DetikNews
Selasa 25 Juli 2017, 12:43 WIB

Kolom

Stop Bullying, Pendidikan Karakter, dan Sekolah Gratis

Sri Kuswayati - detikNews
Stop Bullying, Pendidikan Karakter, dan Sekolah Gratis Ilustrasi: Mindra Purnomo
Jakarta - Akhir-akhir ini berita mengenai bullying pada anak kembali marak. Lebih mirisnya lagi, salah satu pemberitaan menyebutkan bahwa bullying dilakukan oleh sekelompok siswi berpakaian seragam pada temannya. Begitu pula berita lain tak kalah menyedihkan; tampak salah satu mahasiswa di-'kerjain' oleh teman-teman satu kampus. Mahasiswa tersebut rupanya telah lama mendapakan perlakuan kasar dari temannya, namun ia tak melapor. Akibatnya, rekan-rekan tidak berhenti melakukan bullying hingga akhirnya kita semua mengetahui aksi bullying dari rekaman video yang tersebar viral di dunia maya.

Ajarkan Anak "Melawan"

Salah satu penyebab anak mendapat perlakuan bullying adalah tidak ditanamkannya sikap untuk "membela diri" atau melakukan perlawanan jika mendapat kejadian tidak menyenangkan. Sebagai seorang ibu yang memiliki 4 anak, saya mendapati pada anak yang memiliki karakter "lemah" lebih mudah untuk mendapat perlakuan buruk dari temannya.

Salah satu contoh, anak sulung saat duduk di bangku SD sering kedapatan menangis. Ada saja hal yang dilaporkannya pada kami mengenai perlakukan buruk temannya. Mulai dari mengejek nama orang tua sampai "memalak". Rupanya ia tak berani melapor pada guru saat kejadian berlangsung, atau melakukan perlawanan dengan bahasa tubuh menolak. Si sulung lebih sering memilih menangis, dan hal itu membuat temannya lebih "tertantang" untuk terus melakukan bullying.

Berdasarkan pengalaman tersebut saya mulai lebih sering menanamkan konsep pada anak, bahwa ia berhak membela diri saat di-bully. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan melaporkan tindakan tidak terpuji pada guru. Berteriak meminta tolong saat akan menghadapi tindak kekerasan adalah pilihan lain yang bisa dilakukan.

Berbeda dengan si sulung, anak nomor 2 lebih memiliki konsep diri yang kuat. "Kalau adik enggak mau dipukul teman, jangan lemah!" demikian nasihatnya pada adiknya – anak kami nomor tiga— saat kedapatan menangis diolok teman.

Rentan Depresi

Pendampingan terus-menerus perlu dilakukan pada anak korban bullying. Alih-alih memarahinya karena tidak dapat melakukan bela diri, kita pun harus peka akan kondisi psikologis anak. Sebuah koran di Bandung Koran pada 2 tahun lalu pernah memberitakan ada anak korban bully yang akhirnya depresi dan memilih bunuh diri. Hal tersebut dilakukan karena ia tidak mendapat dukungan moril dari keluarga. Ia "dipaksa" untuk melawan temannya yang melakukan bully sementara di sisi lain ia tidak siap.

Dalam hal ini orangtua pun haruslah bijak. Lakukan pendekatan pada anak, kerja sama dengan pihak sekolah tentu sangat diperlukan untuk menghindari depresi. Cyberbullying juga bisa menjadi tindakan yang memicu korban melakukan bunuh diri. Kejahatan verbal adalah tindakan yang bisa membuat anak depresi. Ajari anak untuk memilah hal-hal yang layak ditulis di akun medosnya. Siapkan mental anak bahwa tidak semua orang suka padanya, dan ajari anak untuk mengabaikan komen negatif jika dirinya benar.

Sekolah Gratis Indonesia

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah bullying adalah dengan memberikan penanaman pembiasaan baik pada anak. Hal baik yang dilakukan terus-menerus akan menjadi kebiasaan positif dan tumbuh menjadi karakter anak. Pembiasaan tersebut saat ini gencar dilakukan oleh guru di Sekolah Gratis Indonesia yang digagas oleh seorang siswi SD di Bandung bernama Nanit.

Kegiatan tersebut antara lain mengajarkan anak untuk setop berkata kasar, setop melakukan kekerasan pada teman, dan melaporkan pada guru atau orang dewasa jika mendapat perlakukan buruk dari teman. Indari Mastuti, yang merupakan ibu dari penggagas Sekolah Gratis Indonesia mengatakan bahwa kewajiban kita selaku orang dewasa untuk memberi contoh dan menegur. Tindak kekerasan pada anak yang dilakukan orangtua bisa jadi pemicu bagi anak melakukan bullying pada teman atau adiknya.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan monitoring dan aksi melarang tindak kekerasan fisik dan verbal saat menemukannya. "Seringkali ibu-ibu hanya mengomel saat menemukan hal-hal yang salah pada anak sekitar. Mulai dari sekarang lakukan tindakan pro aktif dengan menegur langsung anak. Melerai terjadinya perkelahian dan menasihati anak saat kedapatan mengakses konten dewasa." Demikian pesan Indari Mastuti.

Tidak hanya menanamkan pendidikan karakter pada siswa di Sekolah Gratis Indonesia, Indari Mastuti "mengangkat anak asuh" yang diambil dari lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Anak asuhnya tersebut ternyata korban bullying yang tidak berani melapor. Akibatnya, hampir satu tahun tidak pernah masuk sekolah yang menyebabkannya tinggal kelas. Guna mengembalikan kepercayaan diri anak asuh yang ditinggal pergi ibunya tersebut, Indari Mastuti menyempatkan diri menemui pihak sekolah.

Saat itu dirinya menyampaikan pada pihak sekolah bahwa anak asuhnya siap kembali bersekolah. Sandra, demikian nama anak asuh tersebut, telah menerima risiko untuk tidak naik kelas. "Sandra harus belajar bertanggung jawab ya, enggak apa-apa sekarang tidak naik kelas. Berikutnya Sandra harus membuktikan bahwa Sandra bisa belajar lebih baik dan lakukan "perlawanan" dengan cara tepat jika ada teman melakukan bully," demikian dipesankan kepadanya.

Mulailah melakukan kampanye STOP BULLYING dari lingkungan terdekat. Berikan perhatian bukan hanya pada anak-anak yang kita lahirkan saja. Peka pada tindak kekerasan yang terjadi dan melakukan aksi melerai dan menasihati, adalah upaya nyata yang bisa kita lakukan. Mulailah tanamkan pada setiap anak bahwa mereka adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus saling menghargai. Selamat Hari Anak Nasional untuk generasi bangsa tercinta, kami akan ada menjaga dan mendidikmu!

Sri Kuswayati dosen Sekolah Tinggi Teknologi Bandung


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed