DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 21 Juli 2017, 15:30 WIB

Kolom

Berhenti Mengeksploitasi Kesalahpahaman

Rahmat Petuguran - detikNews
Berhenti Mengeksploitasi Kesalahpahaman Rahmat Petuguran (Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom)
Jakarta - Seorang anak muda dilaporkan ke polisi karena menyebut kata "ndesa" dalam vlog-nya. Pelaporan terhadap polisi juga dialami politisi yang mengirim pesan singkat kepada jaksa. Satu dilaporkan melakukan penistaan, lainnya dilaporkan karena dianggap melakukan ancaman.

Dua pelaporan itu bermula dari gejala yang sama: kegagalan komunikasi. Secara populer, gejala itu sering disebut sebagai kesalahpahaman. Meski kesalahpahaman adalah gejala umum, belakangan gejala itu melahirkan keriuhan yang luar biasa. Keriuhan itu terjadi karena kesalahpahaman dieksploitasi sebagai sarana saling menyerang.

Kegagalan komunikasi memang bukan perkara yang bisa disepelekan. Dalam banyak kasus, kesalahpahaman melahirkan akibat yang mengerikan. Tetapi dalam banyak hal lain, kesalahpahaman cukup diatasi dengan itikad baik memverifikasi.

Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, dalam laporan yang diterbitkan National Security Agency (NSA) berjudul Mokusatsu, disebut karena kesalahpahaman. Perdana Menteri Jepang Kantaro Suzuki mengucapkan kata mokusatsu yang berarti "tidak mau berkomentar". Namun oleh media internasional, kata itu diartikan "saya mengabaikan deklarasi itu" sehingga menyulut kemarahan Amerika.

Dalam dunia kesehatan, kesalahpahaman di Amerika ditengarai telah mengakibatkan sekitar 2 ribu orang meninggal dunia. Ini terjadi karena komunikasi pasien dengan dokter atau pengelola rumah sakit berjalan tak lancar. Kesalahpahaman membuat diagnosis tidak berjalan baik sehingga tindakan medis tak bisa dilakukan dengan tepat.

Sebagai sebuah kelaziman dalam komunikasi, kesalahpahaman tidak hanya terjadi pada komunikasi lintas budaya dan lintas kelas. Dalam kehidupan rumah tangga saja, yang pihak-pihaknya sudah saling kenal secara baik, kesalahpahaman kerap sulit dihindari. Makna yang diterima mitra tutur, berbeda dengan maksud yang dikehendaki penutur. Dalam rumah tangga, gejala kesalahpahaman itu melahirkan pertengkaran, konflik, perceraian, bahkan kekerasan.

Gejala Alami

Dalam komunikasi, kesalahpahaman adalah gejala yang alami. Itu terjadi karena bahasa adalah sarana komunikasi yang bersifat simbolik. Informasi dari pengirim ke penerima tidak dipindahkan sebagaimana data dipindah dari komputer satu ke komputer lain. Untuk memahami pesan tertentu, manusia melakukan intepretasi terhadap simbol bahasa itu.

Intepretasi bahasa tidak dapat melahirkan hasil tunggal. Sebab, masing-masing orang memaknai simbol sesuai dengan pengetahuan dan latar belakang kebudayaannya. Simbol yang sama bisa dimaknai dengan ribuan cara sesuai kemampuan dan preferensi pendengarnya. Karena itulah, selalu ada jarak antara "maksud yang diinginkan pengirim pesan" dengan "makna yang diterima penerima pesan".

Kita memang memiliki dokumen bernama Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang menjadi acuan standar makna atas kata-kata. Tetapi dokumen itu seringkali tidak banyak membantu karena kata –selain memiliki makna leksikal– juga memiliki makna kontekstual. Makna sebuah pesan tidak cukup diurai dengan memahami makna kata per kata, tetapi juga melibatkan konteks saat pesan dikirimkan.

Selain itu, kesalahpahaman juga kerap terjadi karena bentuk dan fungsi bahasa kerap tidak sinkron. Meminjam judul buku sastrawan Sapardi Djoko Damono: bilangnya begini, maksudnya begitu. Maksud baik bisa diungkapkan dengan cara ungkap yang urakan. Pun sebaliknya: maksud jahat bisa dikemas dengan santun.

Dalam situasi seperti itulah kecerdasan komunikator diuji. Komunikator yang cerdas berusaha menyingkirkan perbedaan-perbedaan budaya agar bisa berkomunikasi dengan efisien. Guru, misalnya, menurunkan standar berbahasanya agar penjelasannya dipahami siswa. Turis berusaha memakai idiom lokal agar bisa memesan makanan setempat dengan tepat. Pedagang berusaha menempatkan diri sebagai pembeli supaya bisa merekomendasikan produk yang tepat.

Tetapi belakangan, kecerdasan dan kerendahhatian semacam itu semakin jarang terlihat. Di arena politik dan hukum terutama, komunikasi kerap dilakukan secara ugal-ugalan. Kesalahpahaman dieksploitasi sebagai sarana menyerang lawan. Bukannya diatasi dengan melakukan konfirmasi, kesalahpahaman justru diperbesar sehingga melahirkan kesalahpahaman lain yang lebih besar dan mengerikan.

Kondisi itu menunjukkan kekonyolan yang paradoksal. Di tengah melesatnya perkembangan teknologi komunikasi, kemampuan manusia untuk memahami satu sama lain justru merosot ke titik terendah.

Terhubung, Memahami

Sosiolinguis Linda Thomas dan Shan Wareing (2007) menyebut, bahasa memiliki dua fungsi sosial dasar, yaitu sebagai perekat sosial (social glue) dan pelumas sosial (social lubricant). Sebagai perekat sosial, bahasa membuat ikatan masyarakat semakin erat. Bahasa menciptakan ikatan batin yang membuat satu orang semakin dekat dengan orang lain di sekitarnya. Ikatan batin meningkatkan solidaritas yang membuat anggota masyarakat bisa bekerja sama meraih tujuan bersama.

Sebagai pelumas sosial, bahasa berfungsi membuat hubungan anggota masyarakat semakin cair, dinamis, dan menyenangkan. Informasi bisa mengalir cepat, terdistribusi kepada pihak lain yang memerlukannya. Sebagai pelumas sosial, bahasa juga diharapkan membuat hubungan menjadi akrab.

Dua fungsi itu menunjukkan bahwa bahasa, mestinya, membuat orang terhubung dan saling memahami, bukan berkonflik dan saling menyerang. Karena itu, bentuk-bentuk penggunaan bahasa yang berorientasi pada perpecahan adalah penyimpangan yang berbahaya. Dalam masyarakat Indonesia, dua penyimpangan yang paling patut dihindari adalah stigma dan olok-olok.

Stigma memiliki dampak kognitif dan sosial yang sangat besar, baik bagi pembuat maupun korban stigma. Bagi pembuat dan orang yang mengonsumsinya, stigma mengakibatkan bias kognitif yang membuatnya tidak dapat menilai objek secara tepat. Fakta yang melekat pada objek terbingkai oleh stigma yang melekat dalam kepala.

Fakta apa pun yang melekat pada objek menjadi tidak penting jika tidak selaras dengan stigma yang melekat dalam pikiran. Adapun bagi korban, stigma kerap membuat hak-haknya sebagai manusia dan warga negara dilanggar.

Olok-olok juga tak kalah bahaya, baik dalam bentuk sarkas, satir, atau bentuk lain yang lebih vulgar. Meski kerap digunakan sebagai lelucon, olok-olok potensial melahirkan kesalahpahaman yang mengerikan. Subjek diolok-olok merasa dirinya dialienasi. Ketika perasaan itu terus berkembang, subjek dapat merasa marah, frustrasi, bahkan mendendam. Di sisi lain, olok-olok juga dapat menjadi provokasi bagi orang lain untuk melakukan kekerasan verbal yang sama.

Sejumlah peneliti mengidentifikasi, olok-olok turut menyebabkan kekerasan selama perang saudara di Rwanda. Dalam konflik itu, suku Tutsi dan Hutu terlibat perang yang memakan ribuan korban. Salah satu sebabnya adalah olok-olok dari radio Radio Télévision Libre des Mille Collines yang dimiliki paramiliter Hutu. Dalam siarannya, radio itu mengolok-olok suku Tutsi dan Hutu moderat sebagai inyezi (kecoa).

Secara leksikal kata kecoa memiliki makna netral sebagai nama binatang. Namun secara kontekstual, kata kecoa mengandung unsur merendahkan karena berasosiasi dengan sifat buruk tertentu, salah satunya menjijikkan. Pada satu sisi, sebutan ini membuat mayoritas Hutu semakin membenci Tutsi. Di sisi lain, suku Tutsi merasa terhina.

Situasi semacam itulah yang membuat penutur bahasa perlu lebih bijak menggunakan kata-kata. Dalam masyarakat yang cerewetnya bukan main ini, mestinya kita mengingat nasihat lama: berkatalah yang baik, atau diam.

Rahmat Petuguran penulis buku Politik Bahasa Penguasa, mengajar di Universitas Negeri Semarang (Unnes), juga bergiat di Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS)

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed