DetikNews
Senin 17 Juli 2017, 16:08 WIB

Kolom

Bangsa yang Terluka

Candra Malik - detikNews
Bangsa yang Terluka Candra Malik (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Luka memang sensitif terhadap apa pun. Ada yang memilih untuk menutup luka dengan perban agar tidak terpapar debu, dan tidak terkena air. Sebab, kelembaban diyakini bisa membantu mengurangi cairan yang keluar dari luka dan membentuk jaringan baru penutup luka. Tak sedikit pula yang memilih membiarkan luka itu terbuka dengan harapan disembuhkan secara alami oleh waktu. Tapi, yang jauh lebih penting dari itu semua, pendarahan harus dihentikan dan luka harus dibersihkan. Ini, tentu, berlaku pula untuk luka bangsa.

Ya, bangsa ini sedang mengalami luka yang menyebabkan kita menjadi sebegitu "sensi". Gerak sedikit saja perih, apalagi kalau sampai tersenggol. Karena terluka pula, kita menjadi curiga terhadap hal-hal yang kita duga akan memperparah luka atau memperburuk keadaan. Mental terluka ini perlu mendapat penanganan khusus. Sebab, mental ini menimbulkan efek sampingan: curiga dan khawatir terhadap siapa pun dan apa pun yang mendekat. Terlebih jika sesuatu itu berbeda dengan pandangan kita dalam menangani luka.

Banyak yang bisa kita jadikan contoh. Luka masa lalu akibat represi rezim yang tidak memberi keleluasaan beragama dan beribadah, misalnya, melahirkan sikap apatis terhadap demokrasi sehingga ide khilafah menguat. Di sisi lain, muncul pula keberanian untuk memunculkan kembali agama-agama lokal; dengan menggaris merah agama-agama yang diakui negara sebagai agama impor. Luka sejarah juga memunculkan sejumlah pemberontakan. Luka politik, ekonomi, sosial, budaya juga memicu pergolakan.

Sayangnya, negara belum benar-benar telah menghentikan pendarahan, apalagi menyembuhkan luka. Bahkan, gesekan-gesekan seperti dibiarkan terjadi terus-menerus. Tapi, pertanyaan yang kurang lebih sama perlu juga kita kembalikan kepada diri sendiri: mengapa kita curiga dan khawatir terhadap langkah-langkah negara untuk menghentikan pendarahan dan menyembuhkan luka? Haruskah kita menunggu luka semakin parah dulu, lalu negara mengambil tindakan amputasi? Sampai kapan kita curiga dan khawatir?

Belum lama ini, film berdurasi 7.40 menit berjudul "Kau Adalah Aku Yang Lain" karya Anto Galon memicu kontroversi karena dianggap menyudutkan sebagian umat. Meski sutradara film terbaik dalam Police Movie Festival untuk Kategori Film Pendek itu telah meminta maaf, perselisihan pendapat tidak lantas mereda. Namun, Abdul Haris Ma'mum, wakil Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor menilai film itu bagus secara sinematografi, isi dan pesan moral, edukatif, memiliki dimensi dialektika, dan terbuka terhadap kritik.

"Tapi, untuk film ini saya menyarankan untuk menontonnya secara utuh, jangan sepotong-potong. Sebab, ya nanti jadinya hanya bisa berkomentar miring bahwa film ini melecehkan Islam. Justru saya melihat film ini sarat pesan toleransi," kata Abdul Haris Ma'mum. Namun, pernyataan itu sesungguhnya tidak hanya berlaku untuk film yang dibintangi oleh Kiai Budi Harjono, pengasuh Pondok Pesantren Al Ishlah, Semarang, Jawa Tengah tersebut. Dalam segala hal, terutama dalam mencerna kabar dan berita, masyarakat sebaiknya tidak berpendapat tanpa menuntaskan informasi di dalamnya.

Otokritik di tubuh pers juga diperlukan menyusul melemahnya praktik kaidah jurnalistik yang meliputi Konsep ABC, yaitu Accuracy (ketepatan), Balance (keseimbangan), dan Clarity (kejelasan). Keluhan-keluhan tentang judul yang tidak sesuai dengan tubuh berita semakin sering muncul. Pesan berantai yang hanya didasarkan pada konsumsi tidak tuntas terhadap suatu berita, atau potongan berita, atau bahkan berita rekayasa, acapkali menyulut kegaduhan. Tak jarang, hoax pun terjadi pada kabar kematian. Telah terjadi silang-sengkarut yang mengharuskan kita mengurai persoalan secara perlahan dan cermat.

Dunia yang bergerak semakin cepat diikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ternyata disertai kemunduran adab. Prof. Dr. KH. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD dalam kicuan di Twitter mengeluhkan perlakuan netizen yang melakukan bullying (perundungan) terhadap ilmuwan, ulama, dan profesor. "Medsos membuat orang merasa jadi setara. Hierarki keilmuwan tidak lagi dihargai. Setiap orang merasa menjadi pakar," tulis Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Australia dan Selandia Baru itu. Pengajar senior pada Monash Law School di Australia itu mengajak kita untuk menghormati spesialisasi keilmuwan dan berdiskusi sesuai kapasitas.

Memperhatikan perkembangan sosiokultur hari-hari ini, masyarakat terbagi atas dua kategori besar, yakni masyarakat dunia nyata dan masyarakat dunia maya. Di dunia nyata, kita telah mengenal isme baru dalam jurnalistik, yaitu citizen journalism atau kegiatan jurnalistik oleh warga biasa, bukan wartawan. Namun, dalam praktiknya di media elektronik, media cetak, maupun media online; pengumpulan, pelaporan, analisis, dan penyebaran informasi oleh warga tidak selalu disaring dengan Konsep ABC. Lebih dari itu, warga yang terlibat dalam aktivitas kewartawanan tidak mendapatkan pendidikan dan pelatihan jurnalistik yang memadai dari kalangan pers.

Laporan "pandangan mata" di radio oleh warga mengenai kondisi lalu-lintas bisa menjadi contoh sederhana betapa penyiar tidak benar-benar tahu apakah sang pelapor memang di tempat kejadian. Ironisnya, masyarakat belum siap membedakan antara jurnalisme wartawan dan non-wartawan. Laporan dari warga non-wartawan diterima selayaknya berita. Padahal, Williard C. Blayer dalam buku Newspaper Writing and Editing mendefinisikan berita sebagai sesuatu yang terbaru yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar.

Secara umum, berita dapat diartikan sebagai suatu peristiwa, kasus, dan fenomena di dunia yang dipilih oleh wartawan untuk dipublikasikan di media massa. Ada adagium, news adalah akronim dari informasi dari empat penjuru, yaitu north (utara), east (timur), west (barat), south (selatan). Bisa dimaknai dalam setidaknya dua pengertian. Kesatu, sumber dan narasumber berita berasal dari berbagai kalangan. Kedua, sumber dan narasumber berita harus dikaji ulang dari berbagai sudut.

Namun, perkembangan sosiokultur di dunia maya ternyata lebih cepat dibanding di dunia nyata. Di luar dugaan, bermunculan pula netizen journalism atau kegiatan jurnalistik oleh warga dunia maya. Semakin sulit menuntut para penyebar informasi ini memenuhi kaidah jurnalistik, apalagi melaksanakan kode etik jurnalistik. Sama sekali tidak ada sistem kontrol dalam "pelaksanaannya". Tak pelak, dunia maya menjadi ajang perang siber. Keadaan ini lebih buruk dari apa yang disebut Nadirsyah sebagai "perasaan setara" orang medsos.

Masyarakat di dunia maya bukanlah masyarakat manusia dalam arti sebenarnya. Mereka adalah masyarakat akun, yang boleh jadi digerakkan oleh kepentingan sesat dan sesaat. Oleh karena itu, memisahkan kehidupan di dunia nyata dan dunia maya adalah suatu keniscayaan bagi kita, masyarakat manusia. Menjadikan gawai sebagai satu-satunya sumber dan narasumber berita, tanpa konfirmasi dan klarifikasi kepada pihak yang berkompeten, adalah kemunduran yang membahayakan bagi peradaban dan kemanusiaan. Bijaksana menerima dan menyebarkan informasi harus berangkat dari diri masing-masing. Dan, langkah untuk kembali sehat harus dimulai dari keinginan kuat untuk sembuh.

Candra Malik budawayan sufi


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed