobohkan. Bahkan di tahun-tahun sebelumnya, perobohan dan pembongkaran paksa secara masif terjadi di berbagai daerah. Hal itu banyak memantik polemik di masyarakat. Ujung-ujungnya, persoalan religiusitas dihadirkan guna mengukuhkan pembenaran atas berbagai tindakan tersebut.

Padahal jauh dalam narasi jejak kebudayaan kita, patung memberi guratan tentang memori dan imajinasi tentang siapa dan dari mana kita berasal. Patung-patung di candi misalnya, memberi kisah berharga tentang perjalanan dan perjuangan nenek moyang kita.

Patung tidak semata adukan semen atau ukiran batu; ia memberi kita ingatan-ingatan tentang pengalaman dan peristiwa. Pembekuan kisah lewat patung berhasrat keabadian, karena patung adalah batu, sehingga dapat dibaca dan dimaknai sampai berlintas generasi.

Lakon Ekalaya

Pengisahan yang begitu intim antara manusia dan patung dapat kita baca lewat epos Mahabharata, terutama pada lakon Bambang Ekalaya, seorang ksatria pemanah yang ulung.

Bambang Ekalaya berasal dari Kasta Nisada, golongan rendah. Tapi, ia bermimpi menjadi seorang ksatria, pemanah yang sakti. Ia sangat mengidolakan Resi Drona, seorang guru mandraguna yang sedang melatih para pangeran unggul: Pandawa dan Kurawa.

Pagi buta, Ekalaya pergi ke Hastina, berniat menemui Drona dan menyampaikan maksud untuk menjadi murid. Apa mau dikata, kedatangannya justru menjadi bahan tertawaan yang berujung penistaan. Drona dengan congkak menolak, karena menganggap Ekalaya bukan bangsawan-ningrat, bukan pula keturunan ksatria, apalagi pangeran dari sebuah kerajaan besar.

Ekalaya sadar, untuk menjadi murid tidak cukup dengan hanya berbekal tubuh dan pikiran, tapi juga status. Tapi, ia tak berputus asa. Ia kembali sembari tetap memupuk cita-cita menjadi seorang ksatria (pemanah) di kemudian hari.

Ekalaya memilih tinggal di hutan. Perjumpaannya yang singkat dengan Drona begitu membekas di hati. Ia ingat betul detail-detail baju, mata, hidung, mulut bahkan kerutan di wajah Drona. Ekalaya mengambil sebongkah batu. Diukir dan ditatahnya menjadi sebuah patung yang elok. Patung itu berwujud Drona.

Bagi Ekalaya, patung Drona bukan sekadar batu, tapi ia hidup mengisi ruang imajinasi dan mimpi-mimpinya. Patung itu disembah, selayaknya murid memperlakukan guru. Setiap pagi ia mencium tangan sang patung, mengajaknya berbicara dan memberinya sesaji.

Setelahnya, ia kembali mengambil busur dan anak panah. Ia belajar memanah dengan mengkhayalkan bahwa Drona sedang memperhatikan dan memberinya arahan. Jika anak panahnya meleset dari sasaran, Drona marah. Tapi, jika tepat sasaran, ia mendapat pujian dari Drona. Walaupun Drona sejatinya tak pernah ada dan hidup di depannya. Drona membeku dalam ujudnya patung berbatu,

Lambat laun, lewat bimbingan "batu Drona", kemampuan memanah Ekalaya semakin terasah. Bahkan kesaktiannya melebihi pangeran kebanggaan Pandawa, yakni Arjuna.

Suatu ketika, Pandawa dan Kurawa berburu di hutan. Ia menjumpai beberapa anak panah yang melesat secara bersamaan mengenai mulut dan wajah seekor babi. Pandawa dan Kurawa tertegun beberapa saat. Mereka yakin bahwa yang bisa melakukan hal itu hanya Arjuna dan Drona. Tapi, jika bukan keduanya, lalu siapa gerangan kesatria yang sakti mandraguna itu? Dialah Ekalaya, sang ksatria pemanah, murid dari sang patung Drona.

Arjuna bertanya pada Ekalaya, "Siapa gerangan guru hebat yang mengajarimu?" Dengan lantang Ekalaya menjawab, "Siapa lagi kalau bukan Drona." Hati Arjuna sesak dan marah. Ternyata gurunya secara sembunyi-sembunyi punya murid lain yang memiliki kemampuan memanah melebihi dirinya.

Sesampainya di Kerajaan Hastina, Arjuna bergegas menemui Drona. Ia menuduh, marah dan memprotes Drona. Sontak Drona merasa kaget, dan mengajak Arjuna menemui Ekalaya. Saat ketiganya bertemu, Drona melihat patung dirinya. Ia paham bahwa Ekalaya selama ini belajar dari patung. Mereka tak bersentuhan secara fisik namun lewat imajinasi dan mimpi.

Takut jika Ekalaya suatu saat menjadi pesaing berat Arjuna, atas nama guru, Drona meminta Ekalaya memotong jari jempolnya. Permintaan itu disambut dengan gembira oleh Ekalaya. Ia mengambil pisau dan memotong kedua jempolnya. Seketika, Drona tertawa terbahak-bahak hingga sesekali tersedak. Dengan demikian, Ekalaya tak lagi bisa memanah.

Imajinasi

Lewat patung itu, konsep pengembaraan imajinasi dilakukan. Lewat patung gurunya itu, Ekalaya menyepi dalam keheningan, berusaha menemukan puncak kemampuan yang dicita-citakannya yakni ahli memanah. Ia pun berhasil kendati harus berakhir sedih.

Di depan sebuah patung ia berikhtiar tentang mimpi-mimpi. Patung menjelaskan tentang banyak hal. Ia memberi penguatan dan doa-doa tak terucap. Patung memberi wacana dan kontemplasi akan sesuatu, ia menyentuh ruang hampa dan sunyi bagi manusia. Sebagaimana sastrawan yang bergelut dengan sepi untuk melahirkan karya sastra yang bermutu.

Patung hanya adukan semen dan tatahan batu secara fisik, namun gaduh secara wacana dan gagasan. Patung-patung itu dibuat lewat proses dan pengembaraan yang panjang. Tak jarang patung menjadi jembatan untuk menemukan pemuliaan diri, sebagaimana kisah Ekalaya di atas.

Dengan demikian, kisah Ekalaya dan patung adalah sebuah narasi tentang pengorbanan, tanggung jawab dan penghormatan. Tapi hari ini, kita tak lagi dapat memaknai patung secara imanen, sebagai bahasa ungkap tentang berbagai gugusan wacana, gagasan, dan ilmu pengetahuan.

Patung-patung sering kali dianggap tak lebih dari sekadar berhala dengan melekatkan label "haram-halal" tanpa mencoba menelisik cakrawala pemikiran yang berdiam di dalamnya. Kisah Ekalaya dan pembekuan patung-patung di candi menunjukkan bahwa bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghargai masa lalunya, dan patung adalah katalisator akan hal itu.

Jika pun patung tidak menyuarakan apapun, setidaknya ia adalah karya seni, yang dibuat dan digagas dengan laku kreatif yang serius. Ada pengekalan estetika dari ujudnya yang patut untuk dihargai dan diapresiasi.

Aris Setiawan esais, tinggal di Solo


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed