DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 28 Juli 2017, 13:50 WIB

Kolom

Linkin Park, Jamrud, dan Para Polisi Moral

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Linkin Park, Jamrud, dan Para Polisi Moral Rakhmad Hidayatulloh Permana (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Kesedihan itu langsung menyeruak. Tanpa sengaja, pada sebuah dini hari yang hening saya membaca berita kematian itu: Chester Bennington, vokalis Linkin Park meninggal dunia pada usia 41 tahun di hari Kamis. Sesaat saya tidak percaya dan tanpa sadar bulir air mata pun meleleh.

Pupus sudah cita-cita saya untuk menonton konser langsung Chester dan pasukan Linkin Park. Sekarang Chester telah pergi ke lain dimensi. Tapi, ia akan terus saya kenang sebagai pahlawan dalam benak saya.

Saya menangis karena kenangan saya dengan Chester memang begitu kuat. Chester menjadi kronik penting yang mengisi masa Sekolah Dasar (SD) saya waktu itu.

Perkenalan pertama saya dengan Linkin Park dimulai ketika salah seorang kawan membawa kaset pita album Hybrid Theory. Ketika memutar lagu itu lewat walkman, saya langsung jatuh cinta pada Linkin Park. Suara Chester unik sekali menurut saya. Teriakannya begitu lantang dan napasnya begitu panjang. Saya berulangkali mencoba bernyanyi sepertinya, tapi memang mustahil bisa menirunya.

Saksikan video 20detik mengenai Kesedihan Istri Chester Bennington di sini:


Setelah perkenalan pertama itu, saya pun berburu album Linkin Park dalam format lain. Saya makin terobsesi dengan Chester ketika menonton video konser Linkin Park di Texas melalui VCD player. Saking terobsesinya, saya bahkan sampai pernah membuat tato bentuk api seperti yang ada di sepasang tangan Chester. Tapi tentu saja itu bukan tato permanen. Saya menggambarnya dengan spidol dan segera menghapusnya ketika sedang mandi sore.

Saya mencintai Linkin Park karena Chester. Meskipun, saya juga menyukai gaya rap Mike Shinoda dan permainan DJ dari Joe Hand.

Ketika SD, saya dan kawan saya sering mengisi jam kosong dengan menyanyikan lagu-lagu Linkin Park. Kami cukup fasih menyanyikan lagu Crawling, In the End, dan Somewhere I Belong. Padahal pada waktu itu kami belum menerima mata pelajaran Bahasa Inggris.

Kami membuat kelas jadi gaduh saat jam kosong. Biasanya, kawan saya itu membawa kaset CD bekas dan wadahnya, lalu menggelarnya sembari bergaya laiknya DJ Hand. Sedangkan saya, tentu saja bergaya seperti Chester Bennington sambil memegang sapu sebagai handmic. Ada juga kawan kami yang ikut tertular dan memegang sapu sebagai gitar. Sesekali, kami juga ikut meloncat-loncat. Kami menyanyikan lagu plesetan dari Crawling versi Jawa, "Sooolihiiin matiii...ketibaaan radiooo…"

Di akhir nyanyian, kami berpura-pura membanting gitar dan mesin disk jockey, persis seperti yang dilakukan oleh Linkin Park setiap kali usai manggung. Kelakuan ini, secara tersirat menunjukkan bahwa kami sudah mulai merawat bakat "rebel" sejak kecil.

Chester dan kawan-kawannya telah mengajari kami cara untuk berteriak. Meneriakkan apa pun dengan rasa gembira tanpa perlu merasa takut. Walau tak jarang, kami juga mendapatkan hadiah jeweran dari guru. Tapi, kami tetap gembira.

Selain Linkin Park, saat masa SD saya juga menyukai Jamrud. Barangkali, saya adalah satu-satunya siswa di kelas itu yang menjadi fans Jamrud. Teman saya yang lain tak punya minat pada band rock lokal yang diisi oleh orang-orang berambut gondrong itu.

Jamrud merupakan band rock lokal yang hadir dengan lagu-lagu kritik sosial. Seringkali, mereka juga menyelipkan unsur anekdot yang mengundang gelak tawa. Surti Tejo, Putri, Berakit-rakit, Telat Tiga Bulan, dan Ningrat adalah beberapa lagu yang pernah saya hafal liriknya.

Lagu-lagu Jamrud kental sekali dengan nuansa kritik sosial yang disampaikan dengan nada satir. Beberapa lirik juga mengandung nuansa nakal. Misalnya, lagu Surti Tejo, adalah sebentuk kritik kepada modernisme yang justru bisa mencerabut jati diri seorang pemuda kampung bernama Tejo. Atau Ningrat, sebuah kritik untuk feodalisme Jawa yang terkadang terlalu mengekang. Saya juga menyukai Jamrud karena suara serak Krisyanto, sang vokalis.

Linkin Park dan Jamrud adalah penanda zaman yang bakal terus menancap kuat. Mereka memberikan corak menarik dalam ingatan masa kecil saya. Walaupun rasanya memang terdengar ganjil jika seorang bocah SD sudah menggandrungi mereka.

Tapi, masa itu begitu meriah. Semua berkat jasa Linkin Park dan Jamrud. Band-band aliran cadas itu selalu mampu menjadi wadah luapan emosi bocah-bocah labil seperti saya. Tapi, semuanya berubah cepat pada medio 2007 ketika musik-musik melow Melayu menyerang.

Setelah Peterpan berhasil mengguncang industri musik Pop Indonesia, tiba-tiba berbagai macam band pop Melayu serentak hadir. Band-band itu gemar sekali membawakan tema-tema cinta. Tema cinta yang selalu berbicara tentang dua sejoli yang sedang mabuk kepayang. Seketika genre musik di Indonesia pun menjadi seragam. Semuanya hanya soal cinta.

Sampai pada titik kulminasi tertentu, keadaan ini jadi membosankan. Cinta melulu, begitu kata band alternatif Efek Rumah Kaca yang dikenal karena lagu-lagu kritis mereka. Semuanya demi pasar, sehingga semua hal itu sangat lazim dilakukan. Cinta jadi komoditas paling laku saat itu.

Hingga sekarang, tema-tema lagu cinta dan musik yang mendayu-dayu itu tetap laku. Peminatnya bahkan semakin banyak dan berlipat ganda. Dari para bocah sampai orang dewasa. Kini para bocah yang sering disebut generasi milenial itu mungkin begitu asing dengan genre musik cadas.

Tapi, bagi saya itu bukan masalah penting sebab setiap generasi punya selera masing-masing. Hal yang lebih menyebalkan dari zaman ini adalah ketika para bocah itu dibatasi hak kebebasannya. Orang-orang dewasa kelewat khawatir dengan masa depan moral generasi ini.

Beberapa waktu yang lalu misalnya, warganet sibuk berdebat soal lagu Despacito. Konon, lagu berbahasa Spanyol itu diindikasi memuat lirik-lirik cabul. Ada beberapa lirik yang menggambarkan sebuah adegan mesum. Lirik nakal yang tak boleh didengarkan oleh para bocah yang belum akil baligh.

Namun, pada saat itu juga mereka seperti lupa bahwa lagu-lagu berbahasa Indonesia, khususnya dari genre dangdut, juga punya lirik yang tak kalah "jorok". Anda tentu pernah mendengarnya dan menilainya sendiri.

Belum lagi peran sensor yang terkesan berlebihan. Sensor kelewat gegabah merengkuh semua tayangan yang sebenarnya biasa saja. Misalnya, dalam film kartun Spongebob yang rutin saya tonton setiap pagi, ada beberapa tokoh yang tubuhnya di-blur karena si tokoh memakai baju bikini. Tentu terdengar lucu sekali ketika melihat sesosok tokoh kartun memakai bikini dianggap bisa memicu kerusakan moral generasi bangsa. Padahal, di tempat lain ada tontonan dari internet yang jauh lebih berbahaya ketimbang film kartun.

Setiap generasi tentu saja memiliki tantangannya sendiri. Maka rasanya membiarkan mereka bergelut dengan tantangan itu adalah cara terbaik untuk mengantarkan mereka pada tahap kedewasaannya. Orang dewasa hanya sebatas jadi pemandu yang baik, bukan malah jadi diktator yang membatasi banyak hal.

Zaman ini adalah zaman anomali. Internet menawarkan akses bebas yang memungkinkan siapapun mendapatkan berbagai macam informasi. Namun, di sisi lain, di ruang-ruang lain, kebebasan itu justru dibatasi atau dibungkam dengan cara dimatikan. Petugasnya adalah orang-orang dewasa yang merasa paling paham dengan kebutuhan para bocah milenial.

Berbeda sekali dengan zaman ketika saya masih SD dulu. Zaman itu, kami merayakan kebahagiaan dengan teriakan. Tanpa perlu mengerti arti liriknya. Tanpa paham maksud cabul dalam lagu itu. Kami tak akan mungkin jadi amoral hanya karena lagu. Tapi, dahulu para polisi moral memang belum merajalela.

Kini, para polisi moral ada di mana-mana. Mereka rutin berpatroli dan siap menghakimi siapapun dengan cap benar-salah, baik-buruk, dosa-pahala, dan halal-haram. Bahkan, ketika kesedihan saya belum menguap, mereka begitu gampang memastikan bahwa Chester akan masuk ke dalam kerak neraka,. Karena Chester mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, salah satu perbuatan yang paling dilarang dalam agama.

Saya jadi ingin mengenang kembali lagu-lagu Linkin Park dan Jamrud. Ketika kebebasan berekspresi belum mudah dibungkam di zaman kebebasan. Saya lelah dan ingin menyanyikan lagu In The End. Hipokrisi orang-orang itu terkadang membuat saya putus asa. Chester, saya merindukan teriakanmu!

Rakhmad Hidayatulloh Permana tinggal di Subang. Kegiatan sehari-harinya bermain dengan ikan-ikan air tawar
(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed