DetikNews
Kamis 03 Agustus 2017, 14:10 WIB

Kolom

Petani dalam Ekosistem Beras

Arif Budimanta - detikNews
Petani dalam Ekosistem Beras Foto: Wisma Putra
Jakarta - Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2015 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2015, setiap orang di Indonesia mengonsumsi beras sebanyak 85 kilogram per tahun.

Membicarakan tentang beras merujuk pada sebuah ekosistem yang di dalamnya ada petani, pengepul, distribusi, penjual, sampai akhirnya konsumen dengan fungsinya masing-masing. Tulisan ini berfokus pada petani dalam ekosistem beras.

Bisnis beras mulai marak pasca ditandatanganinya Letter of Intent (LoI) antara pemerintah Indonesia dengan Dana Moneter Internasional (IMF) pada 1998 hingga kuartal dua tahun 2016. Pada masa tersebut, bisnis beras berada pada era yang sangat bebas, peran dari Bulog sebagai pemain 'tunggal' di pasar besar mengecil.

Setelah kesepakatan dengan IMF ditandatangani 15 Januari 1998, pada tahun yang sama keluar Keputusan Presiden. Sejumlah peran penting Bulog) dihapus.

Bulog tidak lagi menjadi "kepanjangan tangan" pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan perdagangan beras di tingkat konsumen akhir. Setelah 1998, pada beras, peran Bulog hanya menjaga harga dasar pembelian pemerintah di tingkat petani.

Sejak LoI dengan IMF disepakati, pergerakan harga beras terus naik, bahkan melampaui kenaikan harga internasional. Berdasarkan data BPS, kenaikan harga beras di pasar dalam negeri sejak Januari 1998 ke akhir Desember 2016 mencapai 700 persen (point to point), sementara di pasar internasional hanya naik 59 persen. Ada disparitas yang sangat besar.

Disparitas harga yang lebar tersebut salah satunya disebabkan oleh rantai distribusi pemasaran yang cenderung panjang. Sehingga menyebabkan kenaikan harga di tingkat konsumen.

Pemerintah tampaknya mencoba merevisi kondisi pasar tersebut dengan mengeluarkan kebijakan harga acuan sejak 2016. Harga acuan dimaksud adalah patokan harga penjualan di tingkat petani dan harga eceran tertinggi di tingkat konsumen melalui Peraturan Menteri Perdagangan. Dengan harapan, pergerakan harga di tingkat konsumen stabil, mengingat beras merupakan komoditas utama.

Pham Thi Huong Din (2014) mengatakan, kebijakan harga acuan diaplikasikan oleh pemerintah jika ditemukan harga pasar yang tidak wajar di tingkat pembeli ataupun di tingkat penjual. Dalam konteks perberasan maka kebijakan harga acuan juga harus menjamin kelangsungan pelaku industri perberasan dari mulai hulu sampai hilir, dari petani, pedagang sampai konsumen.

Namun, yang tak kalah pentingnya dalam ekosistem beras ini adalah memberikan perlindungan yang selayaknya kepada para petani. Data BPS menyebutkan, per Februari 2017, sektor pertanian merupakan sumber utama pendapatan bagi sekitar 40 juta orang Indonesia.

Selain itu, wilayah perdesaan yang sebagian besar penduduknya bertani masih merupakan kantong kemiskinan di Indonesia. Untuk itulah, penting bagi pemerintah untuk mengatasi masalah perberasan ini, karena dapat berimplikasi pada pengentasan kemiskinan.

Terkait dengan ekosistem beras, ada anomali pada harga. Di saat harga di tingkat petani turun, secara musiman terjadi pada Maret saat panen raya, namun di tingkat eceran justru terus mengalami kenaikan.

Tak heran seandainya laju kenaikan harga beras di tingkat eceran jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan harga di petani dalam bentuk gabah kering giling maupun kering panen. Dari dua data yang dikutip, BPS dan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, persentase pertumbuhan harga beras periode Januari 2007-Januari 2016 mencapai 124,2 persen (point to point). Sedangkan harga gabah kering giling dan kering panen masing-masing sebesar 99,6 persen dan 99,2 persen.

Data ini bermakna bahwa kenaikan harga beras yang dibeli oleh konsumen tidak dinikmati oleh petani. Boleh jadi, kondisi ini yang ikut menjadikan wilayah perdesaan yang sebagian besar penduduknya bertani senantiasa menjadi kantong kemiskinan.

Pada Maret 2017 misalnya, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,77 juta orang. Sebagian besar atau sekitar 61,6 persen orang miskin tersebut berada di wilayah perdesaan.

Di tengah situasi yang cenderung tak berubah sejak lama itu, pendapatan petani juga tidak beranjak naik. Bahkan sejak April 2016, usaha budi daya tanaman padi tidak memberikan manfaat ekonomi bagi rumah tangga petani. Pendapatan yang mereka terima lebih rendah dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk produksi.

Hal ini diindikasikan melalui data BPS yang per April 2017 menyebutkan bahwa indeks yang diterima petani sebesar 127,96, sementara indeks yang dibayar petani 131,37. Dengan demikian, tingkat penerimaan petani dari hasil produksinya lebih rendah dibandingkan dengan harga produksinya, yang didorong oleh peningkatan biaya bahan makanan, makanan jadi, serta upah buruh tani.

Kondisi seperti itu seperti membiarkan petani berada di lingkaran kemiskinan, yang oleh Ozay Mehmet dalam Westernizing the Third World: The Eurocentricity of Economic Development Theories (1997) disebut sebagai jebakan ekonomi pendapatan rendah. Pendapatan yang rendah akan mengakibatkan rendahnya tabungan, sehingga menyebabkan akumulasi modal tidak maksimal. Kondisi ini membuat tingkat produktivitas rendah, sehingga melahirkan pendapatan yang rendah pula. Lingkaran tersebut berputar terus ke kondisi tabungan yang minim.

Lingkaran kemiskinan yang dipicu oleh rendahnya pendapatan tidak akan terputus, sehingga oleh Karl Gunnar Myrdal diistilahkan sebagai lingkaran setan kemiskinan atau "the vicious circle of poverty". Dengan demikian, diperlukan kebijakan pemerintah yang mendukung peningkatan pendapatan petani, khususnya petani padi yang selama ini tidak menikmati "kelezatan" harga produk yang dihasilkannya di tingkat konsumen akhir.

Hasil analisis yang dilakukan oleh penulis dan tim menunjukkan bahwa dengan asumsi harga gabah kering panen sebesar Rp 3.700 per kilogram, maka pendapatan per kapita petani Rp 438.125 per bulan. Kondisi ini sangat rentan terhadap garis kemiskinan. Apalagi asumsi kepemilikan lahan petani yang digunakan adalah 1 hektar. Jika ternyata lebih rendah dari itu, maka bisa dipastikan para petani berada di bawah garis kemiskinan. Data dari Sensus Pertanian (2013) rata-rata luas lahan sawah yang dikuasai oleh rumah tangga usaha pertanian adalah 0,2 Ha.

Posisi terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan menempatkan pendapatannya pada kelompok pendapatan desil 5 (menengah), yaitu sekitar Rp 692.563 per kapita per bulan. Dengan asumsi ini, kebijakan yang diperlukan oleh pemerintah adalah menaikkan harga pembelian gabah kering panen di tingkat petani menjadi Rp 4.991 per kilogram, dengan asumsi masih menggunakan pupuk bersubsidi. Seandainya tanpa pupuk bersubsidi, menjadi Rp 5.404.

Keberpihakan pemerintah terhadap petani ini menjadi sangat penting, mengingat 40 juta penduduk Indonesia bergantung pada sektor pertanian sebagai pendapatan utamanya. Melalui kebijakan yang berpihak pada petani tersebut, efek lanjutan yang diharapkan adalah mampu menurunkan tingkat kemiskinan secara nasional.

Jangan sampai petani yang merupakan aktor utama dalam ekosistem perberasan nasional justru berpenghasilan figuran. Kesenjangan seperti ini juga harus dituntaskan agar tercipta keadilan sosial dan ekonomi dalam ekosistem beras, seperti semangat pemerataan pembangunan yang ingin diwujudkan oleh pemerintah saat ini.

Arif Budimanta alumnus IPB, Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional

(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed