DetikNews
Kamis 03 Agustus 2017, 13:06 WIB

Kolom

Ricko Andrean Tak Mati Konyol

Alfiansyah - detikNews
Ricko Andrean Tak Mati Konyol Ucapan belasungkawa dari tim Persiba Balikpapan untuk Ricko Andrean
Jakarta - Setelah lima hari berjuang melawan maut, terhitung dari Sabtu (22/7) akhirnya sahabat kami, Ricko Andrean, seorang bobotoh (suporter Persib Bandung) telah meninggal dunia di Rumah Sakit Santo Yusuf, Bandung, Kamis (27/7), sekitar pukul 10.10 WIB.

Berdasarkan berita yang saya baca baik dari media cetak maupun daring, kronologi kejadian yang menimpa Ricko karena ia bermaksud menolong seorang suporter yang dipukuli karena disangka anggota The Jak Mania, di pertandingan rival abadi Persib Bandung vs Persija Jakarta, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kamis (27/7).

Entah memang bermaksud menolong, atau sekedar ada di lokasi keributan, yang jelas ia malah ikut dihakimi belasan oknum bobotoh secara brutal karena dikira sebagai anggota The Jak Mania. Alhasil, ia pun dirawat dalam kondisi kritis di rumah sakit.

Doa dan harapan agar ia sadarkan diri telah berdatangan untuk Ricko --bisa dilihat di media sosial. Namun, sepertinya Yang Maha Kuasa terlalu sayang padanya. Lima hari melawan maut, Ricko pun tak berdaya dengan takdir. Malaikat mencabut nyawanya.

***

Lagi-lagi, gara-gara sepak bola, nyawa manusia mesti melayang.

Sebagian orang awam, kalangan terdidik, atau insan sepakbola pasti akan bertanya, entah itu dengan pertanyaan serius, satire, atau ejekan yang selalu dikatakan berulang kali: Gara-gara sepak bola, masa nyawa manusia harus dikorbankan. Mati konyol kan!

Jika ada yang berkata seperti itu, saya pribadi akan menolak pernyataan tersebut, dan mengatakan: Ricko Andrean tak mati konyol. Bahkan ia adalah pahlawan yang harus diingat dan dikenang dalam sejarah persepakbolaan Tanah Air. Seorang yang tangguh, berani dan tak banyak 'kecap' (baca: banyak omong, sedikit kerja) untuk melawan pertikaian di antara suporter.

Saya tak tahu Ricko. Bahkan pemain sepakbola di tim kebanggaannya --sebelum kejadian-- tak mengenal siapa itu Ricko. Bisa jadi, banyak suporter bobotoh sendiri tak mengenal siapa Ricko. Biasa, dalam kalangan suporter, yang nama-namanya diingat atau dikenal adalah seorang ketua atau senior yang punya nama, dan secara historis --lagi-lagi-- mempunyai nama di kalangan para suporter.

Tiga kali saya merasakan atmosfer pertandingan kandang "Maung Bandung" di venue yang berbeda. Pertama, di Stadion Wibawa Mukti, Bekasi. Kedua, di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung. Dan, ketiga di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung.

Stadion yang berkapasitas ribuan bangku ini begitu penuh dengan para suporter. Penuh dengan "lautan" biru dan bergelora dengan suara: "Persib Bandung! Persib Bandung! Persib Bandung!" Dengan suara yang bergerumuh itu, membuat siapun, terutama saya pribadi, menjadi merinding.

Eks pelatih Persiba, Jaino Matos (2016) yang tinggal di Jawa Barat dan pernah melatih diklat Persib Bandung menuturkan, jika ada anak kecil yang lahir di Jawa Barat, tinggal, dan menetap di Bumi Parahyangan, di hatinya sudah menjadi biru. Ia telah 'dibaptis' untuk menjadi suporter "Maung Bandung".

Apa hubungannya hal ini dengan Ricko? Sebelum menjawabnya, saya akan lagi-lagi bercerita sedikit.

Ketika Ahmad Jufrianto dkk melakoni laga away di Stadion Persiba, melawan tim Persiba Balikpapan, Kalimantan Timur, para bobotoh dan Viking datang secara langsung memadati stadion. Mereka datang tak ratusan, tapi ribuan. Sampai tak ada pembeda, yang mana suporter tim tamu yang identik dengan warna biru-biru dan tim tuan rumah.

Semua penuh dengan baju biru dan panji-panji berwarna biru. Bahkan ada yang menyandang dari Jawa Barat menuju ke Pulau Kalimantan. Fanatisme dan loyalitas mereka tak diragukan lagi.

Di tahun 2017 ini, Persib telah membeli eks pemain top dunia, Michael Essien. Hadirnya seorang Essien, membuat kepopuleran Persib menjadi tim yang selalu dicari di seluruh dunia. Di situs thetopstens.com, Persib menempati posisi ke-6 sebagai salah satu klub sepak bola di seluruh dunia, mengalahkan Arsenal, Juventus, Liverpool, dan Ac Milan. Dengan keadaan sepak bola di Tanah Air, pencapaian itu sungguhlah sangat luar biasa.

Tapi, semua kepopuleran Persib tak terlepas dari kehadiran suporter fanatiknya. Tak hanya ribuan, tapi jutaan.

Di antara jutaan suporter Persib, terselip satu nama, yaitu Ricko Andrean. Ricko adalah sebagian kecil dari jutaan suporter Persib. Ibarat sebutir pasir di lautan, apakah pasir itu bisa dicari ketika jatuh di pantai? Sebelum kejadian yang tragis itu terjadi, apakah Anda, satu Indonesia mengenal siapa itu Ricko?

Ricko Andrean lahir di Bandung, 15 Juni 1995, anak ketujuh dari pasangan Upik Putih dan Amir Hasan Tege. Orangtuanya adalah asli orang Padang dan telah lama pindah ke Bandung, sejak 1979.

Di mata keluarga, Ricko adalah anak yang periang. Ia bekerja di toko swalayan semenjak lulus dari SMA Pasundan 2 Bandung empat tahun lalu. Kakak kandung Ricko, Ratna, menuturkan, adiknya itu adalah anak yang baik, periang, aktif di karang taruna. Dan yang pasti pecinta Persib sejati.

Ricko bahkan kerap keluar masuk pekerjaan hanya demi mendukung Persib Bandung. Hampir sama dengan gelora pemuda lainnya, ia percaya, dengan mendukung secara langsung timnya di stadion, di sanalah ia menemukan jati dirinya sebagai Pasukan Biru. Berteriak dengan lantang, menyanyi dengan penuh semangat, tanpa kenal ampun dan lelah. Tak peduli waktu, biaya, dan tenaga yang dikorbankan. Semua dikorbankan. Tak heran jika ia meninggalkan ujian sekolah demi mendukung secara langsung Persib Bandung.

Ricko adalah anak yatim piatu. Anak yatim piatu pasti akan selalu merasa kesepian jika berada di rumah. Tapi, ia akan senang dan gembira, bahkan kegirangan ketika pergi ke stadion, dengan semangat yang menggebu-gebu. Ia kobarkan api semangat, membentangkan spanduk, panji-panji kebangkitan, dan syal Persib Bandung.

Ia adalah suporter fanatik, yang mempunyai idealisme yang tinggi: ingin timnya menang dan pemain harus bermain dengan hati untuk sebuah klub yang dibelanya. Demi lambang Persib di dada!

Namun, tak tahu mimpi apa yang menimpa pria bujangan ini. Tepat pada Sabtu, tanggal 22 Juli 2017, kala mendukung Persib Bandung yang menjamu Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, ia dikeroyok oleh kawan-kawannya sendiri.

Ia dituduh seorang Jak Mania. Padahal di dalam darahnya sudah mengalir darah biru. Niat mulianya berujung tragis. Dia ikut diamuk oknum bobotoh. Ia mendapatkan puluhan, bahkan ratusan bogeman mentah, tendangan, dan cacian bertubi-tubi dari sesama "birunya". Hingga akhirnya dinyatakan meninggal.

Di media sosial dan daring lainnya, seluruh suporter Tanah Air, insan sepakbola, dan pencari nafkah di sepakbola berkata-kata dengan bijaksana dan tak menginginkan ada pertikaian lagi antarsesama suporter klub sepak bola.

Gaung perdamaian itu kini kembali disuarakan. Suporter sepak bola Tanah Air diharapkan bisa lebih bersikap dewasa agar tidak ada lagi korban yang meninggal sia-sia. Semua pihak mulai dari menteri, pentolan kelompok suporter, pihak keamanan, orang awam, satu suara sepakat mewujudkan perdamaian.

Tapi, sekali lagi, saya katakan, semua pandai berkata bijaksana dan bertutur kata. Selama sebulan lebih, kata-kata bijaksana itu pasti tak akan muncul ke permukaan lagi. Tunggu ada jatuh korban, baru semua akan menjadi bijak lagi.

Apakah semua pernah menyelesaikannya dengan tindakan nyata, tanpa menunggu jatuhnya korban?

Ricko sudah memulainya. Maka dari itu, saya menegaskan. Ricko tidak mati konyol gara-gara sepakbola. Ia adalah seorang pahlawan sejati yang menyuarakan perdamaian. Tak bermulut besar. Semua ia lakukan dengan tindakan nyata.

Ia bukan provokator yang menyuarakan yel-yel pertikaian dan kata-kata kotor demi memancing emosi suporter tim tamu atau tim tuan rumah. Ricko adalah elemen dalam suporter yang selalu lantang, keras, dan vokal. Menggerakkan suporter sepakbola Tanah Air agar tak ada lagi perselisihan dan saling ejek antarsuporter. Hakikat dan dihati kecilnya yang paling dalam, ia menginginkan: Damailah sepak bola Indonesia. Damailah!

***

Perjuangan Ricko adalah sebuah tempelengan keras bagi seluruh elemen sepak bola di Tanah Air. Semua elemen harus terlibat, tanpa ada yang harus cuci tangan. Entah itu Presiden, Kemenpora, PSSI, penyelenggara pertandingan, komisi pertandingan, operator pertandingan, suporter, insan sepakbola, dan orang awam sekalipun, sebangsa se-Tanah Air.

Harus bisa membenahi sepakbola ke hakikatnya. Bagaimana menciptakan sebuah pertandingan sepakbola yang profesional, fair play, aman, nyaman, dan menghibur. Sehingga tak ada lagi terdengar kabar bahwa gaji pesepakbola nunggak, sepak bola 'gajah', pemukulan wasit, tawuran antarsuporter, wasit tak fair play, pengurus PSSI mencari keuntungan, serta hal-hal negatif lainnya yang Anda ketahui, dan sering mendengarkannya berulang kali dan bahkan merasa begitu pesimis. Klub dan timnas sepakbola Indonesia masih belum bisa dikelola secara profesional.

Saya yakin, dan seyakin-yakinnya, sebelum ajal menjemput Ricko, dalam hatinya yang paling dalam, ia pasti akan berkata seperti ini: "Untuk apa aku perjuangkan semua ini? Untuk apa?" si Ricko bertanya, untuk apa semuanya, suporter dan PSSI?

"Apakah ada yang bisa menjawabnya?" tanyanya lagi. Selamat jalan Ricko, di sana kau akan mendapatkan kedamaian sejati.

Alfiansyah media officer di tim sepakbola Persiba Balikpapan, pernah menjadi wartawan olahraga di koran harian lokal Kalimantan Timur, Tribun Kaltim

(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed