Kolom Kalis

Selamatkan Pintu Rumah Kita dari ISIS

Kalis Mardiasih - detikNews
Jumat, 14 Jul 2017 15:00 WIB
Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Kedatangan Obama beberapa pekan lalu untuk membuka Kongres Diaspora Indonesia ke-4 di Jakarta ternyata tidak hanya mengakibatkan bisik-bisik keriaan netizen analis dadakan foto-foto Obama dan Jokowi di sosial media. Tulisan ini tidak hendak menakuti atau menimbulkan keresahan, namun faktanya ada sebuah peristiwa lain, kecil dan tidak terdengar, namun sedikit mendesak untuk kita jadikan bahan periksa.

Ketika mantan Presiden Amerika kharismatik itu singgah di Tanah Air, barisan pendukung ISIS di Indonesia menyebarkan pesan broadcast. Isi pesan adalah propaganda ihwal Obama yang mereka sebut iblis bertubuh manusia dan jagal umat Islam di seluruh dunia. Pendukung ISIS ini lebih marah lagi ketika membaca berita bahwa Obama memilih Borobudur sebagai tempat kunjungan vakansi. Bagi jihadis ISIS, elemen agama Budha dan Cina, termasuk semua biksu dan turis-turis candi merupakan musuh sebab saat ini umat Budha di Myanmar dan China dianggap sedang melakukan genosida besar-besaran terhadap umat Islam Rohingya maupun Uyghur.

Pada pesan broadcast lain, mereka mencatat bahwa 29 Juni 2017 kemarin adalah peringatan tiga tahun usia Daulah Khilafah menurut tahun Masehi. Entah sebuah kebetulan atau tidak, tetapi sekitar tanggal peringatan itu, pasukan IS di beberapa belahan dunia lainnya seperti sedang kalap.

Pada 20 Ramadan, Abu Aishah Al Khurasani masuk ke sebuah kuil Rafidi di kota Kabul. Ia melempar tembakan kepada umat yang sedang beribadah dengan damai dengan senjata api yang ia bawa. Ia lalu meledakkan bom yang tersembunyi dalam rompinya di tengah-tengah kuil dan memakan korban sekurang-kurangnya 17 nyawa, sedangkan puluhan lainnya luka-luka.

Pada 24 Ramadan, tentara Khilafah Abu Maysun Al Faransi menjalankan kendaraan yang penuh dengan senjata api dan bom, lalu menabrak sebuah mobil pasukan polisi Prancis di Paris. Abu Maysun mati dalam aksi itu, dan meskipun tidak ada korban nyawa, peristiwa teror mengingatkan warga bahwa jihadis perang telah masuk ke tanah air mereka. Pada 25 Ramadan, tentara Khilafah Usamah Zaryuh melancarkan serangan pada pasukan polisi di dalam stasiun kereta api Kota Brussels.

Pada 28 Ramadan, empat tentara Khilafah, yakni Abu Kawthar As Sudani, Abu Sayf ash Shami, Abu Rahmah al Anbari dan Abu Muhamad al Iraqi mengambil alih pendudukan tentara Rafidi dan Sahwah sebelum fajar tiba di Kota Baghdad lewat jalur Barat Anbar. Mereka menyerang pasukan negara dan bertempur selama beberapa jam hingga pasukan kehabisan tenaga dan pasokan senjata sebelum kemudian tentara khilafah meledakkan bom rompinya hingga tercatat 40 jiwa terbunuh dan puluhan lainnya luka-luka.

Beberapa yang terbunuh, di antara mereka tercatat nama Shurahbil Al Ubaydi, pimpinan distrik Baghdad yang juga kepala Komando Resimen, serta Letnan Kolonel Kamal Al Ubaydi, pasukan resimen keempat. Di hari yang sama, Abu Uthman Al Khurasani meledakkan bom rompinya di tengah apel pertemuan pasukan polisi Pakistan di Kota Quetta. Peristiwa tersebut membunuh dan melukai kurang lebih 30 orang.

Dua tentara Somalia terbunuh pada 1 Syawal yang mulia setelah terlibat baku hantam dengan tentara Khilafah di area Jarur Timur, wilayah Puntland. Dan, pada 5 Syawal, di Raqqa, sejumlah tentara IS menyerang pusat industri, wilayah Mashlab dan sekitaran area Barazi dan Universitas Ittihad. Suasana kacau beberapa jam. Dilaporkan, 30 warga terbunuh dan sejumlah lainnya luka-luka. Bersamaan itu, unit regu tembak yang menarget wilayah Rumaniyah dan Jazarah, juga sekitaran wilayah Furusiyyah dan Barazi, berhasil membunuh 12 orang.

Dari mana informasi tersebut saya dapatkan? Tidak, bukan dari media kafir yang tentu saja akan banyak dianggap sebagai alat propaganda anti-Islam atau islamofobia. Semua informasi itu saya terjemahkan dari halaman reportase Majalah Rumiyah.

Rumiyah, berasal dari kata Roma, adalah sebuah majalah online yang digunakan Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) untuk propaganda dan perekrutan. Majalah itu pertama kali terbit pada September 2016, dan juga terbit dalam berbagai bahasa termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Rusia dan Uyghur. Nama Rumiyah berkaitan dengan hadis Nabi Muhammad yang kurang lebih menyatakan bahwa setelah Konstantinopel, Kota Roma akan ditaklukkan.

Majalah ini menggantikan Majalah Dabiq, Dar al-Islam dan majalah lainnya yang beredar hingga pertengahan 2016. Para analis menduga, perubahan nama majalah milik IS ini berkaitan dengan lepasnya penguasaan terhadap kota Dabiq kepada pasukan militer Turki, yang terjadi pada Oktober 2016.

Sebagaimana Majalah Dabiq, tiap edisi terbitan majalah ini dibuka dengan kutipan yang ditujukan kepada Abu Hamza Al Muhajir, yakni, "Kami tak akan berhenti dari jihad kami, kecuali Roma telah ditaklukkan."

Begitulah. Ketika media di Prancis dan Belgia belum merilis tersangka teror, ternyata terbukti peristiwa teror itu kini mereka aklamasi lewat media mereka sendiri. Rumiyah memakai istilah murtadin, musyrikin atau munafiqun untuk melabel semua target operasi mereka.

Sementara itu, kita tentu masih ingat peristiwa dua anggota brimob yang ditusuk sangkur sambil diteriaki pekik takbir dan thaghut selepas Salat Isya di Masjid Faletehan Blok M, Jakarta pada 29 Juni lalu. Setelah itu, sebuah bendera hitam yang identik dengan bendera ISIS terpasang di pagar Polsek Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada subuh hari tanggal 4 Juli.

Bendera itu juga disertai dengan surat kaleng yang ditinggalkan di lokasi bertuliskan, "Wahai para Anshor Thogut Polri, TNI, Banser, Densus, dan para antek-antek laknatulloh, bertaubatlah kalian dari jalan yang menyesatkan itu, berhentilah kalian menyembah dan melindungi berhala yang kalian banggakan, yang kalian sebut dengan nama Pancasila najis itu yang telah menggantikan hukum Allah dengan hukum jahiliyah yang telah kalian buat, Sadarlah kalian sesungguhnya kalian berperang di barisan Thogut, dan kami berperang di barisan iman (QS An Nisa:76)...." dan seterusnya.

Singkatnya, dalam surat kaleng itu, si peneror menyatakan tidak segan menjadikan Jakarta seperti Marawi. Dari serangkaian tanda yang mereka berikan, jelas bahwa target operasi ISIS adalah pimpinan dan sendi-sendi kenegaraan seperti polisi dan tentara, sebab mereka dianggap membela negara demokrasi serta falsafah Pancasila yang mereka anggap thaghut dan kafir.

Di belahan dunia yang lain, jihadis teror ini berhasil menjadi besar dengan terus mempropaganda bahwa apa yang mereka perjuangkan adalah perintah Tuhan dan syariat Al Qur'an. Pengikutnya telah dibutakan oleh imbalan surga yang dapat diraih dengan jalan membunuh.

Sejarah perang tidak pernah benar-benar soal nilai agama yang berhasrat pada kemanusiaan, harmoni dan peradaban. Sejarah perang selalu soal nafsu dan hasrat untuk berkuasa. Ketika telah berkobar, ia bahkan tak terlalu ingat mana kawan dan lawan sehingga banyak darah tercecer dari mereka yang tak paham apapun, bahkan untuk anak-anak dan bayi yang baru saja mengeluarkan tangisan pertamanya.

Marawi di Filipina itu dekat, dan kita tak ingin ISIS sedikit pun mengetuk pintu rumah kita. Oleh sebab itu, kita mesti tegas melawan dan menyatakan ISIS bukan Islam. Ia tak sedikit pun layak dibela.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

(mmu/mmu)