DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 14 Juli 2017, 11:18 WIB

Kolom

"Ndeso"

Xavier Quentin Pranata - detikNews
Ndeso Xavier Quentin Pranata (Ilustrasi: Ivon/detikcom)
Jakarta - Seseorang memasuki sebuah toilet di gedung supercanggih di kota supermodern. Sesampai di dalam dia celingukan. "Mana lubang WC-nya?" ujarnya sendiri sambil garuk-garuk kepala. Tidak lama dia keluar lagi. Ketemu petugas cleaning service. "Mana WC-nya?" sergahnya.

Sekejap petugas kebersihan itu masuk, dan berdiri di atas gambar telapak kaki. Tiba-tiba ada toilet duduk muncul dengan tenaga hidrolis. "O begitu ya?" ujarnya dalam bahasa Indonesia seakan-akan petugas bule itu mengerti. Dasar ndeso!

Kisah yang saya dengar dari seorang teman—entah benar atau tidak; no pic = hoax wkwkwk— mengingatkan akan masa kecil saya sendiri. Saya dilahirkan di Rumah Sakit Budi Rahayu, Blitar, sebuah kota kecil yang 'ndeso' jika dibadingkan kota besar lainnya. Ketika ada kesempatan untuk jalan-jalan ke kutha Surabaya, saya kagum dengan banyaknya plaza saat itu. Alangkah kecilnya Blitar dibandingin Surabaya! Dasar ndeso!

Saat kuliah, saya diutus untuk ikut seminar nasional di Universitas Nasional Jakarta. Begitu sampai, saya terkagum-kagum dengan banyaknya bangunan tinggi dan tol tengah kota di sana. Alangkah jauhnya Surabaya dibandingkan Jakarta. Dasar ndeso!

Setelah bekerja menjadi penulis dan pembicara publik, saya berkesempatan untuk bicara di berbagai kota di banyak negara, termasuk New York. Saat menginjak Big Apple ini, sekali lagi saya dibuat kagum dengan hutan beton dengan bangunan yang mencakar-cakar langit.

Bahkan saya dibuat hening saat berada di bekas rentuhan teror 911 yang sudah berubah menjadi gedung-gedung baru yang menjulang menantang elang. Begitu jauh beda New York dibandingkan Jakarta, apalagi Surabaya, lebih-lebih Blitar. Dasar ndeso!

Kembali ke Tanah Air, saya mendapat undangan bicara di Pulau Bima. Selesai bicara, ada waktu senggang. Oleh kebaikan teman, saya dipinjami kapal yang cukup besar untuk mengunjungi Pulau Komodo, Labuhan Bajo dan Pulau Padar.

Setelah semalam menginap di kapal, pagi-pagi benar saya turun dari perahu kayu itu dan mendaki bukit di Pulau Padar. Sesampai di atas, saya terkesima. Pemandangan alamnya—pertemuan 3 'genangan' air dengan langit—begitu memukau. Hawaii, yang pernah saya kunjungi, kalah indah.

"Negaramu begitu menawan. Saya akan balik lagi mengajak teman-teman saya ke sini," ujar turis Brasil yang saya temui di puncak Bukit Padar. Dia pergi bersama belasan temannya.

Demikian juga Bromo. Lalu Ijen. Bali. Lombok. Jayapura. Manado. Tempat-tempat yang pernah saya injak di Tanah Air itu begitu memukau. Tiba-tiba saja pengertian "ndeso" yang semula negatif jadi memancarkan aura positif. Bagi saya pribadi, yang dilahirkan di kutha alit yang masih ndeso, Blitar, tidak pernah kata itu bernuansa negatif.

Ketika masih kecil, saya sering diajak almarhum ayah saya untuk 'jalan-jalan' ke desa. Bagi ayah saya kerja, bagi saya petualangan. Setiap kali saya haus, saya tidak perlu khawatir. Ayah langsung memberitahu sopir mobil Holden yang kami naiki untuk berhenti. Di mana saja. Di depan rumah-rumah penduduk ndeso itu, hampir selalu tersedia kendi berisi air dingin menyejukkan yang bisa dinikmati gratis oleh setiap musafir, termasuk saya yang masih kecil. Gratis tis!

Sesampai di Blitar, yang termasuk kutha jika dibandingkan dengan desa-desa di sekelilingnya, saya minta ibu saya untuk membelikan kendi itu. Rasa dingin-segar alami dari kendi itu membuat saya ketagihan. Bahkan saat menulis kolom ini pun saya merindukan masa-masa kecil yang penuh kedamaian di ndeso.

Untuk mengobati rasa rindu terhadap masa kecil yang berbahagia ini, saat tinggal di Sleman, Jogja, saya sering mengajak anak bungsu saya ke sawah. Karena saya bertugas di Australia, setiap kali saya pulang ke Sleman, saya dan anak bungsu saya mencari keong emas di sawah-sawah sekitar perumahan. Lalu saya minta bibi untuk menjadikannya lauk nasi. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

Setiap kali saya ke kota kecil atau ke desa, saya sering menyenandungkan lagu mandarin klasik yang dinyanyikan oleh Teresa Teng (Deng lijun) yang liriknya begitu menginspirasi:

Xiǎo chéng gù shì
Cerita Kota Kecil

Cerita kota kecil sangat banyak
Penuh dengan kegembiraan
Kalau kamu datang ke kota kecil
Akan mendapat banyak hasil
Dilihat bagaikan lukisan
Didengar bagaikan nyanyian
Kehidupan yang sangat indah
Semuanya sudah termasuk
Ngobrol tentang
Cerita kota kecil sungguh lumayan
Silakan teman-teman datang bersama
Bertamu ke kota kecil

Kini, saat 'dasar ndeso' menjadi perbincangan di kafe elit hotel berbintang sampai warung kopi pinggir jalan—mana ada warung kopi tengah jalan? Hehehe—sudut-sudut sunyi di relung-relung hati terdalam saya justru membuncah dengan kerinduan akan kehidupan ndeso yang apik, jauh dari hiruk-pikuk intrik politik yang membuat mata sesama saudara saling mendelik!

Pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban yang cukup pelik: mengapa filosofi ndeso yang begitu apik bisa jadi polemik? Apa karena wilayah privat sudah menjadi ranah publik? Apa disebabkan karena perbedaan hermeneutik? Apa karena yang mengucapkannya anak presiden sehingga menjadi konsumsi politik? Entahlah! Saya memilih untuk nyeruput kopi tubruk di atas dingklik!

Xavier Quentin Pranata dosen, penulis, penerjemah, editor dan pembicara publik. Tinggal di Surabaya

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed