Kolom Kang Hasan

Merdeka Bukan Sekadar Bebas dari Penjajahan Asing

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 07 Agu 2017 10:26 WIB
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Agustus adalah bulan festival. Sejak masuk ke awal bulan ini, seluruh negeri berias mempercantik diri. Berbagai jenis umbul-umbul, gapura, baliho, dan spanduk mengingatkan kita bahwa ini adalah bulan Agustus. Kemudian, kita segera larut dalam berbagai jenis perayaan. Apa yang kita rayakan? Kemerdekaan. Tujuh puluh dua tahun yang lalu kita resmi menyatakan kemerdekaan, membebaskan diri dari penjajah asing. Kita membentuk sebuah negara baru, Republik Indonesia.

Bebas dari penjajahan adalah hal yang sangat penting. Itu adalah penegasan bahwa kita ini manusia, sama seperti bangsa lain. Artinya, kita berhak menentukan nasib kita sendiri. Tak ada manusia lain yang berhak mengatur dan menentukan nasib kita. Kita tak lebih rendah dari bangsa lain. Pada saat yang sama, kita juga tak lebih tinggi. Artinya, kita juga tak boleh mengganggu hak bangsa lain untuk mandiri.

Proklamasi kemerdekaan sebenarnya bukan sekadar penyataan bebas dari penjajahan bangsa lain. Ini adalah pernyataan yang mengakui kemerdekaan setiap individu. Dalam proklamasi kemerdekaan ada pernyataan bahwa kita membentuk suatu negara, di mana setiap warganya akan dilindungi hak-hak asasinya, serta setara kedudukannya dengan siapapun sebagai sesama warga negara.

Pernyataan kemerdekaan juga adalah ikrar bersama untuk berbagi ruang hidup di negeri ini. Kita akan hidup bersama dengan satu identitas, yaitu warga negara Indonesia. Tentu saja setiap individu punya identitas lain terkait suku maupun agama. Tapi, semua itu kita letakkan di bawah ikrar kita untuk berbagi ruang hidup tadi.

Sikap itu didemonstrasikan secara dramatis oleh bapak-bapak kita, pendiri negara ini. Semula mereka hendak mendirikan negara dengan keistimewaan kepada umat Islam, yang dinyatakan dalam naskah Piagam Jakarta, yang akan menjadi naskah pembuka konstitusi kita. Di situ disebutkan soal kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Namun, hal ini menimbulkan keberatan dari pihak-pihak penganut agama lain. Maka pernyataan khusus itu akhirnya dicoret.

Bapak-bapak kita itu sudah mengajarkan bahwa berbagi ruang hidup itu memerlukan pengorbanan. Tidak melulu kelompok kecil atau minoritas yang harus mengalah, demi kepentingan lebih banyak orang. Dalam hal ini, justru yang mayoritas yang mengalah. Sebenarnya ini memang bukan soal kalah menang. Ini soal kesadaran akan hakikat kemerdekaan tadi. Bahwa merdeka artinya kita tidak dikuasai oleh orang lain. Kita, seluruh komponen bangsa ini. Tidak boleh ada pihak mana pun yang menguasai pihak lain. Tegasnya, pihak mayoritas pun tak boleh menguasai minoritas.

Hari-hari ini, setelah 72 tahun kemerdekaan kita dinyatakan, masih saja ada orang yang tidak paham soal ini. Masih banyak orang beranggapan bahwa di negeri ini ada yang harus diistimewakan, karena agama yang dia anut, atau karena sukunya. Masih ada yang mengira bahwa penduduk yang memeluk agama mayoritas berhak mendapat keistimewaan dibanding pemeluk agama lain. Atau, orang-orang yang berasal dari etnis pribumi lebih istimewa dari etnis pendatang.

Pandangan seperti itu masih dianut oleh cukup banyak orang, baik secara diam-diam maupun dinyatakan secara terbuka. Bahkan tidak jarang dinyatakan dalam forum-forum resmi, sebagai kehendak kolektif, diklaim mewakili sangat banyak orang. Pandangan itu menjadi bahan bakar berbagai konflik horizontal yang berlangsung sepanjang sejarah 72 tahun kemerdekaan kita.

Artinya, setelah 72 tahun medeka, masih saja ada orang yang gagal memahami makna kemerdekaan yang paling fundamental. Kemerdekaan hanya dipahami sebagai ujung dari proses heroik, memanggul senjata, berperang, mengusir orang-orang asing yang bercokol menguasai tanah kita. Maka festival perayaan kemerdekaan sering hadir dalam tema-tema heroik tadi.

Tantangan kita kini bukan lagi datang dari pihak-pihak asing yang hendak merampas tanah kita. Perampas kemerdekaan boleh jadi adalah kita sendiri. Bila kita gagal menghayati makna kemerdekaan yang paling hakiki, maka kita akan dengan mudah tergelincir jadi "penjajah" di negeri sendiri. Kita merampas hak orang untuk beragama dan beribadah sesuai keyakinan mereka. Kita menghalangi umat lain yang hendak mendirikan rumah ibadah. Atau, ibadah kita berlangsung sewenang-wenang, merampas hak-hak hidup orang lain.

Kita juga bisa tergelincir jadi perampas hak-hak politik orang-orang dari etnis minoritas. Demokrasi kita plesetkan menjadi hegemoni mayoritas. Semua kekuasaan politik hanya boleh dipegang oleh orang-orang dari kelompok mayoritas.

Di tengah keriuhan perayaan kemerdekaan, sangat penting bagi kita sekarang untuk mengingat kembali makna kemerdekaan yang paling hakiki tadi. Penting pula bagi kita untuk memperbaharui komitmen kita sebagai warga negara. Merdeka itu artinya kita bebas dari kekuasaan pihak lain. Merdeka itu juga bermakna bahwa kita bebas dari keinginan menguasai pihak lain.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
(mmu/mmu)