DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 21 Juli 2017, 14:00 WIB

Kolom

Merawat 'Dakwah' Garis Lucu

Pungkit Wijaya - detikNews
Merawat Dakwah Garis Lucu Rachmanto (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Identitas keagamaan menjadi satu sektor yang menarik untuk dipertentangkan dalam era media sosial. Pasca Pilkada Jakarta 2017, isu ini kian menerabas ke dalam pemberitaan sampai pertarungan ideologi keagamaan. Isu terbaru itu, misalnya, pertentangan antara pakaian: jubah dan batik.

Namun, bagi sebagian orang isu itu kian tak menarik, sehingga mereka daripada larut dalam keadaan garis keras pertentangan, memilih masuk ke jalur garis kelucuan. Entah sejak kapan, gerakan garis lucu mulai meramaikan khazanah dunia digital. Mereka hadir membawa narasi kelucuan dari fenomena keagamaan maupun kebangsaan dalam kehidupan media sosial.

Mereka menjadikan isu agama dengan bahasa main-main dan cenderung membalikkan logika umum, seperti pernah membuat meme menarik: "Setiap yang berbau komunis disebut PKI, setiap yang berbau kritis dituduh liberal, setiap yang berbau Iran dituduh syiah. Beragama kok dengan hidung. NU Garis Lucu."

Dengan begitu, mereka menjadi panorama lain dalam era media sosial yang cenderung terlampau serius dalam menyikapi sesuatu. Gerakan ini menarik dicermati, mengingat ketika mereka muncul untuk mem-posting sesuatu, kita merasa bahwa dunia ini mesti ditimbang ulang dari keseriusan. Mereka seakan menegaskan bahwa keseriusan dalam beragama, juga dalam hidup, mesti diringankan dengan kelucuan.

Munculnya gerakan NU Garis Lucu dan Muhammadiyah Garis Lucu, untuk menyebut dua saja, menandai bahwa pokok agama di era digital pun perlu logika lain yang jenaka agar tidak terjebak kepada keseriusan dalam melihat fenomena (kenyataan) dan dunia citra (internet).

Di tengah pokok kenyataan dan kemayaan yang sangat tipis garis pembatasnya, mereka seperti teror terhadap pemikiran batu tentang kekakuan dalam kehidupan beragama yang formal, kebudayaan yang kaku maupun keseriusan dalam berpolitik. Dengan kata lain, mereka menegaskan bahwa beragama yang begitu ketat ini, perlu kelucuan sebagai penyegar.

Garis lucu dapat disebutkan lahir dari generasi humor pasca immigrant digital. Sebuah istilah yang menggambarkan seseorang yang selama masa kehidupan anak hingga remaja berlangsung sebelum berkembangnya komputer apalagi hadir media sosial. Mereka melihat persoalan serius di internet—media sosial dengan jenaka, tanpa mesti keseriusan melulu.

Ketika orang lain sibuk memproduksi berita hoax sekaligus menyebarkannya, gerakan anekdot jenaka ini penting untuk mengimbangi konten pemberitaan yang cenderung serius. Kerapkali mereka membuat poster dengan simbol tertawa. Pemikiran yang memplesetkan kenyataan dan logika terbalik dari arus utama.

Mereka adalah antitesis dari fungsi dunia digital yang mempermudah orang untuk keras kepala agar tidak menurut petuah agung Pramoedya Ananta Toer soal bertindak adil sejak dalam pikiran. Halah, boro-boro adil, kebaikan saja sudah tidak dapat diproduksi dalam pikiran. Maka dari itu, garis lucu hadir.

Garis Lucu vs Garis Keras

Kelelahan dalam bekerja kerapkali membuat seseorang menjadi stres. Kemudian orang melihat kenyataan bahwa agama menjadi isu nomor wahid di dunia digital; jarinya tergerak untuk menyebar isu-isu antara nasionalisme dan agama. Ruang belajar dengan membaca tak mampu dilewati di tengah derasnya asupan informasi. Hal itu dalam konsultasi psikologi adalah indikator stres. Maka, obat mujarab salah satunya dengan humor.

Dalam pandangan psikolog, humor merupakan salah satu "kebutuhan pokok" hidup manusia. Ia mempunyai kemampuan besar untuk kebaikan bila dapat dihidupkan dalam situasi masyarakat yang sedang buruk. Humor biasanya akan mampu membebaskan orang dari beban kecemasan, kebingungan dan kesengsaraan (Hartanti dan Rahaju, 2002).

Dari itu pula, ketika menghadapi pemberitaan dalam berbagai aspek kehidupan yang keras, garis lucu adalah lorong yang berlawanan itu. Gerakan ini muncul sebagai oposisi biner dari sesuatu yang kaku, keras dan banal. Kelucuan hadir memelihara olok-olok dari sebuah keseriusan. Sedangkan garis keras selalu menyatakan diri dengan pentungan, pengecaman atas sesuatu yang kukuh dalam melihat kenyataan.

Dalam kelucuannya, humor hampir memperlakukan sesuatu dengan rasa superioritas. Humor adalah manifestasi rasa superior terhadap orang lain, atau atas situasi diri sebelumnya. Namun, gerakan garis lucu mesti kita rawat dengan sebaik-baiknya karena mereka melihat tertawa sebagai terlepasnya tekanan tertentu pada sistem nervous. Fungsinya sejalan dengan teori Freud bahwa humor dan lelucon membebaskan energi pada syaraf yang seharusnya digunakan untuk tugas tertentu.

Ketika ada satu kasus fenomena agama, budaya ataupun sosial tertentu, gerakan garis lucu hadir untuk melemaskan saraf yang tegang itu. Sejalan dengan pandangan Abraham Maslow bahwa di balik jiwa yang kuat mengandung selera humor yang padat: bahwa humor jenis ini menertawakan manusia, bukan kepada indvidu tertentu.

Memang, kerapkali gerakan itu memakai ketidakcocokan agar lelucon yang ditampilkan mudah diserap oleh publik. Ketidakcocokan adalah bangunan dasar dari humor. Anda bisa melihat sekaligus mendengar komika dalam stand-up comedy ketika di panggung; mereka menciptakan dulu ekspektasi, kemudian pada bagian akhir dipatahkan, sebuah awalan tidak cocok dengan akhiran.

Filsuf Imannuel Kant menilai humor adalah pergeseran idea dalam pikiran yang mengakibatkan perubahan permainan sensasi. Pada titik tertentu gerakan garis lucu akan diwaspadai oleh gerakan garis keras, yang suka bergerombol untuk melakukan tugas bunuh diri sebagai ruang jihad di kerumunan publik. Tapi, netizen membutuhkan kesenangan dengan tertawa atas kelucuan. Seperti pernah diungkapkan Thomas Aquinas, kesenangan adalah istirahat sang jiwa.

Bagi Aquinas, orang yang tak pernah bermain dan bercanda itu melawan akal, dan mudah menjadi jahat. Maka, sebutlah gerakan garis lucu ini sebagai alternatif kaum jahat yang tak mau mengalah atas kenyataan. Pada satu sisi, humor mampu terbebas dari cap baik-buruk, menang-kalah, sia-sia atau untung.

Sisi lainnya, ia menjaga agar kita tetap lebih besar daripada perbuatan kita sendiri atau pun daripada peristiwa yang kita alami. Humor bukan sekadar iseng, ia mampu membangun fleksibilitas mental sekaligus sebagai pelumas hubungan sosial. Maka dari itu, mari kita rawat gerakan garis lucu di jagad sosmed ini.

Pungkit Wijaya esais, bermukim di Bandung. Buku terbarunya Rawayan—Refleksi Religiusitas Masyarakat Urban (Elekmediakomputindo, 2016)


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed