Kolom

Dana Haji, SNSD, dan Ilmu Logika

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Jumat, 04 Agu 2017 13:30 WIB
Rakhmad Hidayatulloh Permana (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Negeri ini tak pernah kehabisan stok isu hangat yang selalu asyik untuk jadi bahan debat dan kelahi. Setiap kali menyimak layar gawai, selalu ada saja pranala berita yang begitu menggoda untuk dikunjungi. Maka, tidak bisa tidak, saya pun ikut tergoda untuk mengintip berita itu.

Walhasil, saya ikut terseret dalam arus perdebatan dalam isu-isu tersebut. Saya bahkan sering mengutarakan pendapat terhadap isu tertentu melalui akun media sosial. Saya menjelma sebagai pengamat dadakan. Padahal, pengetahuan saya sangat dangkal. Maka setelahnya saya langsung menginsyafi perbuatan yang jatuhnya sering nir-faedah itu.

Saya akhirnya berusaha mengambil jarak dan memilih duduk manis menjadi penonton saja. Menyimak para warganet beradu pendapat —atau pada derajat lain bisa berperang. Posisi ini membuat saya bisa melihat benang masalah dengan jelas dan terukur. Kemudian, membuat titik pijak untuk membuat kesimpulan. Misalnya, dalam pro-kontra isu soal dana haji untuk investasi, dan isu kedatangan girlband Korea SNSD ke Indonesia.

Isu pertama soal dana haji untuk investasi begitu menarik untuk disimak. Karena kebijakan apapun yang menyangkut hajat umat, memang sepatutnya dipantau dengan baik. Rencananya, pemerintah Jokowi akan menggunakan dana haji berjumlah triliunan rupiah itu untuk investasi infrastruktur. Silang pendapat langsung muncul.

Ada yang berpendapat bahwa dana haji adalah dana suci, yang tak boleh digunakan untuk kepentingan profan seperti membangun infrastruktur. Lantas, yang lain membalas dengan menyodorkan data; platform model investasi dengan dana haji ini juga dilakukan oleh presiden di era sebelumnya. Dana haji tersebut dimasukkan dalam instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Negara tetangga seperti Malaysia pun juga melakukan hal yang sama. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyetujui maksud pemerintah itu dengan pakem aturan fatwa yang sudah dibuat.

Sedangkan isu kedua adalah soal rencana kedatangan SNSD pada perayaan 17 Agustus nanti. Isu ini tak kalah menarik, karena yang terjadi bukan hanya pro-kontra, tapi juga caci maki yang seru. Ada sekelompok orang yang dengan sigap membuat pendapat bahwa girlband K-Pop itu sama sekali tak mencerminkan watak bangsa kita.

Dan, yang paling menyebalkan, ada orang —konon seorang psikolog— yang gegabah melabeli SNSD sebagai "simbol seks". Sungguh, syak wasangka yang kelewat berani menurut saya. Sontak, para penggemar berat SNSD pun langsung mencak-mencak. Mereka marah dengan klaim tak berdasar orang-orang yang tak setuju dengan kehadiran SNSD itu.

Keriuhan baru mereda setelah Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf membuat klarifikasi. SNSD datang ke Indonesia ternyata bukan untuk peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-72, tapi untuk acara countdown ASEAN Games 2018.

Saya hanya bisa mengelus dada melihat orang yang mudah gegabah dan gagal paham. Mereka begitu mudah menghakimi sesuatu dengan perasaan, tanpa pertimbangan yang matang. Perkakas ilmu logika tak pernah digunakan. Padahal kita tahu, isi kepala bukanlah barang rombeng belaka.

Ilmu Logika

Saya mendengar istilah logika untuk pertama kalinya ketika masih duduk di bangku SMP. Ketika itu kata 'logika' sering sekali disebut oleh guru Fisika saya. Ia selalu memperingatkan para muridnya agar selalu menggunakan logika jika ingin memahami fenomena fisika. Tapi tentu saja pengetahuan saya tentang logika jelas masih nihil.

Setelah duduk di bangku SMA, barulah saya mendapatkan pelajaran ilmu logika. Dan, ilmu itu saya dapatkan dalam salah satu bab pelajaran matematika. Artinya, logika adalah ilmu pasti. Ilmu logika mengajarkan hukum-hukum yang berlaku dalam hubungan antarpremis. Premis ini biasanya dihubungankan oleh 'jika' dan 'maka' lalu membentuk sebuah pernyataan.

Saya baru mempelajari ilmu logika secara utuh ketika menjelang lulus kuliah. Tepatnya, tanpa sengaja direkomendasikan oleh kawan untuk membaca buku pengantar ilmu logika berjudul Logika Selayang Pandang karya Alex Lanur.

Buku itu tipis, tapi kandungannya tak setipis jumlah halamannya. Ilmu logika dipaparkan dengan cukup jelas dalam buku itu. Saya banyak belajar memahami beberapa hukum logika dan belajar mengujinya dengan membuat premis-premis. Ilmu logika mengajarkan saya cara berpikir runut, lurus, dan tertib.

Maka, perlahan saya dengan mudah membedakan pernyataan masuk akal dengan penyataan yang tidak masuk akal. Secara sederhana, ilmu logika adalah ilmu tentang sistematika berpikir benar. Ilmu logika menyelamatkan pikiran dari kesesatan berpikir, yang sering membenturkan kita pada hal-hal yang tak masuk akal.

Materi tentang logika sering pula dijadikan sebagai alat ukur dalam tes tertentu. Misalnya dalam tes potensi akademik masuk perguruan tinggi negeri dan tes CPNS. Maka, sungguh saya sangat bersedih bila melihat seorang lulusan perguruan tinggi negeri atau pegawai negeri sipil, tapi begitu sembrono dalam membuat klaim.

Dalam ilmu logika, ada istilah untuk kesalahan berpikir yang disebut sebagai kesesatan berpikir (logical fallacy). Ada banyak kesesatan berpikir yang sering dilakukan kebanyakan orang. Salah satu kesesatan berpikir yang paling diidap oleh kebanyakan orang --khususnya orang Indonesia-- adalah argumentum ad hominem, atau lebih dikenal dengan istilah ad hominem.

Ad hominem adalah kecenderungan menyerang pribadi seseorang karena sisi negatifnya atau faktor lain dan mengabaikan pendapat atau karya mereka. Sebagai contoh, Ali Syariati adalah intelektual Islam yang beraliran syi'ah sehingga semua pemikirannya sudah jelas sesat. Presiden Jokowi adalah contoh yang bagus sebagai 'korban' ad hominem.

Pembenci dan Pecinta

Sejak Pilpres 2014 ada sebuah garis yang membedakan antara pembenci dan pecinta Jokowi. Sekarang, garis pembeda tegas antara pembenci dan pecinta Presiden Jokowi masih belum juga pudar. Bahkan, makin ke sini garis itu makin kentara.

Para pembenci masih istiqomah menyerang pemerintahan dengan caci maki tanpa argumen yang kokoh. Sedangkan para pecinta begitu giat membela pemerintah dan abai dengan beberapa kebijakan yang perlu dikritisi.

Ad hominem para pembenci dan pecinta justru akan membuat proses pemerintah jadi tak seimbang. Semuanya terasa berat sebelah. Proses demokrasi yang seharusnya menjadi pemantik solusi, justru jadi panggung untuk saling bertengkar. Akhirnya, kita hanya terkungkung dalam dua kutub itu.

Para pembenci Jokowi selalu menolak apapun kebijakan pemerintah dengan mentah-mentah. Meskipun, kebijakan itu mengandung banyak faedah. Bahkan, mereka sering membuat kesalahan yang mengada-ada. Sampai ada ujaran, "apapun masalahnya, Jokowi adalah biang keladinya."

Sedangkan para pecinta Jokowi, tentu saja sebaliknya. Mereka selalu menganggap Presiden sebagai idola yang tak boleh dikritisi. Golongan kedua ini menjadi orang yang kebal fakta meski disodori dengan data empiris tentang masalah-masalah kebijakan pemerintah.

Padahal, posisi kedua kutub golongan itu sama-sama tak pas. Kebencian buta sama seperti cinta buta, sama-sama mengabaikan logika. Kebencian buta dan kecintaan buta telah membuat para pengidapnya menutup ruang dialog yang sehat.

Maka, sebaiknya jadilah oposan yang baik. Oposan dengan nalar kritik yang matang. Bukan oposan dengan hati mendidih karena kobaran kebencian. Dan, bila Anda seorang partisan, jadilah partisan yang sudi selalu mengingatkan —bukan kebal fakta karena cinta.

Saya pun begitu, selalu berusaha untuk jadi warga negara yang baik. Warga negara yang menghormati simbol negara (baca: presiden dan segenap aparaturnya), tapi juga tetap memelihara sikap kritis pada negara. Saya tak mau hak saya sebagai warga negara dicurangi. Karena saya juga pembayar pajak, bukan free rider.

Sampai detik ini, saya juga masih belajar; mempelajari ilmu logika dan berlatih memahami sebuah masalah, agar tak mudah terjebak kesesatan berpikir. Karena akibatnya sungguh fatal. Kita akan dengan mudah membuat klaim tak berdasar, yang sangat mungkin berujung pada fitnah. Fitnah yang tentu saja bisa membahayakan nama baik orang lain.

Agaknya, Anda juga perlu mempelajari dasar-dasar ilmu logika. Belilah buku pengantar logika karya Alex Lanur atau buku pengantar logika karya penulis lainnya, jika ada uang lebih. Bila Anda malas ke toko buku dan sedang bokek, Anda bisa mencari tulisan tentang ilmu logika dan daftar kesesatan berpikir di internet. Murah sekali, dan bahkan gratis.

Ilmu logika itu penting, jauh lebih berfaedah ketimbang kuota internet yang terus Anda habiskan hanya untuk mencari lawan bertengkar. Hidup ini terlalu singkat untuk hal-hal yang sia-sia.

Rakhmad Hidayatulloh Permana tinggal di Subang. Kegiatan sehari-harinya bermain dengan ikan-ikan air tawar
(mmu/mmu)