Menghormati Pelayan Publik
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Kang Hasan

Menghormati Pelayan Publik

Senin, 10 Jul 2017 10:54 WIB
Hasanudin Abdurakhman
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Menghormati Pelayan Publik
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Dalam minggu ini terjadi 2 kali penamparan petugas keamanan penerbangan (aviation security). Yang pertama terjadi di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Yang kedua di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Sebenarnya ini boleh dibilang puncak gunung es saja. Ada lebih banyak kasus serupa yang selama ini tidak menjadi sorotan media, termasuk keributan di dalam pesawat.

Sebagian besar orang merasa tak nyaman dengan berbagai kerepotan yang dihadapi menjelang masuk pesawat. Barang-barang harus diperiksa dengan peralatan sinar-X. Tubuh kita harus dipastikan tidak membawa sesuatu yang terbuat dari logam. Kita harus melewati detektor logam. Dulu pemeriksaan tak seketat sekarang. Kita dulu tak perlu melepaskan ikat pinggang dan jam tangan. Kini hal itu harus dilakukan. Ini sungguh mengesalkan.

Tapi, kenapa semua itu perlu dilakukan? Itu semua untuk kita juga. Tak perlu penjelasan panjang lebar untuk itu. Penyelenggara penerbangan perlu memastikan bahwa setiap orang yang naik pesawat tidak membawa barang berbahaya. Terlebih dalam situasi seperti sekarang, ketika aksi teroris marak di berbagai tempat. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan keamanan dan keselamatan kita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kita merasa tidak nyaman karena merasa bahwa kita bukan teroris. Kita ingin agar orang lain saja yang diperiksa, bukan kita. Ingat, bagi petugas bandara, semua orang harus diperlakukan sama. Mereka tidak mungkin membeda-bedakan tiap orang. Lagi pula, meski merasa kita bersih dari barang berbahaya, ada saja kemungkinan kita lalai. Karena itu pemeriksaan diperlukan. Jadi harus disadari bahwa pemeriksaan itu bukan mengada-ada.

Memang selalu saja ada orang yang enggan mengikuti ketentuan yang berlaku terkait pemeriksaan ini. Mungkin ia adalah golongan orang yang biasa diistimewakan, misalnya orang kaya atau pejabat tinggi. Atau sekedar orang yang merasa bahwa ia harus diistimewakan. Biasanya ini adalah orang-orang yang belum sanggup pindah dari zaman feodal. Di masa lalu, khususnya di masa Orde Baru, ada banyak orang jenis itu. Nah, mereka lupa bahwa Orde Baru sudah tamat 20 tahun yang lalu.

Sebenarnya bukan hanya petugas keamanan bandara. Kita semua, pemakai sarana umum, dilayani oleh begitu banyak orang. Orang-orang itu bekerja memastikan kita melaksanakan hajat kita dengan nyaman. Ada satpam, petugas kebersihan, sopir kendaraan umum, pengangkut sampah, perawat, dan masih banyak lagi. Banyak dari mereka yang harus bekerja saat kita libur.

Bisakah kita bayangkan bagaimana bila mereka tidak ada atau tidak bekerja? Cobalah bayangkan Anda berkunjung ke mal yang tidak ada petugas pembersihnya. Apakah kita akan merasa nyaman? Atau, bayangkan bila dokter dan perawat juga libur saat hari libur. Apa yang akan terjadi?

Para pelayan kepentingan umum itu lebih sering tidak dirasakan keberadaannya. Sering pula tidak dihargai. Alih-alih bekerja sama untuk memudahkan tugas mereka, tak jarang pengguna layanan umum berbuat seenaknya, menambah beban pekerjaan mereka. Orang-orang dengan enteng buang sampah sembarangan. Orang-orang kaya, yang tangannya bersih, mengotori. Orang-orang dengan tangan yang kotor yang harus membersihkan. Bahkan ada pula yang sampai melecehkan dan menganiaya mereka.

Orang-orang itu bukan orang hina. Mereka adalah orang-orang terhormat, yang melakukan pekerjaan mulia. Kita banyak berutang budi pada mereka. Justru sebaliknya, yang melecehkan dan merendahkan merekalah yang merupakan orang hina.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia

(mmu/mmu)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads