DetikNews
Selasa 11 Juli 2017, 14:23 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Menyelamatkan Para Olahragawan Kita

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Menyelamatkan Para Olahragawan Kita Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Baru saja, seorang mantan petinju profesional ditangkap polisi karena mencuri tiga lempeng baja dari sebuah pabrik. Terdesak kebutuhan hidup, begitu alasan dia. Padahal, dulu si mantan petinju kerap berlaga di ring internasional untuk mengibarkan nama Indonesia.

Cerita pilu semacam itu jadi semakin klise saja. Dua tahun silam, mantan juara dunia tinju kebanggaan Indonesia pun terlibat kriminalitas, juga gara-gara himpitan kondisi ekonomi. Belum lagi kisah-kisah lain semisal mantan peraih emas cabang lari yang menyambung hidup dengan berjualan air mineral di Senayan, atau atlet dayung juara Sea Games yang menjalani hari tua sebagai nelayan miskin di pantai utara Jawa.

Terhadap berita-berita sendu demikian, apa tindakan kita? Ya, kita sekadar membacanya, menghela napas sesaat, mengelus dada biar efek drama tambah sempurna, lalu pelan-pelan melupakannya. Kalau toh kita berbuat sesuatu, maksimal kita mengunggah tautan berita di akun medsos kita, dilengkapi kalimat yang tidak kalah klisenya: "Ke mana Jokowi? Kenapa jasa para pahlawan ini dilupakan negara?"

Halah, negara. Dikit-dikit kok negara.

Memang sih, idealnya negara selalu hadir dalam setiap lipatan kehidupan kita, mulai urusan jalan tol hingga harga merica. Tapi kalau boleh berbagi, saya ingin menceritakan secuil pengamatan saya atas dunia olahraga di Australia.

***

"Kalau mau jadi atlet beneran, mending di Indonesia daripada di sini, Bal."

Saya agak kaget mendengar kalimat itu. Yang mengucapkannya adalah Pak Jimmy, sahabat saya, sesama sopir di PEP Transport.

Meski kaget, saya jelas percaya dia. Lha wong memang Pak Jimmy merasakan sendiri perbedaan kondisi dunia olahraga antara di Indonesia dan di Australia, kok.

Pak Jimmy datang dari Surabaya bersama istri dan kedua anaknya. Mereka boyongan ke Perth untuk tinggal seterusnya di kota ini. Salah satu anak Pak Jimmy, Raymond namanya, jago berenang. Sebelum hijrah ke Perth, Raymond berkali-kali memenangi kejuaraan berenang tingkat daerah. Sampai di Perth, bakat dan hobi renang itu dilanjutkan dan digiatkan. Harus begitu, apalagi Australia termasuk salah satu surganya olahraga berenang.

Hingga kemudian Raymond menang di ajang kompetisi antarsekolah, yang kalau di Indonesia sekelas Porseni. Ia pun berhak mewakili negara bagian Western Australia, untuk bertanding pada tingkat nasional di Sydney.

Malang, jarak Perth-Sydney tak kalah dengan Jogja-Merauke. Perth di tepi barat benua, dan Sydney nyaris di ujung timurnya. Tiket untuk berangkat ke sana tidak murah, Bung! Belum lagi ongkos-ongkos lain untuk akomodasi selama di Sydney.

Maka, agar Raymond tetap berangkat, digelarlah acara fundraising. Macam-macam menu makanan Indonesia disiapkan, aneka barang bekas disediakan. Kemudian masyarakat Indonesia diundang, agar mereka jajan makanan dan berbelanja. Uang yang terkumpul diberikan kepada Raymond, sebab tanpa cara itu bisa jadi Raymond gagal berangkat.

"Lho, ke mana negara? Ke mana pemerintah Western Australia? Apa mereka tidak peduli dengan petarung yang akan memperjuangkan nama mereka di panggung nasional?"

Memang sih, di sini tidak muncul pertanyaan demikian. Tapi kalau toh harus begitu caranya bertanya, maka jawabannya akan membuat Anda patah hati. "Maaf, negara tidak menyumbang apa-apa."

Ya, Raymond harus berangkat sendiri, membiayai sendiri, berjuang sendiri, dan kalau menang dia cuma akan mendapat medali. Bukan uang. Karena dia masih anak sekolah, mustahil di negeri ini ia mendapat hadiah uang. Anak-anak dan uang adalah kombinasi yang bisa-bisa membuat orangtua terjerat pasal eksploitasi anak di bawah umur. Hukumannya beraaattt.

Kondisi tersebut sungguh berbeda dengan ketika Raymond masih di Indonesia. Di Surabaya, tiap kali musim kompetisi, dompet anak itu tebal jadinya. Dengan memenangi beberapa partai, biasanya dia bisa pulang dengan mengantongi uang bonus tak kurang dari 5 juta rupiah. Itu angka yang amat besar untuk anak sekolah, bukan?

Belum lagi jika ia menang di Kejurda, dan masuk Pelatda. Uang saku bulanan dari pemerintah daerah akan rutin ia dapatkan. Tidak banyak sih, hanya senilai beberapa ratus ribu rupiah. Tapi itu sangat membantu sebagai ongkos pembelian vitamin dan nutrisi lainnya yang sangat dibutuhkan seorang atlet.

Nah, mana ada yang seperti itu di Australia? Latihan ya latihan sendiri, mau vitamin ya beli sendiri, mau berangkat ke medan tempur ya bayar tiket sendiri.

***

Pasti kemudian muncul rasa penasaran. Jika pemerintah tidak memberikan dukungan finansial kepada atlet, lantas bagaimana mereka hidup? Apakah nantinya para perenang hebat itu juga akan berakhir jadi pengasong kacang rebus di Domain Stadium, stadion terbesar di Perth yang tempo hari ditumpahi puluhan ribu penggila Adelle itu?

Jawabannya adalah tidak. Minimal ada dua sebabnya. Pertama, orang Perth nggak doyan kacang rebus. Kedua, para olahragawan Australia hidup dalam sebuah masyarakat yang memang menghidupi mereka.

Begini penjelasannya.

Masyakarat Australia tergila-gila dengan olahraga. Mereka kecanduan gerak badan setara dengan level kecanduan Anda pada fidget spinner dan drama Korea.

Di sini, setiap hari dengan mudah kita menjumpai orang sedang bersepeda balap, jogging, atau sekadar berjalan cepat. Tak harus di pagi akhir pekan untuk melakukan itu. Bisa di hari kerja, pagi sebelum berangkat, sore sepulang kantor, atau bahkan pada malam saat gelap sudah benar-benar turun.

Orang pun tak malu-malu untuk terus bergerak. Ada yang berangkat ke kantor dengan naik bus, lalu sorenya pulang ke rumah dengan berlari sambil menggendong ransel yang tampaknya berisi baju kerjanya. Ada para ibu yang mendorong kereta bayi sambil jogging menyusuri tepian sungai atau keliling danau. Ada orang-orang yang melesat dengan sepeda seharga ribuan dolar, namun banyak pula yang tetap bersemangat meski sekadar menggenjot sepeda butut karatan.

Itu baru jogging dan bersepeda, yang memang paling gampang dilihat sehari-harinya. Belum lagi berbagai jenis olahraga lain. Berenang, surfing, skating, gym, beladiri, hingga jenis-jenis olahraga lain yang pelakunya tidak terlalu massal semisal bola tangan, kriket, dan entah apa lagi.

Pemerintah memang menyediakan fasilitas publik bagi warganya yang doyan bergerak. Fasilitas lho ya, bukan uang atau gaji. Khusus di Perth, jalur untuk sepeda balap (road bike) termasuk sangat baik. Di sepanjang Swan River, di sepanjang pantai barat, juga di tepi jalan-jalan raya. Tentu saja jalur sepeda tersebut sering bersebelahan dengan jogging track.

Dengan lengkapnya fasilitas publik, kegilaan masyarakat akan dua jenis olahraga tersebut jadi tampak pula di sisi-sisi wajah yang lain. Toko-toko sepatu olahraga, khususnya sepatu lari, menjamur di mana-mana. Demikian pula toko-toko sepeda, baik yang offline maupun online.

Tak terkecuali, lagi-lagi, pada olahraga berenang. Pakaian renang dijual di mana-mana. Kalau sekadar mau butuh baju atau kacamata renang, juga sepatu lari dengan kualitas standar, di kompleks pertokoan tingkat suburb (area seluas kelurahan) pun dipastikan ada.

Sebagai kurir, saya selalu mengirim stok dagangan ke banyak toko penyedia pakaian dan alat-alat berenang. Salah satunya bernama Swimmer World, milik lelaki bernama Jeff Norton. Ini toko alat renang yang paling saya kenal dan saya amati.

Tiap menjelang musim panas hingga musim itu berakhir, barang kiriman ke toko Jeff selalu membludak. Agak menurun pada musim selanjutnya, namun tetap selalu ada kiriman stok bahkan pada musim dingin. Artinya, pada musim panas orang-orang menghabiskan waktu dengan berenang di pantai. Kebutuhan akan baju renang melonjak. Sementara pada musim yang lebih dingin, aktivitas berenang tetap berjalan normal di kolam-kolam.

Untuk itulah kolam-kolam renang juga tersedia, dan selalu ramai terutama di akhir pekan. Selain menyediakan tempat bagi siapa pun yang ingin berkubang air, kolam-kolam tersebut juga menawarkan paket kelas-kelas berenang untuk segala usia.

Nah, di sinilah mulai ketemu jawaban untuk pertanyaan di awal tadi. Apakah itu? Yakni para jagoan berenang selalu memiliki kesempatan untuk bekerja sebagai pelatih. Kebutuhan instruktur renang sangat tinggi. Selalu ada banyak kelas, mulai kelas berenang untuk bayi, untuk anak-anak, juga untuk dewasa. Masing-masing terdiri atas sekian level. Mulai sekadar melatih kemampuan berenang untuk keselamatan diri sendiri, lalu untuk menyelamatkan orang lain, hingga pelatihan kemampuan khusus berenang di laut.

Berenang memang disebut-sebut sebagai "part of Australian culture". Jeff melongo ketika saya cerita bahwa saya baru bisa berenang pada usia 28 tahun, itu pun cuma gaya kecebong, eh, kodok. Lebih melongo lagi dia ketika tahu istri saya sampai hari ini bahkan belum bisa berenang sama sekali.

Wajar saja dia heran, sebab di sini berenang merupakan kemampuan dasar yang seolah sudah disepakati sebagai kewajiban. Maka, sejak masih merah pun anak-anak sudah dilatih berenang dengan giat. Siapa yang membayari? Negara?

Halah, apa-apa kok negara. Bukanlah. Karena masyarakat memang gemar berenang dan merasa wajib memiliki kemampuan tersebut, kelas-kelas berenang berjalan dengan mekanisme pasar.

Sebagai gambaran, anak saya sekarang sudah masuk level 7, setiap Sabtu dia les renang, dan kami harus membayar 17 dolar hanya untuk kelas yang berjalan selama 30 menit saja. Setiap kali kami datang di Sabtu pagi, kelas-kelas lain berjalan, puluhan orang pesertanya. Itu baru hari Sabtu saja di kolam satu itu, belum di kolam-kolam lain. Belum di hari-hari yang lain.

Situasi demikian, sekali lagi, menciptakan kebutuhan guru berenang yang lumayan tinggi. Standar upah untuk guru renang pun bagus. Sementara rata-rata standar upah adalah 20 dolar per jam, seorang guru renang bisa mendapatkan 35 dolar untuk tiap jamnya.

Itu baru guru berenang. Belum kebutuhan akan lifeguard, alias tenaga penyelamat. Mereka wajib ada di kompleks-kompleks kolam renang maupun di pantai. Itu baru cabang berenang. Belum cabang-cabang olahraga yang lain.

Supervisor saya dulu di PEP Transport, David Bowes, memilih meninggalkan posisi bagusnya karena ingin menjadi instruktur sky diving. Itu sebagai contoh saja. Di olahraga beladiri, untuk ikut kelas Taekwondo, misalnya, orang harus membayar 20 dolar di tiap pertemuan selama 2 jam. Taruhlah peserta kelas itu 10 orang saja, maka sudah ada 200 dolar, dan pelatihnya bisa memperoleh penghasilan sangat cukup dengan mengajar beberapa kelas di tiap pekannya.

Mari bandingkan dengan di tempat kita. Saat ini memang sudah bermunculan kelas-kelas beladiri yang agak mewah, dengan biaya mahal, sehingga mudah-mudahan para pelatihnya juga lumayan sejahtera. Namun di tingkat kota-kota kecil, rata-rata murid perguruan beladiri hanya membayar iuran bulanan yang sangat murah. Barangkali apresiasi untuk pelatihnya pun hanya berupa pahala. Lalu bagaimana posisi pelatih beladiri bisa dijadikan sandaran penghidupan?

***

Oke, saya luruskan sedikit biar tidak terlalu bombastis. Pemerintah Australia memang menjalankan program penggajian untuk para "world class athletes", atlet-atlet Australia yang levelnya sudah internasional. Nilainya sekitar 35 ribu dolar pertahun. Banyakkah itu? Tidak. Itu jumlah gaji standar untuk pekerja biasa. Jadi kalau mau dibandingkan, ya ibaratnya atlet nasional Indonesia yang direkrut jadi PNS.

Penghasilan berupa uang bagi para atlet dewasa didapatkan dari hadiah-hadiah kejuaraan. Sumber lainnya adalah sponsor dan gaji dari klub (untuk anggota tim olahraga semisal bola tangan). Namun ingat, sumber-sumber rezeki tersebut tidak bersifat permanen. Saat tidak lagi aktif berlaga, sebenarnya situasinya tak terlalu beda dengan di Indonesia.

Nah, bedanya, masyarakat Australia memang menghidupi para atlet mereka. Yakni dengan kegemaran massal yang meletup-letup akan olahraga, kebutuhan tetap akan tenaga-tenaga pelatih, bahkan meluas lagi hingga kebutuhan atas berbagai kelengkapan penunjang.

Dari situ ekonomi bergerak, masyarakat sehat dan gembira, para olahragawan sejahtera. Semuanya berangkat dari gaya hidup yang mencintai gerak badan.

Nah, sampai di sini poinnya cukup jelas: kalau ingin maju, semua harus bekerja. Jangan melulu mengharapkan negara.

Sepertinya, "ekonomi olahraga" ala Australia layak ditiru, agar pelan-pelan kita bisa menghapus cerita pilu semacam mantan petinju nasional yang terpaksa mencuri demi sesuap nasi. Entah bagaimana memulainya. Sekadar senam SKJ di depan spanduk bertuliskan "Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat" tak akan cukup ampuh, dan bisa-bisa cuma menjadikan Minggu pagi kita terasa sangat Orba. Lalu bagaimana?

Nah, soal itu giliran Anda yang memikirkannya. Gantian, dong. Masak apa-apa harus saya? Haha!

Iqbal Aji Daryono praktisi media sosial, dan suka menulis di mana saja. Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed